free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (11)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 11:30 WIB

Menghadapi gempuran barisan Mujahidin Aceh di berbagai medan pertempuran, Belanda kehilangan banyak tentaranya. Rakyat Aceh, para lelaki maupun perempuannya, pergi berperang bagaikan orang yang hendak ke pesta walimahan, bergegas, begitu bersemangat, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.

Begitu banyak tentara Belanda yang tertawan, namun amatlah langka rakyat Aceh yang sudi menjadi tawanan kaum kafir. Di mana-mana, walau telah kepayahan, Mujahidin Aceh tidak sudi untuk menyerah hidup-hidup kepada musuh. Mereka terus menyerang Belanda sampai titik darah penghabisan karena tujuan mereka hanya satu: hidup mulia atau mati syahid. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

—————————

[1] Anthony Reid; Asal Muasal Konflik Aceh , Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19; YOI; Cet.1; Jakarta; Juli 2005. Judul asli adalah “The Contest for North Sumatra Acheh, the Netherlands and Britain 1858-1898” diterbitkan oleh Oxford University Press 1969.

[2] Surat Lauden kepada Menteri Tanah Jajahan Van de Putte tertanggal 25 Februari 1873, Officieele Bescheiden, hlm.76.

[3] Ini semacam senandung untuk meninabobokan anak.



[4] Sinyak adalah panggilan untuk anak kecil di Aceh.

[5] Thimpan adalah kue khas Aceh

================

Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus