free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (8)

Redaksi – Jumat, 31 Mei 2019 20:00 WIB

Di muka telah disinggung tentang pergantian tampuk kesultanan dari Sultan Alaidin Mughayat Syah Iskandar Sani kepada isterinya Puteri Safiah atau yang ketika dinobatkan menjadi Sultanah Kerajaan Aceh Darussalam bergelar Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat.

Ketika menjadi penguasa Aceh, Ratu Safiatuddin masih berusia 29 tahun. Walau demikian, ia sangat cerdas dan menguasai sedikitnya empat bahasa asing seperti Arab, Spanyol, Urdu, dan Persia. Bahkan beberapa literatur Aceh pernah menyebut Sang Ratu menguasai tujuh bahasa asing. Ini membuktikan betapa Sultan Iskandar Muda sangat menjunjung tinggi pendidikan bagi anak-anaknya.

Kerajaan Aceh Darussalam pada permulaan abad ke-16 Masehi merupakan salah satu kekuatan lima besar Islam dunia, selain Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Kerajaan Maroko, Kerajaan Isfahan, dan Kerajaan Islam Mughol. Tentu, hal ini telah menjadi pertimbangan masak-masak VOC Belanda saat menaklukkan Kota Malaka dari cengkeraman tangan Portugis. Dengan jatuhnya Malaka ke pangkuannya, maka mau tak mau VOC Belanda kini berhadap-hadapan dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Keberanian Belanda merebut Malaka tidak lepas dari kondisi armada laut Aceh yang mengalami kemunduran sepeninggal Sultan Iskandar Muda. Ketika Sultan Iskandar Muda masih memerintah, armada laut Aceh Darussalam sangatlah kuat dan kekuasaannya luas hingga merengkuh Selat Malaka, setengah Pulau Sumatera, dan sebagian Malaya seperti wilayah Perak, Kedah, Pahang, dan Trengganu.[1]



Dalam catatan Prof. Dr. HAMKA, upaya Sultan Iskandar Muda memperkuat Kerajaan Aceh Darussalam dengan armada perang yang kuat antara lain didasari oleh kenyataan telah didudukinya Malaka oleh Portugis selama satu abad dan jatuhnya Sunda Kelapa ke tangan Belanda.[2] Sebagai seorang raja yang cerdas, Iskandar Muda yakin suatu waktu para penjajah kafir ini akan sampai pula di gerbang Aceh untuk menyerang kerajaannya.

Setelah menguasai Kota Malaka, VOC Belanda memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Aceh dan memungut bea yang sangat tinggi jika ingin melewati daerahnya di sebagian Selat Malaka. Diam-diam Belanda juga menyelundupkan kaki tangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Aceh Darussalam untuk menimbulkan gejolak agar stabilitas politik negeri tersebut rapuh dan kerajaan besar itu diharapkan akan hancur berkeping-keping.

Ratu Safiatuddin Di Tengah Konspirasi Barat Kristen

Bahaya inilah yang dihadapi Ratu Safiatuddin. Sejarahwan Aceh A.Hasjmy bahkan dengan tegas menyatakan bahwa Ratu Safiatuddin sesungguhnya tidak hanya berhadapan dengan Belanda, tetapi dia sebenarnya tengah berhadapan dengan kekuatan imperialis Barat Kristen yang mempusakai warisan Imperium Roma dan Romawi Timur. “Kalau kita akan membicarakan Aceh di bawah pimpinan Ratu Tajul Alam Safiatuddin dan Ratu-Ratu sesudahnya, pada hakikatnya kita membicarakan suatu perjuangan antara Timur Islam dengan Barat Kristen,” tulis A. Hasjmy.[3]

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru