Antara Aku dan Dia: Adinda-Kanda, Bolehkah?

suami suami“Ada beda persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus. Beda itu bernama ‘rasa’ dan ‘pemaknaan’.” (Suara Hati Nurani)

***

“Apa, Dinda? Akhi sadar dengan panggilan itu? Teriak seorang Muslimah kepada seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya.

“Maaf, wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan. Sebagai saudara, tolong, jaga aku! Karena aku akan kuat menolak rayuan preman, namun bisa jadi aku lemah mendengar panggilan itu (dinda),” lanjut Muslimah tadi.

“Tolong, aku hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal agar tetap tertuju hanya untukNYA. Dengan panggilan itu, jangan ajak telingaku berzina! Karena, akan membuka bentuk-bentuk zina yang lain. Tolong, bantu aku menjaga diri ini untuk tidak berzina dengan berduaan denganmu! Tolong, jangan ajak kakiku berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak tanganku berzina dengan menerima kasih sayangmu! Jangan ajak mataku berzina dengan memandangmu! Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan bagi laki-laki baik,” tutupnya sambil melangkah meninggalkan pemuda itu.

***

Entah apa yang terjadi, tapi itulah sepenggal realita yang ada di sekeliling kita. Afwan, saya bukan pujangga yang hendak membahas masalah ‘cinta dan makna sebuah kata.’ Saya hanya ingin bicara atas nama wanita, terlebih akhwat. Saya ingin memposisikan diri sebagai seorang saudara, yang wajib hukumnya mengingatkan saudaranya yang mungkin salah langkah. Bila salah, atau artikel ini tak berkenan, mohon maafkan saya.

Lisan, Pedang Bermata Dua

Diantara kami (akhwat), ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci. Karena itu ikhwan, bantu kami, saudara Antum, untuk menjaga diri ini. Jangan keluarkan kata-kata yang membuat kami lupa akan azabNya. Jangan panggil kami dengan sesuatu yang membuat kami merasa sangat dekat dengan Antum, kedekatan yang Allah swt murka atasnya.

Antum tahu sabda baginda Rasul saw: ”(Muslim terbaik) ialah yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (perbuatannya).” (HR Bukhari dan Muslim). Lalu, mengapa semudah itu Antum bermain-main dengan kata-kata. Dengan alasan mempererat ukhuwah, Antum panggil kami dengan “adinda.” Bagaimana mungkin Antum berdalih bahwa panggilan ini sebagai lambang persahabatan tatkala hati kami bergetar mendengarnya? Tidakkah ini menjadi celah syaithan untuk menjurumuskan kami? Tidakkah panggilan ini dapat membawa pada permainan hati yang tidak lagi Islami? Na’udzubillahi min dzalik.

a. Budak Syaithan

Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa saya tidak suka pernyataan tersebut, tetapi itulah fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi. Karena itu, tolong, berhentilah memanggil kami dengan “Adinda!” jika tidak ingin menjadi tangan-tangan syaithan yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia (QS. An-Naas: 3-6). Bukankah ia (syaithan) adalah musuh yang nyata bagi manusia, yang telah mendeklarasikan permusuhannya semenjak masa Adam, yang telah bersumpah menghabiskan umurnya merusak keadaan anak keturunan Adam, “Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.” (QS. Al Isra’ : 60). Allah swt juga telah berfirman:

وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. Al Nisa’: 60)

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maidah: 91)

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)

Tidakkah Antum (ikhwan) melihat dan mengamalkan perintah Allah untuk mewaspadai iblis dan syaithan:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 168).

Jika Antum belum bisa menjadi orang shalih, jangan ajak (jerumuskan) kami ke dalam neraka. Karena yang demikian hanya dilakukan oleh syaithan.

b. Budak Barat

Ikhwan, jika Antum berdalih bahwa yang demikian (memanggil “dinda”) adalah satu syarat pergaulan hari ini, tidakkah ini merupakan agenda Barat hari ini, yaitu menggeser nash/teks al-Qur’an dan sunnah dengan ‘realita sosial?’ Yang menjadikan ‘apa’ yang terjadi hari ini sebagai tolak ukur kebenaran. Bukankah itu karena kedengkian mereka (Barat) atas kemurnian dan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Rasul? Lalu, mengapa Antum malah senang menjadi budak mereka mengganti al-Qur’an dan al-Hadith dengan syahwat manusiawi? Mengapa hanya karena panggilan “dinda” itu umum dipakai, lalu Antum juga ikut-ikutan melakukannya? Sungguh, sadarlah!

Sesungguhnya, perbuatan menjadikan ‘realita sosial’ sebagai tolak ukur kebenaran; tolak ukur dalam bersikap, tolak ukur dalam berfikir, dan tolak ukur dalam bergaul adalah satu rangkaian proyek Barat, yaitu Gerakan Liberalisasi Pemikiran Umat Islam (baca: Cheryl Bernard: Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies (2003); U.S. Strategy in the Muslim Worl After 9/11 (2004); The Muslim World After 9/11 (2004); dan Three Years After: Next Steps in the War on Terror (2005)).

Dalam gerakan ini, ajaran agama diletakkan dalam dinamika sejarah. Sehingga, ia (ajaran agama) harus senantiasa berdialog dengan realita, tidak peduli seperti apa realita yang berkembang. Di sinilah upaya menjadikan umat Islam tidal lagi kokoh, karena memegang agama ini dengan benar. Gerakan ini dilakukan secara bersama oleh Missionaris, Orientalis dan Kolonialis. Globalisasi digunakan sebagai kendaraan menyebarkan budaya, paham-paham dan ideologi Barat. Orientalisme dimanfaatkan untuk membaca pemikiran Islam dari kaca mata Barat sehingga melahirkan makna Islam yang berbeda dari pemahaman umat Islam sendiri. Sedangkan Missionarisme dipakai untuk memperluas penerimaan kultur dan kepercayaan Barat. Terakhir, Kolonialisme yang merupakan kekuatan strategis untuk menaklukkan dunia Islam yang memanfaatkan Orientalisme dan Missionarisme dalam tujuan-tujuan politik dan ekonimi (baca: Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi).

Kami (Akhwat), Generasi Ummat

Sebagaimana kita tahu, Islam mengakui peran strategis pemuda. Pemuda sering menjadi pelopor perubahan, pilar peradaban yang sangat penting. Hal ini karena usia muda merupakan usia yang penuh kekuatan, yang terletak di antara dua fase kelemahan. Hal ini Allah swt lukiskan dengan bahasa yang sangat indah: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS 30: 54).

Kendati demikian, ‘muda’ tidak selalu identik dengan prestasi. Sebab, bersama dengan potensi besar yang dimilikinya, pemuda juga cenderung tergesa-gesa, terlalu bersemangat, dan lebih mudah terjatuh pada godaan duniawi.

Ikhwan, saudara kami, seperti Antum, kami ini juga generasi muda harapan Islam. Generasi yang juga sangat menentukan kemajuan umat ini. Merusak kami berarti merusak umat ini. Merusak umat ini berarti Antum menantang Allah swt dan Rasul-Nya. Seberani itukah Antum? Karena itu, mari kita bersama-sama, bergerak membangun umat, di bawah panji-panji Ilahi.

Tutur kata yang Islami

Sebagaimana sabda baginda Rasulullah saw di atas: ”(Muslim terbaik) ialah yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya (perbuatannya)” (HR Bukhari dan Muslim), maka dapat dipahami bahwa, lisan manusia itu laksana pedang yang bermata dua, bisa menuntun pada kebaikan, bisa juga sebaliknya.

Lisan yang menuntun pada kebaikan adalah lisan yang tidak berkata/berbicara kecuali berangkat dari pengharapan akan ridha Allah swt. Al-Qur’an memperkenalkan perkataan/pembicaraan yang baik ini dengan “kalimah thayyibah,” (QS. Ibrahim [14]: 24-25). Ia punya akar kebenaran yang kuat dan menimbulkan maslahat bagi umat; laksana pohon yang subur, rimbun, dan berbuah lebat. Ciri-ciri kalimah thayyibah ini:

Pertama berupa qawlun ma’ruf (perkataan yang baik). Perkataan jenis ini identik dengan kesantunan dan kerendahan hati. Alquran mensinyalir bahwa mengucapkan qawlun ma’ruf lebih baik daripada bersedekah yang disertai kedengkian (QS. Albaqarah [2]: 263).

Kedua, qawlun tsabit (ucapan yang teguh). Perkataan ini punya argumentasi yang kuat serta dilandasi keimanan yang kokoh. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS. Ibrahim [14]: 27).

Ketiga, qawlun sadid (perkataan yang benar). Tiada dusta dan kebatilan dalam ucapan ini. Kata sadid berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung, atau menghalangi. Qawlun sadid yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Bukti ketakwaan seorang Mukmin di antaranya gemar mengucapkan perkataan ini (QS. Al-Ahzab [33]: 70).

Keempat, qawlun baliqh (ucapan yang efektif dan efisien). Ini adalah jenis ucapan yang cermat, padat berisi, mudah dipahami, dan tepat mengenai sasaran alias tidak ngelantur. Tipe perkataan seperti ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS. An-nisa [4]: 63).

Kelima, qawlun karim (perkataan yang mulia). Ia adalah tutur kata yang bersih dari kecongkakan dan nada merendahkan atau meremehkan lawan bicara. Terdapat semangat memuliakan, menghormati, dan menghargai terhadap lawan bicara dalam qawlun karim tersebut (QS. Al-Isra [17]: 23).

Keenam, qawlun maysur (ucapan yang layak dan pantas). Maysur arti asalnya adalah yang memudahkan. Ucapan ini mengandung unsur memudahkan segala kesukaran yang menimpa orang lain, dan menghiburnya guna meringankan beban kesedihan (QS. Al-Isra [17]: 28).

Dan ketujuh, qawlun layyin (tutur kata yang lemah lembut). Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air dapat memadamkan api. Inilah pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika keduanya hendak menghadap Firaun yang lalim (QS. Thaha [20]: 44).

Ikhwan, semoga kita termasuk hamba-Nya yang mampu membawa lisan ini kepada yang diridhaiNya. Amien. Wallahu’alam bi ash-shawab.

Saya kurang menyukai dan mendengar apabila ada sepasang ikhwan-akhwat yang mengucapkan dinda-kanda sementara belum ada ikatan yang sah antara keduanya (pernikahan). Selain belum jelas statusnya, dan kadang kita menyukainya tapi belum tentu Allah menyukainya begitu juga pandangan atas prasangka orang lain terhadap panggilan tersebut. Maka panggillah dengan panggilan yang baik.

.✿.。.:* *.:。.✿•.¸¸.•´¯`•.♥.•´¯`•.¸¸.•.✿.。.:* *.:。.✿

Semoga apa yang disampaikan pada tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Terulang ucapan maaf kembali, jikalau evi ada salah kata dalam tulisan, kalimat, ungkapan-ungkapan dan lain sebagainya karena evi hanyalah seorang hamba yang lemah, masih banyak dosa-dosa, tak luput dari salah dan khilaf, yang harus terus memperbaiki diri. Kesempurnaan hanyalah milik Allah Azza wa Jalla.