Ketika Bahasa Arab Jadi Momok Menakutkan di AS

Hari ini, Rabu (4/9) adalah hari pertama tahun ajaran baru bagi sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Tapi ada pemandangan berbeda di sebuah sekolah di kota New York yang baru pertama kali melakukan kegiatan belajar mengajarnya tahun ini. Karena di depan sekolah yang baru dibuka itu, terlihat para kuli tinta alias wartawan dan sejumlah polisi berjaga-jaga.

Khalil Gibran International Academy, nama sekolah itu, baru memiliki 60 siswa. Inilah sekolah umum pertama di AS yang mengajarkan bahasa Arab dan memciu perdebatan di kalangan publik AS. Masyarakat AS ada yang menolak sekolah itu karena khawatir akan mengajarkan ajaran-ajaran Islam yang radikal.

"Ketika saya tiba di ujung jalan dan melihat mobil polisi serta kamera-kamera televisi, saya jadi gugup, " kata Susan O’Grady, salah seorang siswa sekolah Khalil Gibran. Keluarga Susan adalah penganut Kristen, tapi anaknya perempuannya ingin belajar bahasa Arab di sekolah itu karena ayahnya berasal dari Mesir.

Di New York sebenarnya banyak sekolah yang mengajarkan dua bahasa selain bahasa Inggris, seperti bahasa Prancis, Spanyol dan Mandarin. Tapi rakyat AS tidak khawatir seperti mereka mengkhawatirkan pengajaran bahasa Arab di sekolah Khalil Gibran.

Mereka yang khawatir mengatakan takut para siswa di sekolah Arab itu diindoktrinasi. Mereka merujuk kasus kepala sekolah pertama di sekolah tersebut yang mengundurkan diri karena menolak membuang kaos-kaos bertuliskan "Intifada"

"Ada problem khusus di sekolah Arab karena kenyataan yang kita lihat sekarang di dunia, di mana hampir semua persoalan terorisme berasal dari komunitas-komunitas tertentu, " kata Dov Hikind anggota dewan di Brooklyn.

Namun pernyataan itu ditentang oleh Deputi Walikota New York Dennis Walcott. Menurutnya, kekhawatiran bahwa sekolah itu akan menjadi lahan subur bagi munculnya orang-orang Islam radikal, sama sekali tidak benar. "Itu tidak akan terjadi, tidak akan terjadi, tidak akan terjadi, dan pemikiran seperti itu sangat menggelikan, " kata Walcott dalam siaran di ABC News.

Sejumlah kalangan yang mendukung mengatakan, keberadaan Khalil Gibran International Academy seharusnya tidak perlu diperdebatkan, karena sekolah itu secara umum mengikuti kurikulum sekolah di AS, hanya saja ada mata pelajaran tambahan yaitu budaya dan bahasa Arab. Mereka juga menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena kepala sekolah yang baru adalah seorang Yahudi dan siswa Arab serta Muslimnya juga cuma sedikit. (ln/abc/Islamicity)