Dakwah di Balik Ketika Cinta Bertasbih

Muhammad Nuh – Senin, 13 Syawwal 1429 H / 13 Oktober 2008 17:06 WIB

Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) mulai memasuki proses syuting. Kabarnya, tanggal 18 Oktober ini, seluruh pemain dan kru sudah mulai berada di Mesir.

Di negeri yang terdapat kampus Al-Azhar sana, lima pemain utama yang tergolong baru dalam dunia film ini akan benar-benar diuji kematangan aktingnya. Mereka adalah M Cholidi sebagai Khairul Azzam, Alice Norin sebagai Eliana, Oki Setiana Dewi sebagai Anna, Andi Arsyil sebagai Furqon, dan Meyda Safira sebagai Ayatul Husna.

Eramuslim sempat menyaksikan latihan akting para calon bintang yang saat itu dibimbing sang sutradara sendiri, Iman Chaerul Umam. Tampak, Mas Mamang, begitu sapaan akrab sutradara kawakan ini, begitu strik dan teliti melatih para pemainnya.

Hampir setiap hari, dalam persiapan sepuluh hari di Jakarta, Mas Mamang melatih mereka sejak jam satu siang hingga jam sepuluh malam. "Sudah agak lumayanlah," ucapnya mantap.

Berikut penuturannya.

Bagaimana perkembangan latihan pemain?

Sudah agak lumayanlah. Mereka sudah sedikit-sedikit hafal. Berbeda dengan pembuatan sinetron, misalnya. Mereka disodorkan dialog di lapangan. Mereka harus hafal di lapangan. Belum lagi harus hafal dengan karakternya.

Paling tidak, mereka saat ini sudah hafal dialognya. Sudah mengerti tentang karakternya. Nanti, tinggal penyutradaraan saja.

Apa sepuluh hari cukup untuk penguasan materi?

Ini untuk dasar saja, untuk hafal dan mengerti. Tapi, menguasai belum. Kalau menguasai nanti di tangan penyutradaraan. Nanti di sana, tambah sepuluh hari lagi.

Hambatan selama ini?

Nggak ada, saya kira. Lancar-lancar aja. Paling audisinya yang terlalu panjang.

Berapa lama memangnya?

Dua atau tiga bulan gitu. Karena sembilan kota, kan. Dan itu beberapa kali tingkat. Tingkat pertama, sepuluh orang menjadi dua orang misalnya. Nanti, tingkat berikutnya, seluruh kota kumpul.

(Audisi dimulai sejak 23 Mei 2008. Pertama audisi di kantor Sinemart di Kedoya Jakarta. Kemudian di Surabaya, Semarang, Yogya, Bandung, Banjarmasin, Medan, Makassar, Padang, dan tentunya di Jabodetabek.)

Kenapa harus dengan cara seperti itu?

Supaya lebih sempurna lah. Meskipun kesempurnaan mutlak juga nggak bisa. Karena mereka sangat baru, nol sekali mereka. Mereka dilihat dari bakat, bisa disutradarai. Paling kriterianya itu saja.

Kenapa nggak diambil yang sudah jadi saja?

Kita kepinginnya yang masih segar. Selain itu, agamanya juga bagus. Mungkin ada yang agamanya bagus, tapi belum pernah muncul di sinetron-sinetron, misalnya. Kita ingin memberikan kesempatan kepada mereka.

(Selain lima pemain utama tadi, beberapa pemain kawakan dikabarkan ikut serta di KCB. Di antara mereka ada Didi Petet dan Dedi Mizwar. Sang penulis, Habiburrahman pun ikut main.)

Sebenarnya apa gagasan film KCB dari sudut pandang keislaman?

Ya, novelnya itu sendiri kan sudah Islami. Jadi, kisah cinta tetap. Kisah cinta yang dihubungkan dengan kecintaan kepada Allah. Bukan sekadar kisah cinta antara sesama manusia. Tapi harus dengan keridhaan Allah.

Bedanya dengan kisah-kisah cinta yang lain, ini melibatkan Allah.

Gimana dengan tuduhan kalau KCB menempelkan Islam dalam kisah cintanya?

Menempelkan gimana, ya. Lha Islam sendiri itu kan bisa untuk macam-macam kok. Artinya, kan lebih baik Islami daripada tidak Islami. Jadi, bukan menempelkan atau mengeksploitasi nilai Islam.

