HAMAS: Apa yang Kamu Hasilkan dari Annapolis Wahai Negeri-Negeri Muslim?

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pertemuan Annapolis yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat dan Zionis-Israel ternyata tidak menghasilkan setitik debu-pun kebaikan bagi rakyat Palestina. Lagi-lagi—dan ini akan terus terjadi sampai akhir zaman—Israel mengkhianati pertemuan tersebut dan terus saja membunuhi dan membantai rakyat Palestina yang tidak bersalah.

Bahkan kaum yang pernah dikutuk Allah SWT menjadi kera dan babi itu, dan sekarang mewarisi sifat-sifat kedua binatang tersebut, semakin meningkatkan kebiadabannya menghadapi rakyat Palestina yang semakin hari semakin dihimpit oleh penindasan dan kekejaman, terutama yang berdiam di Jalur Gaza yang secara de facto dipimpin oleh pemerintahan yang sah, HAMAS, yang dipilih lebih dari 70% rakyat Palestina ketimbang Abbas yang hanya mendapat 26% suara.

Sebab itu, Rabu kemarin (5/12) HAMAS menyerukan agar negara-negara Islam yang hadir dalam Pertemuan Annapolis segera berbuat sesuatu yang nyata untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina, khususnya yang berada di Jalur Gaza yang sudah beberapa bulan terakhir dikepung dan diblokade teroris Zionis-Israel. Makanan, obat-obatan, air minum, listrik, dan segala macam kebutuhan pokok manusia untuk bisa hidup secara kejam diblokade oleh penjajah Israel. Dan dunia sampai sekarang masih saja diam, termasuk negara-negara Muslim yang ikut hadir di Annapolis dan sesumbar ingin mendamaikan Israel-Palestina.

Bagaimana Indonesia?

Menlu Hassan Wirajuda sebelum keberangkatannya ke Annapolis mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia ingin berperan aktif dalam perdamaian di Palestina. Namun setelah pulang dari Annapolis dan teroris Israel terus saja membunuhi rakyat Palestina dan merobek-robek perdamaian, pemerintah Indonesia pura-pura tidak tahu dan memperlihatkan sikap masa bodoh. Padahal mereka ke Annapolis itu pakai uang rakyat.

Seharusnya pemerintah DPR memanggil pemerintah RI dan menjelaskan mengapa mau-maunya hadir di pertemuan yang secara telanjang berarti mengakui eksistensi Israel sebagai negara. DPR harus meminta pertanggungjawaban pemerintah RI soal ini secepatnya. Uang rakyat harus digunakan secara benar, bukan digunakan untuk jalan-jalan ke Amerika Serikat dan menjilat tangan teroris Bush dan Zionis-Israel yang belepotan darah rakyat Palestina. (Rizki/MNA).