free hit counters
 

Sebuah Empati Yang Kunanti

Fivy Miftahiyah – Minggu, 14 Desember 2008 17:58 WIB

Suatu hari, di sebuah desa tempat berlibur seorang gadis kecil; tepatnya di desa tempat tinggal kakeknya.

Anak perempuan kecil itu (usia lima tahun-an) menangis sesenggukan dengan kelelahan. Air matanya telah habis, karena sudah hampir satu jam menangis meraung-raung sambil berlari ke sana ke mari, mengejar teman-teman bermainnya yang terus meledek. Mereka yang meledek tertawa terpingkal-pingkal dengan wajah pongah dan bangga, karena gadis kecil itu tak pernah bisa menyentuh mereka. Mereka adalah saudara-saudara sepupunya; memang memiliki postur tubuh lebih besar, dan memiliki usia lebih tua sekitar 1-2 tahun dari gadis kecil malang itu.

Entah bagaimana awal mulanya. Barangkali sesuatu telah menyentil perasaan gadis kecil ini, hingga pecah tangisnya. Dalam kesedihannya, teman-teman yang melihat dan mendengar keadaannya justru meledek, hingga emosi gadis kecil ini tak terbendung lagi. Meraung-raung, berguling-guling di tanah, dan berlari mengejar teman-temannya. Padahal, kalau pun salah satu dari mereka bisa diraih, ia juga tak tahu akan diapakan tubuh orang yang membuatnya semakin jengkel dengan keadaan ini. Yang ada hanyalah “marah”, “jengkel”, “malu”….. Apalagi terlihat semakin banyak orang berdatangan melihatnya, tersenyum geli, bertepuk tangan akan aksi ngambek dirinya; tanpa ada yang berbelas kasih untuk menenangkannya.

Jauh di lubuk hatinya, ada jeritan…..”Mengapa tak ada yang peduli denganku?, Mengapa semua menertawakanku?”….

Dalam kelelahan dan sedu-sedan tangisnya, tiba-tiba gadis kecil itu merasakan ada yang membelai pelan kepalanya. Agaknya pertolongan yang dinanti telah datang. Suara lembut seorang lelaki muda berbadan tinggi. “Ayo…ikut Pakdhe Raksasa….” kata laki-laki itu menghibur, sambil mengulurkan kedua tangannya. Sedikit ragu gadis kecil itu menerima uluran tangan “Pakdhe Raksasa”. Ia mulai tenang, meski masih sesenggukan. Sejurus kemudian, gadis kecil sudah berada di gendongan Pakdhe Raksasa, nyaman di atas pundak laki-laki tinggi itu, dan melenggang pergi meninggalkan kerumunan orang-orang yang tadi menontonnya, juga sepupu-sepupunya yang seketika diam mengejek, karena pertunjukan telah habis.

“Nah….kamu sekarang tinggi kan di atas pundak Pakdhe Raksasa?” Sang Pakdhe terus menghibur di sepanjang perjalanan menuju rumah kakek. Gadis kecil mulai gembira dan tersenyum. “Ayo Pakdhe…! Lebih kencang jalannya…. kayak kuda…!” teriak gadis kecil riang.

Pakdhe Raksasa telah berhasil menghibur gadis kecil atas insiden yang sempat menderanya. Ia bersyukur lega, karena keponakan kecilnya tak lagi frustrasi dan sedih. Ia tahu, senyum dan tawa gadis kecil merupakan tanda terima kasih yang tak terkira banyaknya, atas sebuah pengertian. Empati yang begitu indah.

Meski peristiwa dipermalukan di depan umum tadi ternyata akan sangat membekas di hati sang Gadis kecil, hingga ia tumbuh dewasa…., bahkan hingga peristiwa sedih itu telah berlalu 27 tahun silam.

(Karena gadis kecil itu adalah diriku… Dan Pakdhe Raksasa itu adalah pamanku, yang mungkin beliau sendiri telah lupa kejadiannya. Terima kasih… Pakdhe Raksasa, aku akan berusaha menjaga perasaan anak-anak kecil sepertimu, karena luka mereka di masa kanak-kanak ternyata bisa mendatangkan trauma…)

fivym.multiply.com

loading...

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus