free hit counters
 

Kokam: Pasukan Antikomunis, Penjaga Aset Muhammadiyah (2)

Redaksi – Senin, 16 Safar 1442 H / 5 Oktober 2020 11:00 WIB

Eramuslim.com – Muhammadiyah menganggap pelaku G 30 S adalah pihak yang sama dengan pelaku kudeta tahun 1948, yakni PKI dan ormas-ormasnya. Pada 17 Oktober, Ketum PP Muhammadiyah KH A Badawi bertemu dengan Sukarno, dan memintanya untuk membubarkan PKI dan ormas-ormasnya karena bagi Muhammadiyah tindakan pembubaran ini dianggap sebagai “ibadah”.

Sesudah bertemu presiden, Badawi berbicara dengan Panglima Kopkamtib, Mayjen Suharto. Mereka berdua sepakat Muhammadiyah dan ABRI akan bekerja sama memulihkan keamanan akibat G 30 S.

Di tengah situasi ini, pembentukan KOKAM ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan keluarga Muhammadiyah, Aisyiyah, dan organisasi lainnya di bawah Muhammadiyah. KH A Badawi menyebut tugas KOKAM sebagai “ibadah jihad fi sabilillah”.

Pascaperistiwa Muhammadiyah di Jakarta kemudian KOKAM digiatkan aktivitasnya dan disebarluaskan ke berbagai tempat, terutama di tingkat Daerah dan Cabang. Per Juli 1966, dari catatan yang ada, KOKAM eksis di Jakarta, Yogyakarta, Muntilan, Klaten, Solo, Malang, bahkan Manado.



Di dalam Konferensi Kilatnya di Jakarta pada 9-11 November 1965, Muhammadiyah bersama kelompok pemudanya memaklumkan bahwa “mensirnakan Gestapu/PKI dan Nekolim adalam ibadah.” Bagi Muhammadiyah, ini bukan hanya ibadah sunnah, melainkan ibadah yang wajib ‘ain.

Maka, pengerahan kekuatan untuk menjalankannya adalah jihad. Namun, Muhammadiyah juga menekankan pada kehati-hatian, yakni cara yang dipakai menjalankannya haruslah “menghindarkan ekses-ekses yang merusak, memfitnah, balas dendam, dan sebagainya”. Meski demikian, situasi di lapangan membuat kekerasan dan kerusakan tak terhindarkan.

Perjuangan Kokam

Selain memperluas jangkauannya dengan mendirikan Cabang di seantero Indonesia, KOKAM juga menggalang kerja sama dengan sesama kekuatan anti-PKI. Mereka kemudian bekerjasama dengan Ketua Gabungan V Kopti (Gabungan Operasi Tinggi) Kol. Sucipto. Gabungan kekuatan anti-PKI ini, di antaranya dari KOKAM dan Muhammadiyah (M Suwardi dan Lukman Harun), NU, Partai Katolik, IPKI, Sekber Golkar, Gasbindo dan KBKI, lalu mendeklarasikan pernyataan untuk mengutuk G 30 S PKI.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru