free hit counters
 

Detik-detik Pembantaian di Beit Hanun, Sebuah Kesaksian

Warsito – Senin, 20 Syawwal 1427 H / 13 November 2006 11:23 WIB

Sangat sulit bagi setiap wartawan atau koresponden kantor berita untuk mengetahui secara menyeluruh detail pembantaian yang dilakukan penjajah Zionis Israel terhadap orang-orang tak berdosa di Jalur Gaza, tanpa merujuk kepada keterangan para saksi mata yang menyaksikan detik-detik pertama terjadinya pembantaian.

Detail dan rincian pembantaian yang dilakukan Zionis Israel terakhir di Beit Hanun, Rabu (8/11)-yang menewaskan 20 warga sipil Palestina sebagian besarnya anak-anak dan kaum wanita dan 55 lainnya terluka-sebagaimana dikisahkan salah seorang anggota tim medis kepada kantor berita Al-Jazeera, menunjukan betapa dahsyat dan mengerikan pembantaian di Jalur Gaza ini sejak meletus intifadhah al-Aqsha 6 tahun lalu.

Muhammad al-Nirab, salah seorang anggota tim medis yang datang ke lokasi pembantaian dan menyaksikan detik-detik pertama terjadinya pembantaian tersebut mengatakan, “Tak pernah suatu hari pun akan membayangkan aku ikut mengevakuasi korban pembantaian sedahsyat dan sebiadab pembantaian di Beit Hanun.”

Dia menceritakan detail pembantaian yang mengerikan itu dengan mengatakan, pihaknya mendapatkan isyarat adanya serangan sekitar pukul 5.45, Rabu (8/11) pagi. Selanjutnya mereka bertolak menuju perkampungan penduduk yang menjadi target serangan dekat dengan rumah sakit Beit Hanun. Ketika mereka sampai di gerbang kampung, debu dan asap membumbung tinggi nampak dari ujung kampung dan menutupi kampung secara keseluruhan. “Samar-samar kami saksikan lima mayat bergelimpangan di tanah di antara kepulan debu dan asap” akibat serangan rudal pertama yang menghantam sebuah rumah di ujung kampung.

Detik-detik Mengerikan

Al-Nirab menyatakan, “Waktu itu betul-betul menjadi detik-detik yang mengerikan sekali. Kepanikan, histeris dan ketakutan menguasai warga kampung. Mulailah para wanita kampung mendekap anak-anak mereka, berlarian tak tahu arah sambil berteriak dan menangis histeris. Sementaa sebagian yang lainnya berkumpul mengerubungi anak-anak mereka yang terluka bergelimpangan di tanah dekat rumah yang menjadi target serangan.”

Al-Nirab melanjutkan, pada saat tim medis bergerak dengan perbekalan medis menuju tempat para syuhada’ dan para korban yang terluka, tiba-tiba rudal yang kedua kembali menghantam daerah tersebut. Saat itulah dirinya kembali menyaksikan sejumlah warga, baik yang mengerumuni anak-anak mereka yang terluka maupun yang berupaya menjahui lokasi serangan mulai berjatuhan. Hal ini mendorong sebagian warga, termasuk bersama mereka para tim medis mencari perlindungan di salah satu rumah dekat lokasi serangan.



Dia masih ingat, pada saat dirinya bersama tim medis lain dan juga warga berlindung di dalam salah satu rumah, sekitar tiga sampai empat rudal kembali menghantam rumah-rumah di dekatnya secara berturut-turut. Dia dan yang lainnya kala itu sudah yakin bahwa kematian telah menjemputnya, tidak bisa tidak, karena kerasnya ledakan-ledakan tersebut sementara puing-puing dan bagian rumah-rumah yang menjadi target serangan berhamburan jatuh di dekat mereka.

Muhammad al-Nirab melanjutkan kisahnya, “Setelah serangan berhenti, kami segera berhamburan ke jalan yang masih tertutupi debu dan asap. Kami betul-betul dikejutkan oleh pemandangan pembantaian yang sangat mengerikan dan bentuk kejahatan yang sangat biadab.”

Dia mengambarkan situasi saat itu, “Bagian-bagian tubuh yang berserakan dan jasad-jasad yang tercabik-cabik ada di sepanjang jalan. Hal itu membuatku bingung, harus memulai dari siapa. Namun aku mendapati diriku tidak memiliki daya untuk mengevakuasi jasad para syuhada’ yang tertutupi oleh debu bangunan ke mobil ambulan. Aku tidak tahu, bagaimana aku mulai mengumpulkan anggota-anggota tubuh para syuhada’ yang berceceran memenuhi tempat. Semua aku kumpulkan dan aku letakan di bangku dekat tempat duduk sopir kemudian kami bertolak ke rumah sakit.”

Di akhir cerita kesaksiannya tentang pembantaian di Beit Hanun ini, Muhammad al-Nirab mengatakan bahwa beberapa jam setelah terjadinya pembantaian dan saat dirinya kembali ke rumah, dia tidak bisa berdiri di atas kedua kakinya karena begitu hebatnya kengerian yang dia saksikan, pemandangan pembantaian itu setiap kali membayangi dirinya dan terus menggores kesadarannya. Dia menegaskan, pemandangan itu membuatnya merasakan seakan dirinya terlibat dalam semua kejadian dalam sebuah film perang dahsyat yang dia saksikan di layar televisi. (was/aljzr)

Dunia Islam Terbaru