Kemenangan Itu Ditentukan Pada Garis Akhirnya

Shalat Isya pada Ramadhan malam terakhir, terasa paling sepi dari shalat-shalat Isya yang pernah kurasakan di sini. Maklumlah, banyak jamaah yang mudik pulang ke kampung halaman, bersilaturahim meyambung tali kasih dan persaudaraan, merayakan kebahagian bersama, dan saling menguatkan untuk menjalani kehidupan sebelas bulan ke depan dalam pergumulan dunia yang fana.

Begitulah suasana malam terakhir di bulan Ramadhan, jamaah yang datang berkurang jauh, bahkan lebih sedikit dari jamaah shalat Isya seperti shalat Isya biasanya di luar bulan Ramadhan. Lain halnya dengan suasana di Masjidil Haram seperti kisah seorang ustadz yang pernah hidup di sana. Jamaah yang datang begitu banyak dan berjibun. Seakan tidak ada satu jamaah pun yang ingin tertinggal menikmati detik-detik terakhir di bulan Ramadhan. Tamu-tamu Allah dari berbagai negara yang datang berumrah dan beri’tikaf di masjid kebanggaan ummat Islam sedunia itu, juga mencapai puncaknya pada malam-malam sepuluh terakhir khususnya malam penghabisan bacaan Quran dari sang Iman masjid pemimpin shalat tarawih. Pada malam terakhir inilah dilakukan doa khatmul quran dan qunut yang menderaikan air mata semua jamaah. Perpaduan serasi antara akhir ibadah shiyam dan akhir dari bacaan qur’an, yang mana keduanya (shiyam dan Al-Quran) adalah dua keistimewaan Allah yang mampu memberikan syafa’at bagi orang-orang beriman yang berpuasa dan bertilawah Quran di akhirat kelak.

Siapapun hati orang beriman yang mengalami prosesi agung itu, niscaya akan menangis. Bukan sekedar tangis, tapi tangis yang mencucurkan deraian air mata yang deras. Inilah yang menjadi dambaan orang-orang beriman, yang jiwanya selalu mendambakan kelembutan dan mendambakan jasadnya agar terlindungi dari sentuhan api neraka karena cucuran air mata yang membasahi raganya.

Aku hanya mampu berharap dan berdoa bahwa suatu saat kelak aku bisa mengikuti jejak para kawan yang mampu berumrah dan beri’tikaf di sana, karena menumpahkan air mata dalam bermunajat adalah hal yang dianjurkan oleh agama dan menjadi dambaan orang-orang beriman.

***

Malam berikutnya, malam 1 Syawal, suasana sepi yang kurasakan menjadikan aku terpekur di teras masjid, sementara di dalam sana, beberapa jamaah melantunkan takbir secara berganti-gantian tiada henti. Satu sisi, hatiku merasakan kehampaan karena keterpisahan dari sanak keluarga di kampung halaman. Satu sisi, aku bersyukur mulai mampu menghayati bahwa boleh jadi suasana tempat persinggahan di alam barzah nanti lebih senyap dari yang kini kurasakan.

Di teras masjid ini, kulihat lalu lalang mobil atau orang dalam rangka mempersiapkan hari kemenangan besok hari. Namun tidak ada satu pun yang menyapaiku. Mereka tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Kaum ibu sudah sibukkan oleh urusan dapur yang boleh jadi menjadikannya tertahan di rumah hingga menjelang malam atau dini hari. Boleh jadi di alam barzah kelak, aku bisa mengamati kejadian sebagaimana kini kumenyaksikan televisi. Aku mengetahui gerak-gerik keluarga dan sanak saudaraku, tapi aku tidak mampu berkomunikasi atau berinteraksi dengan mereka. Alangkah sepi suasana hati.

Bersamaan dengan gema takbir yang mengalun dari berbagai sudut masjid dan mushalla, sebagaimana malam takbiran tahun-tahun sebelumnya, selalu kurasakan suasana yang lain dari biasanya. Pun ketika diriku berada di tengah keluarga. Apalagi kini, diriku yang terpisah jauh dari mereka didaerahyang mayoritas non muslim. Aku berpikir kenapa aku merasakan sepi yang demikian? Apakah karena Ramadhan telah pergi bersama dengan segala kemulian dan keberkahannya? Jika demikian halnya, alangkah meruginya aku yang ditinggalkan oleh bulan yang penuh keberkahan tersebut. Suasana malam takbiran yang memilukan terasa sangat kontras dengan suasana hari-hari menjelang kedatangan Ramadhan, yang mana aroma keharuman dan keberkahannya begitu sangat terasa karena rindu di dalam dada.

