free hit counters
 

Raja Abdullah: Ibadah Haji Menunjukkan adanya Persatuan dan Persaudaraan dalam Islam

Magdalena – Kamis, 11 Zulhijjah 1426 H / 12 Januari 2006 11:27 WIB

Pelindung Dua Masjid Suci, Raja Arab Saudi, Raja Abdullah mengungkapkan kebanggannya terhadap umat Islam. Ia mengatakan, ketika melihat para jamaah haji menjalankan ibadah haji pada tahun ini, dirinya sampai pada kesimpulan bahwa mereka semua termotivasi oleh lima prinsip yang menuntun mereka, yaitu persatuan, persamaan, persaudaraan, keyakinan dan musyawarah.

Saat menerima para pemimpin Islam dan kepala delegasi haji dalam resepsi yang diselenggarakannya di Mina, Raja Abdullah mengungkapkan bahwa para jamaah dengan jelas memperlihatkan adanya persatuan dalam Islam meski mereka berasal dari ras yang berbeda-beda.

Islam mengajarkan persamaan terhadap semua umat manusia dan jika semua umat Islam menerapkan prinsip ini,"Kita dapat menghentikan kemiskinan, penindasan dan ketidakadilan," kata Raja Abdullah.

Lebih lanjut ia mengatakan, meski berbeda negara dan berbeda konsep pemikiran, para jamaah haji berkumpul di satu tempat dan menunjukkan prinsip musyawarah dalam Islam. Mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji bukan hanya saling berbagi dengan saudara-saudaranya dalam hal makanan tapi juga rasa kasih sayang. Ia mencontohkan ada seorang jamaah haji, anak laki-laki yang menggendong orang tuanya agar bisa melaksanakan ritual haji. Hal ini, kata Raja Abdullah menunjukkan rasa cinta yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah haji.

Lempar Jumrah Berjalan Lancar
Sementara itu, ritual lempar Jumrah yang berlangsung di Mina sejak hari Selasa (10/1) kemarin berjalan lancar. Hari ini Kamis (12/1) merupakan prosesi terakhir dari acara lempar Jumrah dan setelah itu, para jamaah haji akan meninggalkan kota Mina sebelum matahari terbenam.

Ritual lempar Jumrah merupakan ritual yang sering menimbulkan banyak korban jiwa dalam penyelenggaran ibadah haji setiap tahunnya. Korban jatuh karena lautan manusia yang berdesak-desakan. Untuk itu, aparat kepolisian dan keamanan Arab Saudi dikerahkan di lokasi lempar Jumrah untuk menghindari jatuhnya korban jiwa karena berdesak-desakan.

Untuk mengantisipasi situasi, belasan mobil ambulan disiakan termasuk helikopter yang terus menerus memantau pelaksanaan lempar jumrah di Mina.

Seorang jamaah haji asal Calcutta, India pada harian Arab News mengungkapkan, "Pelaksanaan ibadah haji tahun ini lebih mudah dari yang saya bayangkan," kata Shahnawaz Ahmad, 36 tahun.

Jamaah haji asal India lainnya Sabeel Norani memuji pengaturan yang lebih baik di lokasi Jamarat sehingga memudahkan jamaah untuk melakukan lempar jumrah.

"Segala sesuatunya berjalan sesuai rencana dan atas rahmat Allah, kami tidak mengalami insiden apapun di Jamarat," kata Ibrahim Sulaiman, jamaah asal Suriah.

"Saya menyelesaikan lempar jumrah tidak lebih dari 15 menit," ujar Jalal Abdul Fattah, jamaah asal Mesir.

"Tahun ini, lempar jumrah lebih gampang," tambah Sulaiman Fallatah, jamaah haji asal dari kota Makkah.

Jamaah Haji yang Hilang Meningkat

Meski pelaksanaan ibadah haji tahun ini relatif lebih teratur dari tahun sebelumnya, jumlah jamaah haji yang hilang meningkat tajam pada hari ketiga. Seorang petugas dari organisasi kepramukaan Arab Saudi-yang ikut dikerahkan bersama kementerian haji untuk mencari orang-orang yang hilang atau kesasar-pada Arab News mengatakan, sampai hari Rabu (11/1) kemarin, jumlah orang hilang meningkat 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama.

