Salah Paham tentang Mihnah (8)

KRISIS AKHLAQ GERAKAN ISLAM
Sebuah Upaya Rekonstruksi Gerakan Islam Masa Depan

Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy*

B10. Logika Mahabbah

Ketika kita mampu membangun zikir di dalam hati, membesarkan asma Allah dan sifat-sifatnya yang mulia di dalamnya, kita mampu mengenyahkan setiap kelalaian yang mengajak kita terbuai dengan dunia dan kenikmatannya.

Kita membayangkan segala musibah dan derita yang menimpa kita dan bagi kita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan Allah yang melimpah ruah. Lalu, kita mampu istiqamah dalam kondisi seperti ini, sehingga dunia tidak nampak di depan mata kita, kecuali hanya umpama lembaran putih bersih yang ditulis di atasnya sifat kebesaran Allah. Maka, setiap kenikmatan yang terulur dari tangan salah satu kita adalah salah satu bukti sifat Allah sebagai pemberi nikmat yang hakiki. Dan juga kesempurnaan yang mewujud dalam ciptaannya, hakikatnya merupakan kilas balik bagi sifat sempurna dari sumber kesempurnaan yang hakiki.

Keindahan yang nampak di depan mata kepala kita dan menyedot seluruh perasaan kita hakikatnya adalah bentuk pancaran keindahan yang bersumber dari creator segala keindahan. Segala ilmu pengetahuan yang membuat dada kita penuh adalah karunia setitik dari lautan ilmu dari Yang Maha Mengetahui.

Kami katakan, jika hati kita dalam kondisi sadar dengan hakikat besar ini, dan kita hidup dengan kondisi seperti ini sepanjang usia, maka kita akan hidup di bawah naungan mahabbah yang membuncah terhadap Tuhan langit dan bumi. Karena jalinan sifat-sifat mahabbah telah mengait hati kita dan mengikatkan kita ke arah sumber segala mahabbah yakni Allah swt, segala keinginan akan menyatu dalam keinginan tunggal tidak ada duanya, seluruh yang dicinta akan bertemu setelah sebelumnya berpencar dalam fenomena dan sebab-sebab yang bermacam-macam.

Hati kita menderu dalam mabuk mahabbah, dan kita bermunajah kepada yang Maha Esa, mengungkapkan kerendahan diri kita di hadapannya dari hati kita yang paling dalam :

Dulu hatiku tertawan oleh berbagai keinginan
Lalu keinginan itu menjadi padu karena mataku melihat hakikat keiginan itu
Orang yang dulu aku iri padanya sekarang menjadi iri padaku
Aku menjadi pemimpin manusia sejak Engkau menjadi pemimpinku
Aku biarkan manusia menggeluti dunia dan urusann mereka
Kini aku sibuk mengingat-Mu wahai agama dan duniaku

Hilanglah batas pembeda antar segala kepedihan akan musibah yang menimpa kita dan lezatnya nikmat yang kita rasa, selama keduanya adalah lahir dari ketentuan dan kehendak Allah.

Bahkan seorang pecinta akan selalu merasa nikmat dengan tunduk terhadap setiap yang dipilihkan oleh yang dicintai, sebagai ungkapan kedalaman dan kesungguhan cintanya.

Seperti inilah perasaan cinta para Nabi dan Shiddiqin. Dalam rengkuhan cinta inilah para Rabbaniyyin melintasi jembatan hidup mereka, dalam gelombang derita dan kesulitan yang selalu menenggelamkannya dalam arus cinta yang mati rasa, tak pernah terdengar sedikitpun keengganan, pembangkangan atau bahkan gugatan akan setiap keputusan Allah swt atas mereka.

Semakin tinggi gelombang ujian menggulung mereka, maka semakin hatinya tenggelam dalam arus cinta dan rindu yang lebih dalam kepada yang mengujinya.

Ketika tanda-tanda kematian mendekati Rasulullah saw, ditimpakan kepadanya derita dari segala sisi, maka semakin tenggelam Beliau dalam munajah kepada Allah sambil berkata : “Allah, aku akan berjumpa dengan yang Maha Mulia…Allah, aku akan berjumpa dengan Yang Maha Mulia…”

Ketika sahabat Mu’adz bin Jabal ra menemui ajalnya, ia mengalami naza’ yang sangat hebat, setiap dia sadar dari perangkap kematian maka ia buka matanya dan berkata : “Cekiklah aku dengan cekikan-Mu yang lebih dahsyat, demi kemuliaan-Mu, Engkau pasti tahu hatiku begitu dalam mencintai-Mu.”