Rasa sepi memaksaku untuk berpikir bahwa pertemuan dan perpisahan adalah hal yang biasa dalam kehidupan. Setiap pertemuan mewajibkan adanya suatu pepisahan. Ini adalah sunatullah karena sifat kehidupan dunia yang fana dan tidak kekal. Ada sesuatu nan abadi yang menjadi atsar (bekas/bukti) dari pertemuan dan perpisahan yang kualami, termasuk pertemuan dan perpisahan dengan bulan suci Ramadhan, yaitu amal-amal yang tercipta selama pertemuan itu berlangsung. Jika yang tercipta adalah kebaikan, maka Allah akan memberikan pahala dan menyimpannya sebagai tabungan pemberat amal kebaikan di akhirat. Namun sebaliknya jika yang tercipta adalah dosa, maka Allah akan mencatat sebagai pengurang dari timbangan amal kebaikan.

Harus kusadari bahwa hakikat kekalnya amal shaleh dan nisbinya perjalanan waktu, sangat jelas terungkap dalam Al-Quran pada surat Al-Ashr yang populer,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ” (QS 103:1-3).

Ya, kita adalah orang yang merugi di bulan Ramadhan kemarin, kecuali orang-orang beriman yang menghidupkan Ramadhan dengan ibadah dan amal shaleh. Dan kerugian atau kemenangan itu akan mulai nampak seiring dengan terbitnya fajar 1 Syawal. Apakah di bulan-bulan berikutnya nanti kita bisa menjaga keimanan yang menumbuhsuburkan amal shaleh tersebut ataukah sebaliknya?

Rasanya bila mengingat hal demikian, kemenangan kita di hari fitri ini bukanlah kemenangan akhir. Kemenangan ini adalah kemenangan kecil yang belum mencerminkan kemenangan yang sesungguhnya. Karena kita masih akan menjalani hari-hari perjuangan yang lebih dahsyat dalam menghadapi godaan hawa nafsu. Kemenangan ini akan menjadi kemenangan yang sesungguhnya manakala Allah berkenan mewafatkan kita sementara iman yang benar dan hati kita adalah hati yang bersih sebagaimana bersihnya hati orang-orang beriman di hari nan fitri ini. (QS 26:88-89).

***
Kesunyian memberikan hikmah kepadaku, bahwa boleh jadi suasana alam barzah akan lebih sepi dari yang kurasakan sekarang. Hatiku menjadi berpikir apa yang akan membuatku memiliki teman yang mampu menghiburku kelak. Dialah amal shaleh, yang akan memberikan cahaya dan ketentraman di alam kubur.

Kesunyian menyadarkanku bahwa kemenangan di hari fitri ini bukanlah kemenangan akhir. Tiada pantas kita berbangga diri dengan usaha kita di bulan Ramadhan. Malah sebaliknya kita berlindung kepada Allah dari sifat-sifat riya’. Kita memohon kepada Allah agar amal-amal yang kita persembahkan di bulan Ramadhan di terima disisi-Nya. Dan kini kita memohon agar Allah memberi keistiqomahan dalam mempertahankan kemenangan tersebut hingga tiba Ramadhan tahun depan atau saat Allah memanggil kita. Boleh jadi Ramadhan kini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita. Oleh karenanya, motivasi kita untuk mempertahankan kemenangan atau kefitrian hendaknya dijaga. Kemenangan atau kefitrian ini adalah awal dari ujian keistiqomahan.

Ingatlah akan wasiat Rasulullah Saw kepada sahabat Abu Amr r. A ketika dia berkata: Wahai Rasulullah Saw, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu. Beliau bersabda: Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah. (Riwayat Muslim). Hal ini memberi pelajaran bahwa keimanan bisa turun, bisa lemah, bisa lapuk, bahkan bisa mati manakala kita tidak mampu menjaga (istiqomah) keimanan tersebut. Iman yang selalu diiringi keistiqomahan adalah iman yang senantiasa subur, dan sesungguhnya orang-orang yang istiqomah inilah orang yang menang dalam akhir kehidupan sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu"” (QS 41:30)

Semoga kita termasuk orang yang menang di hari fitri ini karena kemurnian iman yang sudah ditempa dengan tarbiyah Ramadhan selama sebulan penuh. Semoga kita mampu mempertahankan kemenangan ini hingga akhir. Karena sesungguhnya kemenangan itu bukan ditentukan saat ini tapi ditentukan pada garis akhirnya, yaitu saat kita menghadap Allah kelak.

Ya Allah, semoga kefithrian kamidi hari ini adalah kefithrian kami saat menghadap-Mu kelak. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Taqobballahu Minna Wa Minkum.

Waalahu’alam bishshawwaab

{Renungan malam takbiran, 1 Syawal 1428 H}