Kepala pendataan, informasi dan sistem komputer di pusat informasi kepramukaan Arab Saudi di Mina, Shaker Radain mengungkapkan, ada indikasi peningkatkan laporan jamaah haji yang hilang pada hari raya Idul Adha dan saat lempar jumrah.

Menurut Radain, tahun lalu, jumlah jamaah yang dilaporkan hilang sekitar 17.000 orang, sedangkan tahun ini untuk sementara laporannya sudah mencapai 21.000 orang. Laporan orang hilang paling banyak terjadi pada hari raya Idul Adha. Meski demikian, pada dua hari pertama pelaksanaan ibadah haji, laporan orang hilang menurun dibanding tahun sebelumnya.

Data statistik di kementerian haji menunjukkan, mayoritas jamaah haji yang hilang adalah jamaah dari India, Turki dan negara-negara Afrika. Tahun ini, jumlah jamaah asal negara-negara Arab yang dilaporkan hilang juga meningkat, sekitar 10.000 orang di tiga hari pertama.

"Kami mendata 3.000 laporan jamaah yang hilang di sistem komputer kami pada 6 jam pertama pada saat lempar jumrah saja," kata Radain. "Peningkatan ini mencengangkan kami, mengingat persiapan yang kami lakukan sudah mendekati sempurna. Kami menambah banyak pelayanan untuk menolong jamaah kembali ke tendanya," sambung Radain.

Kebanyakan jamaah yang hilang, akhirnya bisa berkumpul kembali dengan kelompoknya karena mereka sendiri yang menemukan kelompoknya atau dibantu oleh para anggota kepanduan dan petugas haji lokal yang memantau kepadatan jamaah.

"Persoalan mulai muncul setelah para jamaah selesai melempar jumrah. Karena ketika mereka melempar jumrah, mereka mengkonsentrasikan diri pada ritual itu dan lupa akan kelompoknya. Setelah selesai, mereka mulai saling mencari satu sama lain, kadang ada yang tidak saling bertemu," papar Radain.

Mina adalah wilayah yang tidak terlalu luas, namun orang bisa dengan mudah hilang, karena semua tenda di sana hampir sama. Di samping banyak jamaah yang tidur di jalan-jalan dengan barang-barang bawaannya, sehingga menghalangi jalan masuk dan keluar kompleks tenda jamaah dan trotoar yang akibatnya menimbulkan kebingungan.



Supervisor di Pusat Informasi Kementerian Haji, Sami Siraj Mulla mengungkapkan, penyebab lainnya mengapa banyak jamaah haji yang hilang, karena kurangnya pengarahan dari para pembimbing haji.

Kementerian Haji, kata Mulla, sudah mendirikan pusat informasi dan pertolongan bagi jamaah haji yang hilang, sehingga mereka bisa kembali ke kelompoknya di tenda-tenda yang sudah disediakan. "Tapi bagi jamaah yang tinggal di jalan-jalan, kami tidak bisa mengantar mereka sampai ke kelompoknya atau ke tempatnya semula," ujar Mulla.

Ia mengatakan, kesulitan yang paling besar ketika harus mengantarkan jamaah yang hilang atau kesasar adalah karena minimnya identifikasi jamaah. "Pengelola jamaah haji seharusnya mengeluarkan kartu dan gelang khusus yang berisi informasi tentang jamaah dan lokasi tenda mereka. Tanpa informasi ini, sulit bagi kami untuk mengembalikan jamaah," jelasnya lagi.

Tahun ini, kementerian haji Arab Saudi menyediakan dua pusat informasi tambahan bagi orang hilang sehingga jumlahnya mencapai 20 tempat. Selain itu, kementerian haji juga memberikan peta petunjuk bagi jamaah tentang lokasi-lokasi tempat-tempat suci, di samping penunjuk arah dan peta-peta yang ditempel di banyak tempat di lokasi-lokasi tempat berkumpulnya jamaah haji. (ln/arabnews/iol)

Dunia Islam Terbaru