Imran bin Hushain ra menderita lumpuh total di atas ranjangnya selama kurang lebih tiga puluh tahun. Ketika tubuhnya tinggal kulit dan tulang, datanglah saudaranya sambil menangis menghiba-hiba, Imran pun berkata kepadanya : “Apa yang engkau tangisi ? saudaranya menjawab : “Sakit yang engkau alami wahai saudaraku.” Imran pun berkata : “ Janganlah engkau menangis, kalau memang sakit ini membawa cinta kepada Allah maka sakit ini juga aku cintai.

Ketika Allah swt memuliakan kita dengan bantuannya dan memberikan kepada kita kenikmatan mahabbah ini, maka akan hilanglah segala macam kegelisahan yang menghantui kita dan lumpuhlah seluruh tarikan syahwat, hati kita pun tenggelam dalam kenikmatan yang tidak bisa digambarkan kecuali oleh orang yang merasakannya. Bahkan seluruh kesenangan duniawi menjadi rendah di bawah kebesaran mahabbah terhadap Allah yang telah menguasai hati kita.

Dalam puncak mahabbah ini, kadang-kadang para pecinta terpeleset dalam syathahat (kalimat yang meluncur begitu saja diluar kendali dirinya), seperti menyatakan zuhud akan surga dan kenikmatannya, atau tidak peduli dengan neraka dan pedihnya adzab, karena hatinya telah mati rasa dari kenikmatan dunia dan dari ketakutan akan kehilangan, menuju ketergantungan diri kepada Dzat Allah swt semata dan tenggelam dalam rasa rindu bertemu dengan-Nya, ia tidak menikmati kecuali kedekatan dengan-Nya dan melihat wajah-Nya yang mulia.

Kondisi inilah yang membawanya untuk menunggu segala musibah dan ujian Allah, mengumumkan cintanya kepada Allah di balik kepedihan dan kepayahannya dan mengungkapkan kerelaannya akan setiap keputusan yang diberikan Allah kepadanya.

Namun kesempurnaan adab terhadap Allah menafikan syathahat-syatahat di atas. Mereka yang tepeleset dalam syatahat di atas dimaafkan karena mereka dalam kondisi tidak sadar, kondisi di mana perasaan mereka telah menguasai pikiran mereka.

Rasulullah saw sebagai hamba Allah yang paling cinta kepada-Nya selalu memohon akan kebaikan dalam setiap musibah yang menimpanya, ketika musibah datang maka beliau akan ridha, sabar dan mengharap pahala dari Allah swt. Dan dalam doanya beliau selalu mengungkapkan permohonannya akan surga dan terhindar dari neraka.

Sebagian mereka dalam kedalaman rasa cinta yang menguasai hati mereka bersyair :

Siksalah aku sesuka-Mu
Tapi jangan jauhkan aku dari-Mu
Pasti Engkau dapati aku adalah kekasih setia
Yang selalu menghiba ridha-Mu

Kemudian Allah mengujinya dengan tidak bisa buang air kecil, ia merasakan betapa hebat sakit yang di deritanya, lalu ia keluar menemui anak-anak yang ada di jalanan sambil memberi mereka uang dirham sambil berkata : “Berdoalah kepada Allah untuk paman kalian yang pembohong ini.”

Apapun kondisinya, jika mahabbah ini dikendalikan oleh syariat, maka cinta itu akan membawa kita kepada maqam yang tinggi di sisi Allah, sebagaimana yang telah dicapai para salafus shalih dan rabbaniyun. Mahabatullah adalah solusi paling besar bagi aneka musibah dan ujian yang kita hadapi di dunia ini.

Jika hati kosong dari mahabbah kepada Allah, maka tarikan nafsu syahwat dan tipuan keindahan dunia akan menyusuip ke kedalaman hati kita, karena hati kita tidak mungkin ada dalam kekosongan rasa, pasti ada keterkaitan dengan perasaan, apapun perasaan itu, hati ibarat seperti kaca yang pasti akan memantulkan gambar. Apabila hati tidak dipenuhi dengan cinta kepada-Nya maka sudah pasti akan dipenuhi dengan cinta kepada selainnya yang ada di alam semesta ini.

