Festival Film Negara-Negara Arab dan Muslim di AS, Lawan Kampanye Negatif Media Barat

Lebih dari 30 film dari berbagai negara Arab dan Muslim akan diputar di Alwan Film Festival yang akan berlangsung selama sepekan ini di New York, AS. Festival film yang diselenggarakan oleh organisasi non profit di Lower Manhattan ini, akan menampilkan sejumlah sutradara film terkenal dari Timur Tengah. Film-film yang akan ditampilkanpun cukup beragam, mulai dari yang bertema perang di Irak, konflik Israel-Palestina dan tentang Afghanistan.

Penyelenggaraan festival film dari negara-negara Arab dan Muslim ini diharapkan bisa membantu rakyat AS belajar mengenai ‘dunia Islam.’ Seperti diketahui, hubungan antara AS dengan dunia Islam menghadapi tantangan berat beberapa tahun belakangan ini setelah invasi negeri Paman Sam itu ke Irak dan Afghanistan.

Bader Ben Hirsi, sutradara keturunan Inggris-Yaman yang filmnya menjadi pembuka festival pada Jumat (14/4) mengatakan, "Sangat penting bagi rakyat AS dari berbagai latar belakang untuk datang dan menonton film-film ini, khususnya lima tahun setelah peristiwa serangan 11 September."

"Penting bagi mereka untuk melihat apa sebenarnya Timur Tengah. Saya nonton televisi di sini dan apa yang ditampilkan sangat berbeda dengan Timur Tengah yang saya tahu," ujar Hirsi.

Film-film yang diikutsertakan dalam festival film tersebut diputar di tiga bioskop di Lower Manhattan dan secara berani sudah didaftarkan ke pemantau media di kota itu, seperti yang pernah dilakukan pada saat festival serupa, Tribecca Fim Festival diselenggarakan.

Hirsi berharap film-film yang diputar akan menarik beragam pengunjung. Meski demikian, ia mengungkapkan rasa pesimisnya bahwa yang akan datang menonton film-film dalam festival ini kemungkinan besar dari kalangan orang-orang Arab atau Arab Amerika.

Dalam festival ini Hirsi menampilkan filmnya yang berjudul ‘A New Day in Old Sanaa. Menurutnya, film ini merupakan film feature pertama yang dibuat di Yaman, menceritakan kisah seorang laki-laki muda kaya yang jatuh cinta dengan wanita lain, padahal sebentar lagi ia akan menikah dengan seorang wanita yang belum pernah ia jumpai.

Hirsi sendiri menghadapi banyak tantangan di Yaman dalam membuat film itu, mulai dari masalah birokrasi, pendanaan, kesalahpahaman dan kecurigaan. Pemeran utama pria film itu bahkan pernah mengalami insiden penusukan oleh orang yang tidak suka akan film itu.

"Saya pikir, masa-masa sulit sudah lewat tapi satu hal yang betul-betul tidak bisa saya pahami adalah, kami mendapatkan penilaian yang baik dan kami melihat banyak orang terkesan dengan film ini. Namun agen-agen penjualan dan distributor tidak memahami ini dan mereka tidak mempercayai film ini," papar Hirsi.

"Mereka hanya tidak tahu apa yang dilakukan. Ini bukan yang mereka harapkan dari dunia Arab," sambungnya.

Film-film lainnya yang akan diputar dalam festival yang akan diselenggarakan pada 14-23 April ini antara lain film Zaman: The Man from the Reeds oleh sutradara Amer Alwan, mengisahkan perjalanan seorang Ayah dari tempat tinggalnya di kawasan rawa-rawa ke kota Baghdad untuk mencari obat buat menyembuhkan anak angkatnya.

Sebuh film Irak berjudul Ahlaam karya sutradara Muhammad al-Daradji mengisahkan tentang beberapa hari sebelum dan sesudah jatuhnya kota Baghdad, serta kisah seorang gadis muda yang menghuni sebuah rumah sakit jiwa setelah suaminya ditangkap pemerintah Saddam Hussein. Gadis itu bebas setelah rumah sakit itu hancur oleh sebuah bom dan ia berkelana di tengah situasi kacau setelah jatuhnya kota Baghdad pada April 2003.

Film Pakistan Doubel Game mengisahkan seorang reporter bernama Sharmeen Obaid yang melakukan perjalanan keliling Pakistan untuk menanyakan pada masyarakat awam bagaimana pendapat mereka soal hubungan erat pemerintah Pakistan dengan AS dan dukungan Pakistan terhadap perang ‘anti terorisme’ yang dilancarkan AS.

Dari Mesir, sutradara Saad Hendawi menampilkan State of Love, kisah cinta berlatar belakang paska serangan 11 September di kalangan warga Arab di Barat. Film ini berhasil mencapai box office di negara asalnya, Mesir.

Budaya dan Film AS di Timur Tengah

Menurut Hirsi, filmnya A New Day in Old Sanaa menghabiskan dana sekitar 1,4 juta dollar. Film-film yang dibuatnya, pada umumnya hanya memiliki dana yang sangat kecil dibandingkan dengan film-film produksi Hollywood

Salah seorang kurator film, Syarif Sadik mengatakan, media dan budaya AS yang banyak beredar di Timur Tengah membuat masyarakat di wilayah itu lebih memahami AS.

"Kelihatannya seperti jalan satu arah, di mana AS mengirimkan informasinya tapi tidak menerima informasi, maka diharapkan, festival ini akan memberi peluang bagi munculnya pandangan-pandangan dari berbagi sisi yang berbeda terhadap kesalahan di luar sana dan citra yang disebarkan oleh televisi tiap harinya," papar Sadek.

Hirsi mengungkapkan, ada gelombang baru dari para sutradara di negara-negara Muslim yang ingin menyerang para penontonnya di luar batasnya sendiri. "Setiap orang merasa frustasi melihat bagaimana media massa Barat menjelaskan dunia Arab. Ini untuk pertama kalinya suara dari Arab keluar untuk menentang suara barat di negara-negara Arab. Dan para sutradara Arab mengatakan,’ini adalah dunia saya’." (ln/aljz)