Qurban 12 Bulan

Aku tak percaya. Isnya Allah ini kali kedua aku akan berqurban. Walaupun bila dilihat dengan angka konsumtifisme, tidak akan cukup. Tapi tidak ada salahnya aku mecoba. Untuk berniaga dengan Allah. Karena Dialah, aku memiliki pendapatan, isteri, anak dan segala kenikmatan dunia lainnya.

Akhir tahun 2005. Aku mulai berfikir, bagaimana berqurban dengan cara yang ‘tidak’ memberatkan. Apa maksudnya? Bukankah ibadah Haji dan Qurban itu hanya untuk orang yang mampu? Logikaku seolah melakukan argumentasi pada diriku. Dan beberapa saat kemudian, aku mengiyakan. Tapi suara lain. Bening, jernih dan seolah tak berbeban, membisiki lain. Datang dari lubuk nuraniku sendiri.
Memang kita serba kekurangan, tapi bisakah memintakan padaNya dengan sedikit pengorbanan? Sebagai sarana mendapatkan rezeki yang lebih berkah dan cukup buat kehidupan kita? Bukankah reseki itu dari Allah?
Aku terpana, menatap kosong. Apa yang mesti dilakukan di tengah kegamangan ini?

****

Lagi-lagi aku tersentak. Bahwa urusan rezeki itu bukan kita yang mengatur. ALLAH saja.
Kucoba bermusyawarah dengan isteriku.
“Dek, gimana yah. Kalau tahun ini kita qurban?”
“Dengan apa kak?” tanya isteriku “Menabung, dek”
“Kakak, ingin mengusulkan Program DKM di kantor adalah Tabungan Qurban”
Kebetulan aku diamanahi menjadi Ketua DKM di kantorku.
“Caranya?” tanya lagi isteriku.
“ Caranya adalah dengan menyisihkan gaji bulanan sebesar domba yang dapat dijangkau”
Aku merasa yakin.

****
Kemudian, selaku DKM di perusahaan, kamipun menggagas tabungan qurban untuk seluruh karyawan yang berjumlah kurang lebih 300-an orang. Mulai dari level operator hingga manajer. Tujuan yang hendak dicapai adalah meringankan pemenuhan qurban dengan cara dipotongkan gaji setiap bulan sesuai qurban yang diinginkan. Kami memberikan beberapa pilihan qurban, agar semua karyawan dapat leluasa berqurban sesuai dengan kemampuan kocek masing-masing.

Akhir Tahun 2005, kami sosialisasikan kepada seluruh karyawan. Mulai dari Bandung, Jakarta, Cirebon dan Surabaya. Tentang Program Tabungan Qurban ini. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan, 25 orang dari 300 orang mendaftar menjadi penabung Qurban.

Walaupun hal-hal miris kami temukan dari lisan teman-teman:

“ Wah, boro-boro qurban, bulanan aja kami belum cukup”.
“Masih banyak hutang, nanti aja”.
“Pengen sih, tapi…”
Dsb.

Memang Qurban disyariatkan untuk orang yang mampu. Namun kami melihat, bahwa budaya di kita bukan karena tidak mampu untuk berqurban. Lebih kepada sejauh mana kita berniat. Yah niat!

Bila kita lihat para sahabat radiallahu anhu saja, kita belum seberapa. Mereka teramat miskin. Mungkin lebih miskin dari kita. Tapi apa yang dilakukan oleh mereka saat diizinkan tidak berperang. Dikarenakan mereka tidak memiliki kuda, perbekalan secukupnya, serta senjata yang layak. Bahkan apa kata baginda Rasulullah yang Mulia, ”Kalian mendapatkan rukhsah. Pulanglah ke rumah masing-masing!”.
Mereka semua menangis. Bahkan diriwatkan sepanjang hari menangis.

Tapi ada satu orang yang tidak sekedar cukup dengan menangis. Menangis saja tidak menyelesaikan masalah. Ia harus pergi, walau harus menempu perjalanan ratusan kilo. Hanya dengan berjalan kaki saja. Tekadnya sudah bulat. Ia ambil biji-biji korma. Dikumpulkan dan dimasukkan dalam karung gembolan. Setelah itu berangkat. Menyusul Rasullah dan kaum muslimin pergi ke Tabuk.

Di tengah perjalanan, ia menemukan oase. Badan yang letih dan payah. Mendadak serasa segar dan kuat. Kala melihat air yang begitu menyegarkan. Di tengah terik gurun pasir. Ia tidak mengendarai kuda, onta atau himar. Ia hanya mengandalkan dua kakinya. Kaki yang sebenarnya telah dibebaskan dari pergi berjihad. Tapi tidak bagi sahabat ini. Ia tetap pergi.
Kala air kan masuk dalam mulutnya. Ia teringat pada KekasihNya.
“Sudahkan, Rasulullah minum air ini?” gumamnya “Aku tak akan minum air ini, sampai Rasulullah meminumnya”., tekad sahabat ini.
Ia berjalan terus mengejar, sampaik akhirnya dilihat oleh Rasulullah. Sebagai orang yang sendirian di tengah gurun. Kemudian pingsan.
Rasulullah bertanya padanya, ”Apa yang telah kaulakukan, wahai sahabatku. Padahal di dalam tempat minummu masih terisi penuh?”

Masih dalam sadarnya, ia bercerita akan penemuan oase di tengah gurun. Ia tidak mau meminum air itu. Kala teringat, jangan-jangan Rasulullah belum meminumnya.
Subhanallah siapakah sahabat ini? Dialah Sahabat mulia Abu Dzar Al-Ghifari.
Kemiskinan tidak menghalagi beliau untuk berperang. Niat yang tulus yang melahirkan azzam disertai amal. Telah melahirkan kemenangan yang besar.

****
Meskipun, jumlah kami sedikit. Berqurban domba pun dengan yang paling murah. Tapi dengan niat ikhlas serta ikhtiar, kami beberapa karyawan bisa berqurban. Biarlah kami serahkan semuanya pada Allah. Semoga qurban kami diterima olehNya. Amin.

Semua peserta begitu antusias. Tak terkecuali aku dan isteriku. Seakan tidak percaya. Kala domba yang diantar ke rumah, adalah hasil jerih payah menabung selama 12 bulan. Dengan dipotong gaji.

Sambil bersyukur kepada Allah SWT. Aku ingat-ingat kembali. Sekilas perasaan teman-temanku yang berqurban untuk pertama kali ini:

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan (Adh Dhuha: 11)”.

Ternyata, bila kita masih punya niat dan ikhtiar. Apapun bisa dilakukan. Dan ternyata sekedar niat itu gratis. Tidak berbiaya. Tapi dengan niat itu, membuka sejumlah jalan-jalan rezeki kami (29:69). Semoga seterusnya kami bisa terus berqurban. Semogapun kami bisa menunaikan ibadah Haji. Amin.

Terima kasih Ya Allah.

Bandung, 07 November 2007

Eriman@multiply. Com