Hati seperti ini akan merasa sakit dan pedih atas aneka musibah dan penderitaan yang menimpa, karena hati yang dipenuhi dengan hawa nafsu. Semakin tinggi intensitas ketergantungan hati dengan hawa nafsu, maka semakin pedih hati menderita dan semakin berat untuk sabar dan lemah untuk menanggungnya.

Karena itulah ulama tauhid bersepakat untuk menjadikan mahabbah sebagai salah satu rukun utama bagi bangunan iman dan Islam seseorang.

Mungkin ada yang menyangkal kebenaran ini dengan mengatakan bahwa mahabbatullah hanyalah sebatas ketaatan kita kepada-Nya. Mahabbatullah yang terbit dari hati kita adalah hal yang tidak mungkin, karena hati selalu berkaitan dengan benda-benda yang bisa diindera, dan Allah bersih dari keterkaitan seperti ini.

Perlu kita ketahui, bahwa orang yang berakal pasti faham bahwa cinta adalah pendorong bagi ketaatan, dan bukan ketaatan itu sendiri. Karena setiap ketaatan pasti membutuhkan pendorong untuk melakukannya, dan tidak ada pendorong yang utama kecuali keimanan kita kepada Allah yang dipenuhi dengan rasa cinta. Semakin tinggi cinta kita maka semakin kuat ketaatan kita, begitu pula sebaliknya. Kalau bukan karena hakikat ini, tidak mungkin sahabat Rasulullah saw berbeda kadar ketaatan dan kemampuan memikul tanggung jawab mereka, sekalipun mereka memiliki kesamaan iman.

Tidak benar jika dikatakan bahwa hati tidak terkait kecuali dengan hal-hal yang diindera saja. Betapa sering hati kita terbawa oleh rasa cinta terhadap hal-hal yang kasat mata dan tak berbentuk, seperti ilmu, kemuliaan, berani, kasih sayang kecerdasan dan lain sebagainya. Bahkan hati kita memiliki kondisi yang aneh dan unik, tidak ada yang tahu hakikat dan rahasia sesungguhnya kecuali penciptanya yang Maha Agung dan Bijaksana. Siapa di antara hamba Allah yang mampu menguasai tarikan naluri dan mengatasi rasa rindu.

Kondisi para salafush shalih dan rabbaniyyin, yang mana hatinya diharu biru oleh cinta mereka yang membuncah, menjadi bukti kuat kesalahan pendapat mereka dan pengingkaran mereka terhadap realitas yang sangat jelas dan nyata.

Kalau memang mahabbatullah itu hanya sebatas ketaatan kita saja, maka apa arti ucapan sahabat Muadz bin Jabal ra : “Demi keagungan-Mu ya Allah, Engkau tahu betapa besar hati ini mencinta-Mu.” Apakah ada selain hati yang penuh dengan cinta ini yang mampu mengungkapkan kalimat yang agung ini.

Lalu apa makna firman Allah swt :

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya.” (QS. Al Maidah : 54)

Dan yang lebih ironi lagi, orang-orang yang mengingkari majaz dalam Al Quran, mereka menolak takwil terhadap firman Allah :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha : 5)

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Tangan Allah di atas tangan mereka.” (QS. Al Fath : 10)

Mereka menyatakan bahwa ini adalah sikap menjadikan Allah berbentuk, menyamakan Allah dengan makhluk, lalu ketika mereka mendengar firman Allah yang lain cepat-cepat memberikan takwil seperti yang tertera dalam firman (wayuhibbunahu) dengan ketaatan dan mengikuti perintah, padahal tidak ada sama sekali faktor yang mendukung berlakunya majaz dan takwil. Kita tidak tahu kaidah macam apa yang mereka jadikan pegangan dalam menerima dan menolak sebuah takwil.

Namun bagi para pecinta ilahi, hati mereka telah mereguk nikmat cinta kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beragama hanya dengan pikiran dan logika semata, maka hati mereka terpenjara oleh tembok dunia yang sempit, berputar semau-maunya dalam lingkaran nikmat lahir dunia, seperti kambing yang tertawan dalam pusaran padang rumput, wajar jika mereka tidak pernah memahami cinta ilahi dan pengaruh kuatnya dalam hati para pecintanya.