free hit counters
 

Resesi, Awal Kejatuhan Kapitalisme

Saad Saefullah – Kamis, 16 Jumadil Akhir 1430 H / 11 Juni 2009 08:46 WIB

Resesi Amerika datang seperti badai dan pergi meninggalkan reruntuhan—bisnis yang bangkrut, angka pengangguran yang tinggi dan kadang kala filosofi yang asal-asalan.

Seperti kita tahu filosofi ekonomi konservatif sudah bertahun-tahun menjadi sistem yang tak tergantikan. Kaum konservatif telah menjadikan pandangan ekonomi tersebut sebagai sistem pereknomian di hampir semua negara. Saat ini, ketika resesi global muncul ke permukaan, para pengamat ekonomi berkeyakinan, inilah kejatuhan kapitalisme yang ditopang oleh kaum neoliberal.

Dalam "The Communist Manifesto" (1848), Karl Marx dan Friedrich Engels mengatakan bahwa kapitalisme mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan-kelemahan ini, menurut Marx akan mengakibatkan resesi ekonomi. Marx menyatakan bahwa kapitalisme hanya akan memakmurkan kaum borjuis (kaya) saja. Saat ini, di AS, semakin besar sebuah perusahaan, maka semakin besar pula kejatuhannya. Faktor utang yang terutama melilit perusahaan tersebut.

Sekarang ini, AS menjadi negara yang paling besar sistem perbankannya. Pada tahun 1980-an, hanya ada sedikit bank di AS. Saat itu para pekerja bank mengetahui baik depositor ataupun para pemimjam. Sekarang, para insan perbankan tidak pernah lagi mengetahui kemana dan siapa yang telah mengalirkan uang di bank mereka. Tetapi kemudian merjer dan akuisisi perusahaan membuat semua sumber daya menjadi sentral. Sejumlah bank bangkrut, namun banyak konglomerat baru lahir dan menciptakan persaingan global yang gelap.

Adam Smith, jauh sebelum Manifesto-Marx lahir, tujuh dedade sebelumnya, telah menulis “The Wealth Nation” yang berisi kapitalisme pada zamannya. Pada waktu itu, kapitalisme sudah berjalan yang terjadi di antara komunitas pedagang daging dan roti yang memang banyak menguasai pasar. Kedua pemain pasar itu hanya membantu di antara mereka saja—di luar komunitasnya, jangan harap.

Marx dan Smith telah melihat kebenaran, dua sisi yang berbeda dari kegagalan kapitalisme. Banyak kaum konservatif tetap kukuh pada pendirian untuk menegakkan hukum dan paham ini karena sudah memberikan kekayaan yang melimpah kepada mereka. Rakya AS sendiri sudah muak dengan sistem kapitalisme ini, dan lambat-laun ataupun dalam waktu yang cepat akan terjadi penolakan yang besar. Karena krisis Amerika tidak juga berakhir. (sa/csm)

Dunia Islam Terbaru