Kongres Bethlehem, Mau Kemana Gerakan Fatah?

Setelah 20 tahun lamanya, sejak kongres terakhir di Tunisia tahun 1989, gerakan Fatah menggelar kongres pertamanya di kota Bethlehem, Selasa (4/8). Sekitar 2.000 undangan akan menghadiri Kongres yang akan berlangsung selama tiga hari ini.

Fatah berharap hasil-hasil kongres bisa mengembalikan dukungan dan kepercayaan rakyat Palestina terhadap gerakan Fatah. Selama ini citra Fatah di mata rakyat Palestina sangat negatif karena ketidaktegasan Fatah dalam menghadapi tekanan Israel dan sekutu Baratnya, isu korupsi dan sikap semena-mena Fatah pada pesaingnya, Hamas.

Mampukah Fatah mengembalikan citranya yang sudah terpuruk di mata rakyat Palestina? Semuanya tergantung pada perubahan apa yang akan dilakukan Fatah setelah kongres nanti, terutama dalam perjuangannya menghadapi rejim Zionis Israel.

Sejumlah pejabat Fatah mengatakan, Fatah akan tetap memilih "perjuangan senjata" sesuai Piagam Fatah saat Fatah didirikan oleh Yaser Arafat tahun 1965. Dalam piagam itu disebutkan, bahwa Fatah memilih perjuangan senjata untuk melenyapkan entitas Zionis dan sampai Palestina meraih kemerdekannya.

Tapi dalam perjalanannya, pilihan perjuangan senjata itu akan dijadikan pilihan terbuka dalam arti perlawanan senjata baru akan dilakukan jika proses negosiasi dengan Israel dianggap gagal dan Fatah menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk mendeklarasikan negara Palestina merdeka secara sepihak jika negosiasi tidak juga menemui titik temu.

"Kami berharap, negara-negara tetangga memberi peluang bagi kami untuk mendirikan negara Palestina merdeka dan hidup berdampingan dengan damai dan aman," kata Abbas dalam pidatonya menjelang kongres.

Garis perjuangan Fatah jelas berbeda dengan Hamas yang dengan tegas memilih perlawanan bersenjata dan menolak mengakui eksistensi Israel. Meski mengklaim memilih "perjuangan senjata" namun pilihan itu dilakukan sebagai upaya terakhir. Di sisi lain Fatah mendukung ide solusi dua-negara yang digelontorkan sekutu-sekutu Israel dan itu artinya Fatah mengakui eksitensi Israel yang bertentangan dengan isi piagam Fatah yang menegaskan akan berjuang sampai entitas Zionis lenyap dari bumi Palestina.

Sejumlah pejabat veteran Fatah mengkritik para pimpinan Fatah sekarang yang sudah melenceng dari garis perjuangan sesuai piagam Fatah tahun 1965. "Piagam Fatah tidak bisa diubah," tukas Nabil Shaath, pejabat senior Komite Sentral Fatah.

Tokoh senior Fatah lainnya, Azzam Al-Ahmad juga menyatakan bahwa "Piagam Fatah tetap akan seperti semula. Tidak perlu didiskusikan lagi."

Ahmad menegaskan, Fatah harus menggunakan segala bentuk perlawanan nasional untuk menghadapi rejim Zionis. "Kita sedang berada dalam fase pembebasan nasional dan kita punya hak untuk menggunakan berbagai cara dalam perjuangan melawan penjajahan sampai negara Palestina merdeka berdiri," tukasnya.

Sejumlah analis menilai sulit bagi Fatah untuk meraih kembali dukungan rakyat dan bersaing dengan Hamas, jika Fatah ingin mengubah isi piagam perjuangannya sebelum mencapai kesepakatan dengan Israel untuk mendirikan negara Palestina merdeka. (ln/aby)