Allah Selalu Memberikan Rezeki bagi Hamba-Nya meski Tak Diminta

Anggap saja kaum atas di sini adalah orang-orang saleh dan bertakwa, sedangkan kalangan bawahnya adalah orang-orang jahat, dan tidak beriman. Kedua kalangan ini sama-sama mendapatkan rezeki dari Allah. Tidak sedikit orang-orang yang kita anggap saleh berada dalam kemiskinan, dan tidak sedikit orang-orang yang kita pandang jahat memiliki kekayaan yang melimpah.

Begitu pun sebaliknya, orang saleh yang kaya, dan orang jahat yang miskin. Artinya, Allah memberikan rezeki kepada siapa saja, bahkan terhadap orang yang tidak pernah bersyukur dan menyembah-Nya. Oleh karena itu, jangan berputus asa dalam menghadapi kesusahan hidup.

Kita harus belajar menerima segala bentuk pengabulan doa dari Allah, meski secara spesifik tidak sama dengan yang kita minta.

Satu waktu, Imam Ibrahim bin Adham bertanya kepada seorang mutawakkil (orang tawakkal):

من أين تأكل؟ قال: ليس عندي هذا العلم, سلْ من الرزَّاق, ما لي شغل بهذا الفضول

Dari mana kau makan?” Ia menjawab: “Aku tidak memiliki pengetahuan soal ini. Tanyalah pada yang Maha Pemberi Rezeki. Bukan aku yang mengurus karunia ini.” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 142).

Artinya, ia hanya memasrahkan semuanya kepada Allah, dan melepaskan diri dari hubungan transaksional semacam, “jika aku bertawakkal, berilah rezeki kepadaku.” Karena ia sudah tahu bahwa rezeki Allah akan selalu ada, dari mulai sebelum dunia diciptakan, sampai dunia dihancurkan, dan seterusnya (tidak terbatas).

Dia adalah al-Razzâq (Maha Pemberi Rezeki). Sejatinya memasrahkan segalanya kepada Allah, tidak akan pernah mendatangkan kerugian, karena Allah lah sebaik-baiknya tempat mengadu dan berkeluh kesah. (Okz)