free hit counters
 

Belajar dari Sa'ad

Abdul Mutaqin – Senin, 23 Syawwal 1430 H / 12 Oktober 2009 14:09 WIB

Alhamdulillah, selalu ada jalan hikmah di saat kesulitan menjumpai. Cedera jari Kelingking yang saya alami memberikan banyak pesan yang bernilai amat berharga. Meskipun hanya sebuah jari, tetapi ketika Allah mengambil sebagian fungsi mekanisnya dari sebuah sistem tata kerja jemari yang lima, maka saya merasakan kikuk dalam beberapa waktu. Rasa nyeri dan perih sebab persendin tulang yang bergeser, kulit yang terkelupas, daging yang robek serta satu pembuluh darah kecil yang putus bukan saja membuat kikuk. Lebih dari itu membuat saya menyadari betapa berharganya nilai sebuah kehati-hatian. Adapun nyeri dan perihnya, hanyalah respon alami dari sebuah luka. Ternyata rasa sakit dari sebuah luka adalah juga nikmat yang tersembunyi yang menambah kelezatan rasa nyaman, bugar dan sehat.

Kita bahkan pernah mendengar dan membaca khabar tentang terbukanya tabir hati ahli farmakologi Thailand Profesor Tajaten Tahasen, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Chiang Mai Thailand, baru-baru ini yang menyatakan diri masuk Islam saat membaca makalah Profesor Keith Moore dari Amerika. Keith Moore adalah ahli Embriologi terkemuka dari Kanada yang mengutip surat An-Nisa ayat 56 yang menjelaskan bahwa luka bakar yang cukup dalam tidak menimbulkan sakit karena ujung-ujung syaraf sensorik sudah hilang. Bunyi dari terjemah surat An-Nisa’ tersebut antara lain sebagai berkut;

"Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka terbakar hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain agar mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Para ahli dalam bidang ini menjelaskan, ditinjau secara anatomi lapisan kulit kita terdiri atas 3 lapisan global yaitu; Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan Sub Cutis banyak mengandung ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf. Pada saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus sub cutis) salah satu tandanya yaitu hilangnya rasa nyeri dari pasien. Hal ini disebabkan karena sudah tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent yang mengatur sensasi persefsi. Itulah sebabnya Allah menumbuhkan kembali kulit yang rusak pada saat ia menyiksa hambaNya yang kafir supaya hambaNya tersebut dapat merasakan pedihnya azab Allah tersebut. Maha Besar Allah yang telah menyisipkan firman-firman-Nya dan informasi sebagian kebesaran-Nya lewat sel tubuh, kromosom, pembuluh darah, pembuluh syaraf dan sebagainya. Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baatila subhaanak, Ya Allah tidak ada sedikit pun yang Engkau ciptakan itu sia-sia. Subhanallah, jika orang lain baru mendapat hidayah iman karena riset tentang kulit, semoga iman saya semakin teguh akan kebenaran firman Allah itu setelah merasakan luka kulit.

***

Bekerja dengan jari kelingking berbalut perban dan gif terasa membatasi gerak aktivitas saya beberapa hari ini meskipun perlahan nyeri dan sakitnya berkurang. Praktis, sayapun harus rela naik turun kendaraan umum sebab sementara waktu tidak dapat membawa kendaraan sendiri. Terpikir oleh saya jarak, waktu dan  ongkos tempuh yang lebih jauh, lama dan lebih mahal. Beruntunglah sekali lagi saya beberapa hari kemudian. Ada seorang karyawan kebersihan di sekolah saya mengajar yang bersedia saya ajak berangkat bareng pagi sekali. Kebetulan sekali kami tinggal bersebelahan kampung. Beruntung karena soal waktu berangkat tidak lagi saya risaukan. Risau jika terlambat hadir di kelas. Saya tertolong.

Ada yang istimewa menurut saya selama beberapa hari berangkat bersamanya. Ada kesan yang melekat di hati saya. Dari ceritanya saya tahu, bahwa selama ini ia merasa mendapat ketenangan selama bekerja lebih kurang setahun di madrasah meskipun hanya sebagai petugas kebersihan.

”Hampir dua belas tahun saya bekerja di perusahaan, Pa. Gaji lumayan besar. Kadang-kadang dapat bonus juga. Dekat dengan bos. Tapi, saya tidak mendapat ketenangan seperti sekarang”.

”Kenapa begitu?”, tanya saya.

”Bekerja di perusahaan seperti itu, masing-masing kita saling sikut. Siapa cepat menelikung dapat untung. Yang lambat atau lengah hanya gigit jari. Tidak ada di antara kita untuk saling tenggang rasa dalam soal uang dan pemasukan kantong”.

”Begitu ya, Bang”.

”Paling tidak, pengalaman saya kemarin seperti itu”.

”Abang pernah ikut nelikung tidak?”.

”Gimana ya, Pak. Jujur, saya terbawa dengan suasana kerja seperti itu. Apalagi kalau sudah urusan tender. Nyrempet-nyerempet korupsi. Gila-gilaan. Uang banyak, tapi semangat dan tanggung jawab kerja tidak ada. Apalagi jika sudah pertengahan bulan di saat uang menipis. Malas. Saya kerja seperti tidak tahu untuk apa dan bagaimana seharusnya”.

”Sekarang gimana?”.

”Alhamdulillah, enak. Kebersamaan, ketenangan dan rasa tanggung jawab kerja ada, tidak seperti dulu. Kekeluargaan yang paling saya rasakan menjadi betah. Kerjaan sebagai tanggung jawab bareng. Sekarang walaupun sakit, selama masih bisa ditahan saya tetap masuk kerja. Kecuali kalau sudah tidak bisa saya lawan, baru pere”.

”Maaf, Bang. Walaupun sekarang hanya di bagian kebersihan?”, saya memancingnya lagi.

”Tidak jauh beda dengan yang dulu, Pa. Cuma waktu di perusahaan, saya bagian lapangan. Dan cari kerja sekarang susah apalagi hanya dengan ijazah SMA. Memang gaji lebih kecil. Tapi harapan saya besar di sini. Saya cape kerja kontrak selama dua belas tahun. Sekarang ada harapan jadi pegawai tetap. Saya lihat teman-teman yang sudah lima sampai sembilan tahun di sini, hidupnya lumayan baik. Anak-anaknya bisa sekolah di sini. Padahal masuknya belasan juta …”.

Banyak sekali hasil ”pancingan” saya. Ketajaman naluri manusia akan hakikat kebajikan bisa memancar dari siapa saja, tidak peduli siapa dan bagaimana dia. Kali ini dari seorang petugas kebersihan. Saya percaya, masih banyak pribadi-pribadi yang lain yang sependirian dengannya. Di samping masih tetap ada banyak pribadi yang masih ”betah” bekerja dengan cara-cara seperti ceritanya pada perusahaan tempat bekerjanya dulu.

Sesuatu yang biasa barulah kelihatan keistimewaannya setelah direnungkan. Pengembaraan dalam renungan atas dirinya mengingatkan saya pada tata nilai hidup luhur tanggung jawab manusia sebagai khalifah; pada Allah, diri dan keluarganya, pada sesama dan alam semesta.

Di mata Allah, manusia tetaplah khalifah meskipun menyandang berbagai perbedaan sebutan dan profesi. Kagungan status khalifah seseorang tidak lebih tinggi hanya karena kebetulan ia adalah direktur, sementara di sampingnya pegawai rendahan. Atau anjlok ke tanah hanya karena kebetulan miskin papa, sementara di sampingnya berkacak pinggang saudagar kaya. Tidak. Bukan itu. Tetapi karena kesalehan di mata Tuhan, di mata manusia dan alam semesta. Kepatuhan pada nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kebersamaan, belas kasih, rasa tanggung jawab adalah bagian kecil dari kesalehan itu. Dan nilai-nilai luhur itu menembus batas logika derajat, kasta dan hierarki sosial. Siapapun dapat patuh pada nilai-nilai dimaksud dan siapapun bisa pula mengabaikannya. Terlepas dari semuanya.

Penghasilan kerja atau gaji sebenarnya tidak sebatas urusan dunia yang profan. Bukan sekeder instrumen vital untuk membayar semua kebutuhan hidup, baik yang primer maupun sekunder hasrat duniawi. Tetapi menembus batasnya yang transenden; soal halal dan thayyib dan kebahagiaan ukhrawi. Gaji atau penghasilan yang diperoleh dengan cara-cara halal sesuai takaran beban kerja, insya Allah akan melahirkan keberkahan dan kebajikan. Bahkan mengantarkannya ke pintu surga. Sebaliknya apabila semua itu diperoleh dengan cara zalim, curang dan kotor, akibatnya tidak main-main.

Kerasnya kehidupan duniawi saat ini memancing orang berpikir putus asa dengan mengatakan, ”Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal", seolah melegalkan cara-cara tercela itu. Tidak jarang kemudian banyak orang jungkir-balik bekerja dan mengumpulkan harta demi sesuap nasi meski harus mengabaikan nurani, akal budi dan mengacuhkan imannya. Padahal gara-gara makanan saja, doa kita bisa tidak diterima oleh Allah. Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah." Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya." (HR. At-Thabrani). Hiiii serem.

Khalifah juga tidak mengabaikan dimensi perbedaan sebagai sunnatullah fil kaun atas fungsi yang dijalani seorang hamba. Kehidupan kolektif dalam sebuah ranah institusi sosial, secara mutlak akan menempatkan  si A sebagai pucuk, si B di tengah dan si C di bawah. Karena itu dalam rangka melaksanakan fungsi taklifnya, tidak menjadi siapa yang lebih penting dari siapa, tetapi siapa yang lebih ikhlas dan sungguh-sungguh memikul tanggung jawabnya. Sekalipun ia seorang yang berada di pucuk, dia tetaplah manusia biasa yang baru bisa berdaya dan berhasilguna apabila ditopang tangan-tangan di bawahnya. Bayangkanlah, seorang direktur dalam sebuah sistem tata kerja. Dia tidak akan eksis tanpa kehadiran OB, satpam atau tukang sapu. Di sinilah celah iman mengajarkan untuk menghargai setiap perbedaan pada sisi kemanusiaan bahwa setiap kita adalah mulia.

Maka ibadah dalam konteks relasi kerja atasan dan bawahan semestinya semua mereka bergerak menuju kepada cita-cita menghadirkan kemakmuran bersama, rahmatan lil ’aalamiin. Bukan mengeruk dan menciptakan peluang hanya untuk diri sendiri tanpa peduli atas nasib orang lain dan sekelilingnya. Seperti pembalak hutan yang yang tidak pernah peduli nasib generasi di belakangnya. Seperti koruptor yang tidak peduli dengan nasib perut jutaan orang. Dan entah apalagi terlalu banyak disebut.

Uang dan posisi memang mahal tetapi tidak bisa merekatkan hati. Sebaliknya karena uang persaudaraan bisa putus, yang mudah jadi susah, perkawinan bisa retak dan persahabatan berubah perseteruan. Sementara iman dapat mengubah segalanya ke arah yang lebih baik. Yang pasti iman menunjukkan jalan kedamaian abadi, keselamatan abadi dan kemakmuran abadi.

 

Rasa terima kasih atas sebuah kemurahan.

Depok, Oktober 2009

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus