Komandan Pasukan Inggris: Tentara Koalisi Tidak Akan Pernah Menang Melawan Taliban

Senin, 06 Okt 2008 15:59 WIB Cetak |  Kirim

Brigadir Mark Carleton-Smith, komandan militer Inggris mengakui ketangguhan Taliban. Menurutnya, pasukan asing pimpinan AS di Afghanistan, tidak akan pernah bisa mengalahkan Taliban dan satu-satunya cara untuk menyelesaikan problem Afghanistan yang muncul akibat invasi AS ke negeri itu adalah dengan berdialog dengan Taliban.

"Kita tidak akan pernah memenangkan perang ini. Terlalu hebat dan tidak realistis jika berpikir bahwa pasukan koalisi pimpinan AS bisa membebaskan Afghanistan dari Taliban," kata Brigadir Carleton-Smith pada The Sunday Times, edisi Minggu (5/10).

Pasukan koalisi AS menumbangkan pemerintahan Taliban di Afghanistan dalam invasinya ke negeri itu setelah serangan 11 September 2001 di AS. Sebagai penggantinya, AS mengangkat presiden Hamid Karzai sebagai pemerintahan bonekanya di Afghanistan. Selama tujuh tahun penjajahan AS di Afghanistan, Taliban terus melakukan perlawanan terhadap pasukan koalisi AS.

Gubenur Helmand-salah satu provinsi di Afghanistan-Gulab Mangal pekan kemarin mengatakan bahwa kekuatan Taliban sudah berhasil mengontrol lebih dari setengah provinsi di selatan Afghanistan meski di wilayah itu ditempatkan sekitar 8.000 pasukan Inggris. Dan menurut laporan terbaru lembaga think-tank Senlis Council, Taliban sudah berhasil menempatkan pasukannya secara permanen di lebih dari setengah wilayah Afghanistan.

Melihat kondisi itu, Brigadir Carleton-Smith menyarankan agar dilakukan dialog dengan Afghanistan untuk menyelesaikan konflik di negeri itu. Sejumlah negara yang mengirimkan pasukannya untuk bergabung dengan pasukan AS dalam invasinya ke Afghanistan, belakangan lebih meyakini bahwa negosiasi dengan Taliban adalah satu-satunya jalan keluar untuk mengakhiri konflik di Afghanistan. Namun Washington menolak ide itu.

Pembicaran Damai Rahasia

Sementara itu, sejumlah sumber mengungkapkan bahwa pemerintahan Afghanistan dan sejumlah perwakilan Taliban telah melakukan negosiasi perdamaian secara rahasia di kota Makkah, Arab Saudi bulan September kemarin.

Laporan CNN menyebutkan, Raja Saudi, Raja Abdullah menggelar bukan puasa bersama dengan 17 anggota delegasi Taliban untuk menunjukkan komitmen Taliban mengakhiri konflik di dalam negerinya sejak invasi pasukan koalisi AS yang memporakporandakan Afghanistan. Dalam pertemuan itu, menurut CNN, delegasi Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan menetapkan garis besar tentang posisi dan tujuan bersama mereka dengan suasana terbuka.

Seorang sumber yang mengetahui jalannya pertemuan tersebut mengatakan, semua pihak setuju bahwa persoalan-persoalan yang terjadi di Afghanistan selayaknya diselesaikan dengan cara dialog dan bukan dengan peperangan.

Sebelumnya, Presiden Afghanistan Hamid Karzai meminta Raja Abdullah untuk menjadi mediator pembicaraan damai antara pemerintah Afghanistan dan Taliban. "Persiapan untuk negosiasi dilakukan hampir setiap hari. Utusan-utusan jadi lebih sering melakukan kunjungan ke Arab Saudi dan Pakistan. Tetapi pada saat itu negosiasi belum dimulai," kata Karzai.

Saudi dipekirakan akan menjadi tempat negosiasi-negosiasi selanjutnya antara pemerintah Afghanistan dan Taliban. Arab Saudi adalah satu dari tiga negara yang mengakui pemerintahan Taliban saat naik ke tampuk kekuasaan di Afghanistan pada tahun 1996. (ln/iol/prtv)


(Arsip Dunia Islam)

PELUANG

ACT - ERAMUSLIM

Masyarakat Relawan Indonesia & ACT Bantu Korban Gempa Gorontalo

Iman Hadi Waluyo, relawan ACT yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Gorontalo melaporkan bahwa gempa yang menewaskan empat orang ini, telah membuat sebagian besar warga Gorontalo berhamburan keluar rumah karena panik dan ketakutan akan terjadi gempa susulan, dan bahkan di daerah pesisir warga pun telah mengungsi ke bukit-bukit.

LKC - ERAMUSLIM

Kembali Fitri di Akhir Ramadhan dengan Menyantuni Dhuafa

Dengan menyisihkan Rp 100.000,- Anda telah membantu 1 keluarga miskin menkmati kesehatan selama 1 bulan

NURISLAMI - ERAMUSLIM