PKS Kawin dengan Demokrat, Perbaikan Bagi Indonesia?

Keputusan Lembaga Tertinggi PKS, Majelis Syuro, yang melakukan musyawarah di Hotel Bidakara, Jakarta, tanggal 25-26 April ini, secara difinitip telah mengokohkan koalisinya dengan Partai Demokrat. Musyawarah Majelis Syuro yang berlangsung dua hari itu, mengambil langkah-langkah politik yang dipandang penting, sesudah usai pemilu legislatif, yaitu memasuki tahapan berikutnya yang berkaitan dengan pilpres mendatang, dan menentukan arah kebijakan koalisi.

PKS, sebelumnya telah membentuk ‘Tim 5’, yang terdiri dari Presiden Partai, Tifatul Sembiring, Ketua Majelis Pertimbangan Partai Suharna, Ketua Pusat Dewan Syariah, Surachman, Ketua Fraksi PKS Mahfudz Sidik, dan Ketua Dewan Pakar Suripto, yang selanjutnya melakukan komunikasi politik dengan ‘Tim 9’ dari Partai Demokrat. Nampaknya, baru PKS, satu-satunya partai politik yang sudah mengikat ‘janji’ koalisi, dan sudah mendapatkan legitimasi kuat dari Majelis Syuro.

Menurut informasi yang dapat dipercaya dari internal PKS, musyawarah Majelis Syuro, juga menetapkan tiga orang Cawapres yang bakal dimajukan kepada Presiden SBY, sebagai calon yang akan mendapinginya di Pilpres Juli nanti. Tiga calon yang  dimajukan kepada Presiden SBY itu, antara lain Ketua MPR. Dr. Hidayat Nurwahid, Presiden PKS, Ir. Tifatul Sembiring, dan Dubes Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Dr. Salim Segaf al-Jufri. Sebelumnya, dalam musyawarah yang berlangsung beberapa bulan lalu, Majelis Syuro PKS menetapkan calon presiden yang jumlahnya delapan orang.

PKS dengan langkah meyakinkan memutuskan berkoalisi dengan Demokrat, dan mendukung Presiden SBY sebagai bakal calon presiden yang akan datang. Ini langkah politik PKS yang merupakan kelanjutan dari pemilu legislatif, yang meskipun hasilnya belum ditetapkan oleh KPU.

PKS yang merupakan Partai Dakwah, yang mempunyai slogan partai, bersih, peduli, dan professional, melanjutkan ‘koalisi’ dengan Demokrat dan SBY untuk lima tahun yang akan datang. Sebelumnya, PKS sudah melakukan koalisi dengan Demokrat dan mendukung SBY, pada pilpres tahun 2004.

Bagaimana menurut pendapat anda dengan adanya keputusan PKS, yang mengulangi kembali koalisi dengan Demokrat dan dukungannya kepada SBY ini? Adakah akan menjadi solusi, perbaikan dan perubahan bagi masa depan Indonesia, di tengah-tengah kondisi yang ada sekarang. Dan, apakah ini sebuah keputusan yang tepat bagi masa depan Islam dan umat Islam Indonesia di masa depan?

+++
Redaksi mengucapkan terima kasih atas partisipasi pembaca dalam komentar dialog di edisi sebelumnya. Semoga bermanfaat untuk kita semua.