Bapak Merokok, Fisik Dan Mental Anak Rusak

rokok333Seorang  yang merokok, akan berdampak pada lingkungannya. Terutama seorang bapak  yang merokok, maka fisik dan mental anaknya akan rusak. Karena rokok yang mengandung zat  karbon monoksida, setelah dihisap akan bertambah dengan zat karbon dioksida. Itulah sebabnya perokok pasif lebih bahaya dari yang merokok itu sendiri.

“rokok utuh saja 4000 lebih zat racunnya, ditambah lagi karbondioksida dari asap yang dihisap perokok. Maka orang disekelilingnya lebih menderita, tapi ini tidak disadari oleh orang kebanyakan,” ungkap Konselor Psikologi RSUD Panembahan Senopati Patrisias Susilo, saat diwawancarai di stand konsultasi berhenti merokok kampus terpadu UMY, Kamis (6/2).

Dampak asap rokok yang sangat jelas pada anak adalah batuk, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), sedangkan untuk tahap kronis bisa berdampak bronchitis dan kanker paru- paru pada anak. Hal tersebut menurut Patrisias, disebabkan zat karbon menempel pada zat karbon lainnya. Sehingga asap rokok akan hinggap di karbon yang terdapat disekelilingnya, yaitu orang tidak merokok yang berada disekitar itu.

“itu lah sebabnya perokok tidak boleh egois, merokoklah pada tempat yang disediakan. Kalau merokok diruang keluarga, ada anak kecil yang bermain atau tidur diruang itu akan menjadi masalah. Perlu diingat, sekitar tubuh kita penuh zat karbon seperti baju, rambut danlainnya, zat karbon rokok akan hinggap disana,” jelas  Patrisias.

Patrisias menerangkan dampak lain rokok pada anak, yaitu modeling dan lat sosialita bagi anak atau remaja. Anak yang melihat orang tuanya merokok, maka seorang anak akan berpikir untuk merokok juga saat dewasa nanti. sedangkan dalam lingkungan remaja menjadi sosialita, yang tidak merokok akan minder pada yang meroko, sehingga menjadi perokok.

“sekali orang merokok, maka akan sering melakukannya. Karena rokok itu zat adiktif, jadi rokok itu menyebabkan orang ketagihan,” jelas Konselor Psikologi RSUD Panembahan ini.

Patrialis juga menjelaskan, ketika seseorang menikmati nikotin memang akan merasa tenang. Tapi dampaknya stabilitas emosi orang tersebut akan terganggu, dan mempengaruhi daya otak. Jika dari seorang anak sudah menikmati nikotin, dewasa nanti stabilitas emosinya akan tergangggu.

“itu sudah terbukti secara klinis, tapi sayangnya banyak orang yang tidak peduli. Tugas kitalah untuk mengingatkan masyarakat. Dan masyarakat jangan sampai tertipu iklan rokok yang menampilkan pemuda kuat dan juara dalam olahraga, atlet itu harus sehat dan tidak merokok,” jelas Patrisias. (syah)

 

Ahlul Amalsyah

Journalist UMY