Saya kira, Islam bisa masuk untuk segala sektor kehidupan. Semua disiapkan oleh Islam. Mau apa aja. Mau budaya bisa, politik bisa, ekonomi bisa. Begitu pun dengan bersinetron dan berfilm.

Sebenarnya kita sedang mengaplikasikan ajaran Islam di semua sektor kehidupan, termasuk dalam film.

Apa nggak melawan arus?

Nggak juga. Saya kira, tema-tema Islami sudah lama. Sejak di zaman Asrul Sani tahun lima puluhan sudah ada film Tauhid, di bawah Lindungan Ka’bah.

Saya sudah buat film Islam sejak tahun tujuh puluhan. Di antaranya, Al-Kautsar. Nggak melawan arus, saya kira. Kecuali kalau melawan arus film-film horor, ya mungkin. Tapi, itu temporer.

Ada dugaan kalau KCB balas dendam dengan Ayat-ayat Cinta?

He..he..he. Saya kira nggak. Ini karena semua novel Habiburrahman itu enak difilmkan. Makanya bukan hanya ini. Saya juga meminta novelnya yang lain. Dan itu bagus-bagus. Kayak ‘Dalam Mihrab Cinta’. Memang, semua novelnya bagus dan layak difilmkan.

Dan kisah KCB ini kan dibeli oleh Sinemart sebelum Ayat-ayat Cinta itu beredar.

Ya mungkin secara komersial mengikut dengan sesuatu yang bagus.

Prospek pasar KCB?

Di atas kertas bagus. Novelnya sudah laku keras. Katanya sudah empat ratus ribuan. Saya nggak tahu persis.

Jadi, promosinya sudah bagus. Audisi juga menggegerkan. Gitu ya. Kecuali, ya nasib. Dan itu bukan urusan kita. Tiba-tiba ada gempa, misalnya. Wallahu a’lam. Tiba-tiba ada event sepak bola, misalnya.

Kalau dilihat dari larisnya film Ayat-ayat Cinta, apa ini pertanda adanya fenomena masyarakat kita sudah mulai sadar dan gandrung dengan sesuatu yang Islami?

Saya kira masyarakat kita mencari sesuatu yang bernilai. Misalnya, setelah melihat Ayat-ayat Cinta laku keras, orang bikin Tahajud Cinta apa ya? Toh, ternyata jeblok di pasaran. Jadi, orang juga melihat nilai dan mutu film.

Ya, masyarakat pengin melihat kualitas yang bagus lah. Di samping pesannya bagus, kualitas juga harus bagus. Dan, masyarakat tidak bisa dibodohi. Meskipun, judulnya sama, tapi mutunya beda.

Nilai-nilai dakwah yang ingin disampaikan dari KCB?

Pertama, tentang etos kerja dalam film ini yang sangat Islami. Kedua, percintaan secara Islami.

Seperti apa?

Hubungan antara perempuan dan laki-laki atas ridha Ilahi. Jadi, tidak berpacaran. Bagaimana mencari jodoh secara Islami. Mintanya kepada orang-orang tua, atau orang-orang yang layak merekomendasi. Begitu.

Jadi, tidak cari sendiri. Berkenalan, berpacaran, berdua-duaan, dan seterusnya.

Itu sebuah ide cerita percintaan yang saya kira lain dengan yang selama ini ada di film-film atau sinetron. Dan ini yang mesti dibudayakan.

Apa ini mungkin bisa disambut luar biasa oleh remaja kita yang nyaris terjebak dengan pola budaya sekular?

Ya mungkin bagi mereka alur cerita yang memikat. Kemudian, lokasi yang menarik.

Jadi, buat mereka yang Islamnya masih belum kaffah, mungkin akan tertarik dengan kisah seorang mahasiswa dengan etos kerja yang tinggi, bagaimana ia bisa berhasil membiayai keluarganya yang di Indonesia, juga soal bagaimana ia mendapatkan jodoh.

Berapa persen syuting di Indonesia dan Mesir?

Kurang lebih kita akan syuting di Mesir sebanyak tujuh puluh persen. Sisanya di Indonesia.

Kira-kira apa akan ada kendala cuaca di sana untuk para pemain?

Kabarnya, bulan November di sana cuacanya bagus. Sejuk, katanya.

Target tayang di masyarakat?

Insya Allah, bulan Maret. (mn)

Silaturrahim Terbaru

blog comments powered by Disqus