free hit counters
 

Kisah Bowo Anak Kebayoran

Redaksi – Senin, 3 Rajab 1440 H / 11 Maret 2019 07:30 WIB

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1960, Prabowo pindah lagi ke Malaysia. Di sana, Bowo tinggal bersama keluarganya di daerah Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Soemitro membuka pabrik perakitan alat elektronik untuk menghidupi keluarganya. Sementara itu, Bowo kecil bersekolah di Victoria Institution, sekolah Inggris paling bergengsi di Malaysia. Usianya masih menginjak sembilan tahun

Saat itu, hubungan Indonesia dengan Malaysia mulai memburuk. Bowo acapkali mendapat olok-olok dari teman sekolahnya yang berisi umpatan kepada Presiden Indonesia, Sukarno. Ledekan itu malah bikin Bowo jadi berang pada ayahnya. Bowo mempertanyakan alasan mengapa keluarganya memilih tinggal di Malaysia seraya melontarkan ultimatum.

“Saya tahu Papi berseberangan dengan Sukarno. Tapi saya tidak tahan, semua meledek negara kita. Kalau sampai satu tahun lagi saya di sini, saya akan menjadi pro Sukarno,” demikian ucapan Bowo sebagaimana tercatat dalam biografi Soemitro.

Memasuki masa remaja, Prabowo hijrah ke Eropa. Dia dan keluarganya menetap di Swiss. Bowo bersekolah di International School yang terletak di Zurich. Sebagian besar yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari Amerika.  

Hari pertama masuk sekolah, lagi-lagi Bowo dilecehkan. Sebagai anak baru, Bowo memperkenalkan dirinya berasal dari Indonesia. Seseorang kemudian menanyakan dirinya apakah rakyat Indonesia masih tinggal diatas pohon. Pengalaman itu tak bisa dilupakan oleh Prabowo sampai kapanpun.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus