free hit counters
 

Canda Tarawih

Di sebuah kota bernama Depok, ada cerita lucu yang terjadi sekitar tahun 80-an. Bagi anak-anak SD, Ramadhan menjadi kurang berkesan, bila dahulu kami tidak bercanda saat shalat Tarawih, yang bila canda itu dilakukan oleh anak sekarang mungkin dianggap suatu canda yang agak keterlaluan, (jadi mohon jangan ditiru.) Nama-nama disamarkan demi privasi.

Cucu Nabi pernah bergelayutan pada punggung kakeknya itu yang sedang sujud di dalam shalat. Dan Nabi memperlama sujudnya sampai cucunya puas dan turun dari punggungnya sebagai wujud contoh kasih sayangnya pada anak-anak.

Canda keterlaluan itu dipimpin oleh Si Boding sebagai rajanya jail atau iseng seperti pelawak Komeng di acara TV, namun candanya Komeng itu belum ada apa-apanya dibanding candanya si Boding dkk.

Berikutnya sebagai perdana mentrinya jail ialah si Lancuk yang juga jail dalam bercanda, kadang-kadang juga membalas candanya si Boding.

Di sisi lain ada Dudung dkk, yang rada alim nggak suka bercanda, dan sering menjadi sasaran jailnya si Raja Jail Boding dan Lancuk. Menurut Dudung, “satu-satunya ritual ibadah yang bisa dibuat bercanda oleh anak-anak ialah ibadah shalat, sehingga ibadah shalat tarawih yang bisa berkesan bagi anak-anak sampai selama seumur hidupnya.”

Tarawih Hari-hari Pertama

Jamaah Tarawih meluap bagaikan banjir, meluber sampai ke halaman dan gang menuju masjid, Sandal-Sandal parkir berjubal-jubal berdesakan bagaikan parkir motor di Mall atau ITC.

Ketika itu, menyala lampu otak ide Jail si Lancuk, matanya menatap sandal-sandal swallow yang berjejer. Lancuk menyembunyikan salah satu sandal sebelah kanan si Dudung yang sudah diberi tanda inisial "D", sandal itu dipindahkan ke tumpukan sandal yang agak Jauh. Sandal sebelah kiri diuruk (ditumpuk-tumpuk) dengan sandal-sandal jamaah lainnya, sandal-sandal ditumpuk bagaikan gunung.

Ketika tarawih usai, anak-anak dan para jamaah kelimpungan berebut mencari sandalnya masing-masing yang sudah acak-acakan bercampur dengan sandal bapak-bapak dan ibu-ibu.

"Wah siape yang ngumpetin sandal gue sebelah nih?" kata si Dudung.

"Waduh sandal saya mana?" Kata bapak dan ibu yang ribut. Di tengah keributan si Lancuk nyengir melihat aksi jailnya berhasil.

“Lancuk, pasti elu nih yang Jail” Kata si Boding sambil tertawa memamerkan gigi-gigi putihnya yang besar besar dan tonggos (gingsul) pada gigi taringnya.

Canda Tarawih Hari berikutnya.

Karena penuhnya masjid, pengurus masjid memindahkan anak-anak ke lokasi ruangan pengajian yang menempel dengan sisi kiri dinding masjid, sehingga makin bebaslah anak anak gank Boding bercanda dan jail pada teman-temannya.

Namun mereka kucing-kucingan dengan Bang Leman, lelaki berusia 20 tahunan yang suka berteriak memarahi anak-anak “Hoi jangan becanda!” Si Leman ini bertindak bagaikan satpam di mesjid Al-Furqan yang atapnya berbentuk mirip piramid.

Rakaat pertama, iman sedang membaca Al-Fatihah. Saat Dudung berdiri, Lancuk mengendap-endap datang dari belakang, pelan-pelan tangan Lancuk mengangkat sarung bagian bawah belakang, lalu kain sarung itu diselipkan ke pinggang Dudung. Sehingga terlihatlah betis dan paha celana pendek merah si Dudung yang biasa dipakai ke sekolah.

"Ah elu reseh, jail banget.., batal nih gue.” Dudung melotot dan membatalkan shalatnya sambil mendorong Si Lancuk. Lancuk malah menjatuhkan badannya ke teman-temannya, sehingga mereka berjatuhan satu persatu seperti efek domino. Temannya malah tertawa-tawa membalas dorongan badan Lancuk.

"Aamiin……" teriak seluruh Jamaah. Anak-anak berhamburan berdiri kembali. Dudung lalu buru-buru takbir melanjutkan shalatnya takut ketinggalan rakaat pertama. Lancuk masih cengar cengir, Boding berdiri di samping Lancuk tersenyum-senyum.

Dudung dkk, sedang khusyu shalat, ketika mereka sujud. Tiba-tiba Boding mendekati Dudung, Kedua tangan Boding menarik dua kaki Dudung yang sedang sujud sampai dua kakinya Dudung tertarik lurus, sehingga tangan Dudung menjadi lurus ke depan, tertidur seperti orang tiarap. Boding dan Lancuk terbahak-bahak cekikikan menahan suara tawanya.

“Kampret lu, Boding, batal nih gue!” kata Dudung sambil pergi berjalan ke bagian ruangan shalat utama bergabung dengan barisan bapak-bapak.

Di Hari Berikutnya Canda yang lebih gila.

Saat Khutbah Tarawih, biasanya beredar beberapa Kotak amal mesjid terbuat dari kaleng biskuit yang berbentuk kotak, biasa disebut kaleng biskuit Kh*ng Guan. Ketika khutbah selesai, maka dimulailah shalat tarawih.

Rakaat pertama, imam membaca Al-Fatihah, suasana aman aman saja, semua anak-anak di ruang pengajian itu khusu, ruku, dan itidal, aman tiada yang bercanda.

Tiba-tiba, mata si Boding melihat kaleng kotak amal. Saat itu imam mulai sujud, Dudung ikut sujud. Tapi Boding malah datang mendekati kaleng, lalu membawa kaleng, lalu meletakkan kaleng yang empuk berbentuk kotak itu di betis Dudung yang sedang sujud. sehingga tibalah saat imam bertakbir.

"Allahu akbar," Dudung duduk di antara dua sujud, terdengar “bretek gompreng” berbunyi suara kaleng penyok.

"Aduh…." Dudung berteriak kesakitan karena menduduki kaleng kotak amal berwarna merah yang masih bertuliskan Kh*ng Guan..

“Hihihihih…” Boding dan Lancuk tertawa-tawa.

“Bodiing……………………, gue hajar lu!” Kata Dudung.

“Hoi jangan becanda melulu… ” Kata Bang Leman.

“Hahaha, “ Boding terbirit-birit kabur.

Walaupun canda mereka agak keterlauan, tetapi berkat canda mereka Ramadhan jadi sangat berkesan.



ayahara.cybermq.com


Oase Iman Terbaru