Dapatkah Capres Melaksanakan Amanah Umat Islam?

Mega, SBY, dan JK, ketiganya berlomba mendapatkan dukungan umat Islam. Mereka menggalang tokoh-tokoh umat Islam, Ormas Islam, dan Partai-Partai Islam dan berbasis umat Islam. Tujuannya mendapatkan suara pada pilpres, Juli nanti. Para tokoh umat Islam, Ormas Islam, dan Partai-Partai Islam sudah tergalang, dan ada yang memberikan dukungan kepada Mega, SBY, dan JK. Siapa diantara mereka yang akan sungguh-sungguh melaksanakan amanah yang sudah diberikan umat Islam?

Mega, Ketua Umum PDIP, melalui suaminya Taufiq Kemas, berusaha menyakinkan umat Islam, dan membentuk wadah organisasi, Baitul Muslimin (Bamus), yang belum lama dideklarasikan di Jakarta. Bamus didirikan oleh PDIP, tujuannya menjadi sarana penggalangan dukungan bagi kalangan Islam. Selama ini, PDIP, partai yang memiliki karakter ideologi nasionalis-sekuler. Mega-Pro, juga mendekati sejumlah ulama, diantaranya Zaenuddin MZ, ulama Betawi, yang pernah mendapatkan julukan ‘da’i sejuta umat’.

SBY, mendirikan kelompok-kelompok Majelis Dzikir, seperti Majelis Dzikir Nurussalam, dan hampir di tiap propinsi ada model Majelis Dzikir, yang apiliasinya kepda SBY. SBY terkadang menyelenggarakan acara dengan kelompok Majelis Dzikir di rumahnya Cikeas. SBY, juga memiliki tokoh ulama, yang sangat dipercaya, KH.Abdurrachman al-Habsy dan KH.Syech Ali Akbar Marbun. SBY, didukung partai-partai Islam dan berbasis umat Islam, seperti PKS, PAN, PPP, dan PKB, ditambah 25 partai kecil, diantaranya partai Kristen PDS.

JK, mendapat dukungan dari NU, Muhammadiyah, BKMT (Badan Kontak Majelis Ta’lim), para ulama seperti KH.Hasyim Muzadi, Prof.Din Syamsuddin, dan para ulama di pondok pesantren. Sejak mendeklarasikan sebagai calon presiden (capres), JK melakukan penggalangan tokoh ulama, kiai di pondok pesantren, di berbagai daerah di pulau jawa dan luar jawa. Langkah penggalangan itu terus berlangsung.

Tentu, bertambah dekatnya pilpres, intensitas pendekatan yang dilakukan para capres bertambah meningkat, karena mereka menginginkan dukungan dari simpul-simpul umat. Merekan berusaha menjelaskan segala hal, yang menjadi tujuan, cita-cita, serta komitement mereka terhadap Islam dan umat Islam.

Sebaliknya, para tokoh ulama, ormas Islam, dan ketua partai-partai Islam, sebagian memberikan dukungan dan komitment kepada capres-capres yang ada, lebih banyak hanya dipengaruhi faktor elektabilitas atau peluang yang paling tinggi kemungkinan menangnya atau mendapat dukungan rakyat. Para tokoh ulama, ormas Islam, dan ketua partai-partai Islam berbasis umat Islam, mereka mendukung terhadap capres-capres itu, tidak didasarkan dengan pemahaman yang mendalam atas karakter, ideologi, komitmentnya kepada Islam dan umat Islam dari para capres.

Pandangan Kaidah Syar’iyah DSP (Dewan Syariah Pusat) PKS Dr.Surahman HIdayat :

Pilihan dari kalangan partai-partai Islam dan partai berbasis umat Islam,  khususnya PKS terhadap tokoh capres dan cawapres, seperti terhadap SBY-Boediono, menggunakan kaidah dasar atau dalil syar’i, ketika memilih capres dan cawapres, yaitu memilih mana yang memiliki maslahat (masholih) yang lebih besar. Pilihan itu, di ta’wilkan seperti jihad bersama pemimpin yang fajir, kefujurannya merugikan dirinya, sedangkan kemaslahatan jihad melumpuhkan musuh dakwah adalah untuk kemaslahatan umum. Hal ini, juga dita’wilkan seperti jangan tinggalkan shalat berjamaah bersama seorang pemimpin (imam), meski ia seorang yang tidak baik (fajir). Karena bagi ma’mum tetap berpahala shalat berjamaah, tidak ada ruginya. Sebab, kefajiran pribadi pemimpin dalam hal shalat berjamaah dapat menjad pengurang pahala pribadinya, sedangkan kemaslahatan serta pahala shalat berjamaah tetap didapat ma’mum, tanpa berkurang.

http://pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=7427

http://www.dakwatuna.com/2009/menimbang-manfaat-yang-lebih-besar-fiqih-muwazanat/

Para fuqaha, membuat kategorisasi antara kebaikan yang terbatas (al-khairul qashir) dengan kebaikan yang berdampak luas (al-khairul muta’addi). Konteknya, kemaslahatan umum yang luas (al-khairul muta’addi) yang harus lebih dipertimbangkan, sedangkan kemaslahatan terbatas (al-khairul qashir),hanya lebih bersifat pribadi. Seperti, masalah penggunaan masalah jilbab (kerudung), bagi seseorang itu bersifat pribadi? Lalu, jika tidak terpenuhi keduanya, maka lebih mengutamakan yang memiliki dampak yang bersifat umum dan luas (al-khairul muta’addi).

Dalam perspektif masa depan umat Islam di Indonesia, kepemimpinan Indonesia yang akan datang,diharapkan mereka yang dapat menjaga amanah dari umat. Umat tidak lagi hanya sekadar menjadi pendorong ‘mobil mogok’, dan ketika mobil jalan, umat Islam ditinggalkan lagi.

Mega, SBY, dan JK, ketiganya sudah melakukan pendekatan dan penggalangan terhadap umat Islam, melalui tokoh ulama, ormas Islam, dan partai-partai Islam dan berbasis umat Islam. Sementara itu, sebagian ulama, tokoh ormas Islam, dan partai-partai Islam dan berbasis Islam, memberikan dukungan kepada masing-masing pilihannya. Siapa diantara mereka yang layak, dan benar-benar akan melaksanakan amanah umat?

****

Kami redaksi menyampaikan terima kasih atas perhatian kepada pembaca yang telah mengeluarkan pendapat dan pandangannya.Kami mengharapkan pendapat dan pendangannya, yang benar-benar bermanfaat bagi masa depan umat Islam. Selanjutnya, rubrik dialog sebalumnya kami tutup, dan mohon maaf. Redaksi