free hit counters
 

Kecewa Pada Ayah, Dosakah?

Nurul – Sabtu, 6 Rabiul Akhir 1435 H / 8 Februari 2014 13:08 WIB

ayah6Assalamualaikum Wr Wb.

Bu sejak kecil ayah saya bekerja di luar pulau, jauh dari keluarga. Selama ini saya selalu mengganggap beliau adalah sosok panutan yang sabar dan bertanggung jawab. Walau dalam setahun beliau hanya pulang1-2 kali saya sudah merasa cukup karena tiap minggu selalu disempatkan untuk menelpon sekedar menanyakan kabar dan kangen pada keluarga.

Namun 2-3 tahun belakangan ini beliau jarang sekali memberi kabar. Bahkan 2 tahun ini tidak ada kabar sama sekali. Selama ini beliau tidak pernah mau memberi tahu alamat tempat tinggalnya di sana dan tidak mau memegang handphone sehingga amat sangat sulit dihubungi.

Saya kasihan sama ibu karena katanya ayah sudah tidak pernah memberi nafkah lagi pada keluarga, saya sendiri baru saja lulus kuliah jadi masih belum mandiri. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, ibu berutang kiri kanan, bahkan belakangan hendak menjual rumah yang kami tempati.

Beberapa bulan ini saya mendapat informasi dari saudara saya, bahwa ayah ternyata menikah lagi, bahkan sudah memiliki 2 orang anak. Keluarga tidak ada yang tahu. Hanya saya yang tahu.

Duh ibu… Saya begitu kecewa, marah, dan sedih saat tahu jal itu. Jujur, saya bukan marah karena ayah berpoligami, tapi sikapnya yang tidak mau bertanggung jawab lagi pada keluarga itulah yang membuat saya amat sangat kecewa. Ramadhan tahun inipun tidak ada kabar sama sekalidarinya.

Lama-lama saya merasa timbul kebencian pada ayah, bu. Saya benci padanya yang menelantarkan keluarga dan membuatibusaya sedih. Sampai sekarang, ibu saya ataupun keluarga lain di sini tidak ada yang tahu masalah ayah menikah lagi. Dosakah saya bu kalau saya membenci ayah saya? Saya tidak ingin menjadi anak durhaka bu. Dan apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi permasalahn ini?

Terima kasih banyak bu atas jawabannya

Wassallamu’alaikum Wr. Wb

Assallamu’alaikum Wr. Wb

Mendapati kenyataan bahwa ayah yang selama ini kita kagumi dan hormati tenyata telah menghianati ibu tercinta serta ditambah sikapnya yang mengabaikan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Tentu amat mengecewakan hati dan serta merta menimbulkan rasa benci padanya. rasa kecewa, marah yang berujung pada kebencian adalah hal yang wajar terjadi dan sangat manusiawi. Karena siapapun yang hatinya merasa terlukai pastilah akan menimbulkan rasa benci dihatinya.



Tentunya rasa benci anda tetaplah dialamatkan pada sikap dzalimnya bukan pada ayah anda sebagai pribadi. Karena Allah sendiri tentu amat murka dengan kedhaliman ayah anda pada keluarga. Dan sebagai manusia tentu ayah anda adalah seorang manusia yang sedang khilaf dan perlu diingatkan kesalahannya. Saya rasa anda tidak perlu merasa menjadi anak durhaka karena membenci ayah atas sikap dzalimnya. Justru istilah durhaka mungkin akan lebih tepat bila diberikan pada ayah anda yang telah menelantarkan anak isterinya.

Menghadapi masalah ini, memang cukup rumit karena memaksa anda terus menyembunyikan fakta poligami yang dilakukan ayah kepada ibu dan keluarga yang lain. Namun bagaimanapun, cepat atau lambat ibu dan saudara anda yang lain pasti akan mengetahui hal ini. Sekarang yang paling penting adalah mendukung ibu agar tabah dan tegar tanpa kehadiran ayah. Sebagai anak tentu tugas anda untuk menguatkan perjuangan ibu yang kini berperan sebagai single parent. Tidak perlu menyesali perbuatan ayah apalagi fokus pada kebencian anda terhadapnya. Hal itu justru akan mengotori hati anda serta membuat anda sulit untuk menerima secara ikhlas cobaan dari Allah yang cukup berat ini.

Yakinlah, Allah tidak akan memberi cobaan sesuai kemampuan hambanya. Biarlah hanya Allah saja yang berhak menghakimi perbuatan ayah anda. Meski demikian, anda tetaplah berkewajiban mendoakan keselamatan beliau dan agar Allah memberikan hidayah dan petunjuk agar ayah anda segera menyadari kesalahannya pada keluarga yang telah sekian lama dilupakannya. Banyaklah berdoa pada Allah agar mendapat banyak pula kesabaran. Wallahualam bishawab

Wassalamualaikum wr. wb.

Konsultasi Keluarga Terbaru

blog comments powered by Disqus