free hit counters
 

Syaikh Raid Shalah Dalam Kondisi Kritis

Al Furqan – Senin, 16 Jumadil Akhir 1431 H / 31 Mei 2010 16:52 WIB

Syaikh Raid Shalah merupakan salah seorang relawan yang terluka oleh serangan militer Israel. Dikabarkan dirinya menderita luka parah akibat serangan militer Israel yang menyerang armada Kebebasan Senin pagi ini (31/5), dan menerima perawatan di rumah sakit Tel Hashomer Israel atas luka tembak di kepala yang ia derita, kata beberapa sumber.

Namun informasi terakhir menyatakan Syaikh Shalah tidak ditemukan di rumah sakit Israel manapun.

Syaikh Shalah adalah pemimpin cabang utara Gerakan Islam di Israel. Ia pernah menggalang protes besar-besaran di wilayah Utara, dan dirinya juga pernah mengalami insiden percobaan pembunuhan.

Syaikh Shalah mengumumkan partisipasinya dalam armada kebebasan pada sebuah konferensi tiga minggu yang lalu di Jerman, dan ia meminta rakyat Palestina yang terusir dari tanah air mereka untuk terus memperjuangkan hak mereka agar bisa kembali.

Shalah baru-baru ini dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa berikut adanya tuduhan bahwa ia telah menyerang seorang perwira Israel pada tahun 2007 selama protes di Al-Quds, di mana dia memimpin kegiatan memprotes penggalian Israel di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa.



Dia juga meminta kedua ulama Muslim dan pendeta Kristen mengadakan pertemuan di Yerusalem Timur untuk mengajukan penentangan mereka terhadap penggalian masjid Al-Aqsha. Namun, pertemuan itu dilarang oleh pemerintah Israel dan Israel mengklaim organisasi yang berada di belakang pertemuan itu, Al-Aqsa Foundation, berafiliasi dengan Hamas.

Penyelenggara bersikeras mengadakan pertemuan, dan mereka pindah ke hotel lain, namun pasukan Israel campur tangan dan membubarkan pertemuan tersebut. Shalah kemudian mengatakan kepada surat kabar Guardian Inggris bahwa tindakan Israel tersebut adalah perilaku kekanak-kanakan."

Syaikh Shalah dibebaskan dari semua tuntutan bulan lalu.

Pada bulan Mei 2003 Shalah ditangkap dan ditahan oleh pasukan Israel atas tuduhan mendanai kegiatan Hamas, ia sempat dua tahun di penjara Israel. Setelah pembebasannya larangan perjalanan dijatuhkan pada dirinya, yang mencegah dia meninggalkan perbatasan Israel dan ia wajib lapor ke polisi Israel setiap bulan.(fq/mna)

Berita Palestina Terbaru