free hit counters
 

Raja Arab Saudi Terima Pemuka Syiah Irak Muqtada Sadr

Magdalena – Kamis, 11 Zulhijjah 1426 H / 12 Januari 2006 16:35 WIB

Pemimpin Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdullah bin Abdulaziz melakukan pertemuan dengan pemuka Muslim Syiah Irak Muqtada Sadr yang selama ini dikenal sebagai pemimpin ‘radikal’ oleh kalangan militer AS. King Abdullah menerima tamu ‘istimewa’ nya itu di istananya di kota Mina di sela-sela pelaksanaan ibadah haji.

"Pertemuan ini untuk memperkuat hubungan antara kedua negara," kata Sadr tanpa memberikan detil apa saja yang menjadi bahan pembicaraannya dengan Raja Abdullah dalam pertemuan itu.

Stasiun televisi pemerintah Saudi sempat menayangkan pertemuan kedua pemuka Islam itu pada tengah malam hari Selasa kemarin. Dalam tayangan tersebut, pemimpin kerajaan Arab Saudi itu nampak sedang mengajak Sadr melihat-lihat istananya.

Pada hari Rabu (11/1), Raja Abdullah kembali menerima Sadr dalam resepsi yang digelar bagi para pemimpin negara lain dan tokoh-tokoh Muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji. Sadr yang pada tahun 2004 lalu memimpin perlawanan berdarah melawan pasukan AS di Irak, nampak duduk sisi kiri Raja Abdullah. Ia mengenakan jubah warna hitam dan surban.



Sadr belum lama ini mengungkapkan rasa pesimisnya akan perbaikan situasi dan kondisi di Irak setelah pemilu legislatif dilaksanakan pada 15 Desember lalu. "Saya pesimis. Fanatisme dan mengecap orang lain sebagai orang kafir kini makin mendominasi," kata Sadr yang berada di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji yang baru pertama kali ia lakukan.

Sadr menempuh jalur jalan darat dari Irak ke Arab Saudi. Menurut ketua delegasi Haji Irak, Syaikh Khalid Al-Atiyah, Sadr adalah tamu raja. Pertemuan antara Raja Abdullah dan Muqtada Sadr menjadi penting, mengingat pertikaian antara kerajaan Arab Saudi dengan pemimpin-pemimpin Syiah di Timur Tengah belakangan ini. Bahkan pada musim haji tahun ini, otoritas haji Arab Saudi menuding pemerintahan Perdana Menteri Ibrahim Al-Jaafari tidak adil dalam memberikan kuota haji yang kebanyakan diberikan pada Muslim Syiah di Irak.

Di sisi lain, Jaafari juga mengkritik pemerintah Arab Saudi yang tidak memberikan izin bagi sekitar 7.000 jamaah haji asal Irak dengan alasan kuota haji untuk negara Irak sebesar 27.500 orang sudah terpenuhi. (ln/arabworldnews)

Dunia Islam Terbaru