Layakkah Soeharto Menjadi Pahlawan Nasional?

Bekas Presiden Soeharto resmi diusulkan menjadi pahlawan nasional. Dia bersama bekas Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena dan bekas Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, termasuk dalam 10 nama yang lolos dalam seleksi di tingkat Kementerian Sosial. “Itu baru lolos di tingkat Kemensos. Presiden belum memutuskan,” kata Sekretaris Kabinet Dipo Alam saat dihubungi, Ahad (17/10).

Menurut Dipo, sebelumnya masyarakat mengajukan 18 nama sebagai pahlawan nasional. Kemudian Kementerian Sosial menyeleksinya dan meloloskan 10 nama.

Selain Soeharto, ada 9 nama lagi yaitu J. Leimena dari Maluku, Ali Sadikin yang diusulkan dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulawesi Tengah, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Jawa Timur), dan Abraham Dimara (Papua). Ada juga Andi Makasau (Sulawesi Selatan), Andi Depu (Sulawesi Barat), Pakubuwono X (Jawa Tengah), dan Sanusi (Jawa Barat).

Menurut Dipo, sebelum sampai ke tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, nama-nama itu akan diseleksi lagi oleh Dewan Gelar, Tanda Kehormatan, dan Tanda Jasa. “Di sini bisa mengerucut lagi,” katanya.

Dia menjelaskan, pemerintah menyeleksi secara ketat nama-nama itu. “Banyak yang dipertimbangkannya,” ujarnya lagi. Selain soal jasanya bagi bangsa dan negara, juga pertimbangan hukum.

Dalam kasus Soeharto, kata dia, pemerintah juga mengkaji soal Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pasal 4 Tap MPR itu menyebutkan soal pemberantasan korupsi terhadap siapapun, termasuk Soeharto dan kroni-kroninya.

“Nah, yang seperti itu bagaimana? Kami juga mengkajinya. Termasuk impeachment terhadap Gus Dur,” kata Dipo.

Sekarang Golkar di Rapimnas I meminta Soeharto dijadikan pahlawan. nasional. "Mayoritas DPD meminta DPP agar mengusulkan dan memperjuangkan kepada pemerintah untuk Pak Harto sebagai pahlawan nasional", ujar Firman Soebagio, Ketua DPP Golkar.

Jauh sebelumnya, pada 10 Desember 2008, PKS pernah membuat iklan berdurasi 31 detik dengan narasi: ”Mereka sudah lakukan apa yang mereka bisa, mereka sudah beri apa yang mereka punya, mereka guru bangsa kita, mereka pahlawan kita, mereka motivator kita, mereka ilham bagi masa depan kita. Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS untuk Indonesia sejahtera.” Visualisasinya menampilkan sosok Soekarno, Soeharto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.

Iklan itu menimbulkan kontroversi panjang, terutama lantaran sosok Soeharto. Sebagian kalangan menolak penahbisan sang Jenderal Besar sebagai pahlawan dan guru bangsa. Sebagian kalangan langsung menaruh PKS sebagai partai antireformasi.

Sementara itu, Fajrul Rahman, mempertanyakan tim yang menggodok nama-nama calon di Kementerian Sosial, "Siapa 11 orang yang menyetujui Soeharto, dan siapa dua orang yang menolak, yang kita tahu adalah Salim Segaf (Menteri Sosial), dari PKS ", ujarnyah. berbagai sumber.

+++

Dengan ini rubrik dialog sebelumnya kita tutup, dan kami menyampaikan terima kasih atas perhatian para pembaca.