Imam Besar Al-Azhar Masih Tunggu Pernyataan Maaf Paus

Bagi Imam Besar Al-Azhar, Kairo Syeikh Muhammad Syed Tantawi, persoalan dengan Paus Benediktus XVI belum selesai, sebelum Paus dengan tegas minta maaf atas pernyataannya. Tantawi juga menolak undangan Paus untuk berkunjung ke Vatikan dan menolak proposal Paus agar diberi kesempatan memberikan ceramah tentang Islam di Al-Azhar.

Menurut Syeikh Tantawi, pernyataan maaf yang tegas dari Paus adalah satu-satunya jalan keluar. "Paus seharusnya menambahkan kutipan yang diambilnya dengan komentar yang jelas bahwa ia tidak setuju dengan kutipan itu dan mengatakan bahwa Islam adalah agama yang damai dan penuh toleransi," tegas Syeikh Tantawi dalam pertemuan dengan delegasi Katolik yang mengunjunginya pada Selasa (19/9) kemarin.

Seperti diketahui, dalam ceramahnya sepekan lalu, Paus mengutip pernyataan dari kaisar Bizantium pada abad ke-14, Kaisar Manuel II Palaeologus yang mengatakan bahwa apa yang dibawa Rasulullah Muhammad saw adalah kejahatan dan kekejaman, dan telah memerintahkan penyebaran agamanya dengan pedang.

Syeikh Tantawi mengatakan, kutipan kaisar Bizantium itu tidak relevan dan tindakan Paus mengambil kutipan tersebut menimbulkan kesan bahwa Paus mendukung tuduhan kaisar itu.

"Hal ini, baik secara keagamaan maupun keilmuan merupakan kesalahan besar," tandasnya.

Petinggi Al-Azhar di Kairo juga mempertanyakan maksud Paus menyampaikan undangan untuk berkunjung ke Vatikan

Presiden Universitas Al-Azhar dan mantan Mufti Mesir, Ahmad Al-Tayyib mengatakan,"Sungguh aneh, melihat orang yang menghina anda, meminta anda mengirim delegasi agar datang padanya agar bisa menjelaskan alasan-alasan dibalik penghinaan itu."

Pihak Al-Azhar juga menyatakan menolak permohonan Paus untuk datang ke Kairo dan memberikan ceramah tentang Islam. Seorang deputi di Al-Azhar Syeikh Umar al-Deeb menyatakan, Paus harus minta maaf dulu sebelum datang ke Al-Azhar.

"Pernyataan maaf Paus sangat penting untuk meredakan kemarahan umat Islam pada Vatikan. Tidak ada dialog, sebelum Vatikan melakukannya," tegas al-Deeb.

Eksploitasi

Melihat polemik seputar pernyataan Paus yang berkembang belakangan ini, cendikiawan Muslim Tariq Ramadan memiliki pandangan yang berbeda. Ia menilai pernyataan Paus sudah dieksploitasi untuk menimbulkan kemarahan umat Islam, terutama oleh pemerintahan-pemerintahan Muslim yang tidak demokratis.

Ramadan dalam opininya yang dimuat harian Swiss, Le Temps menyatakan, "Pemerintahan tertentu mengeksploitasi krisis ini untuk meletuskan rasa frustasi publik. Ketika seseorang sudah menghilangkan kebebasan berekspresi dan hak-hak fundamental rakyatnya, tidak ada ruginya membiarkan mereka menunjukkan kemarahannya," tulis Ramadan.

Bagi Ramadan yang telah menerbitkan lebih dari 200 buku tentang Islam, kemarahan umat Islam atas pernyataan Paus, justru memberi kesan tidak adanya perdebatan di kalangan umat Islam.

"Kita bisa mempertanyakan cara pikir yang pendek tentang hubungan Islam dan kekerasan. Tapi apakah bijaksana jika umat Islam merasa tersinggung dan ‘melupakan’ bahwa selama lima tahun belakangan ini, mereka hampir setiap hari ditanya tentang makna jihad dan isu-isu kekerasan," imbuh Ramadan.

Meski demikian, Ramadan menyayangkan pernyataan-pernyataan Paus yang mengesampingkan umat Islam sebagai bagian dari identitas Eropa. Ia menilai Paus melupakan kontribusi umat Islam pada Eropa, karena Paus hanya mendefinisikan identitas Eropa yang berakar pada ajaran Kristen dan filosofi Yunani.

"Eropa harus sampai pada pengertian dengan keberagamamannya di masa lalu," tegas Ramadan.

Pada tahun 2004, pernyataan Paus yang menentang keinginan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa, juga sempat menimbulkan kontroversi. Saat itu Paus mengatakan bahwa Turki harus mencari masa depannya bersama dengan negara-negara Islam, bukan dengan Uni Eropa.

Setelah krisis pernyataan Paus kemarin, rencananya Paus akan berkunjung ke Turki bulan November mendatang. Para analis menyarankan Paus agar memanfaatkan kunjungan pertamanya ke negara yang mayoritas penduduknya Muslim itu, untuk membangun kembali hubungan dengan dunia Islam. (ln/iol)