Asma-ul Husna dan Bisnis (1)

Seral Ekonomi Islam (2)

Berbicara tentang bisnis dalam Islam tidak mungkin dilepaskan dari konsep Islam tentang Tuhan (Allah), dengan menekankan pada sifat-sifat Allah dan perbuatanNya terhadap alam dan manusia. Ada dua alasan utama yang mendasari mengapa bahasan ini harus dikemukakan.

Pertama, untuk memperlihatkan contoh teknis perilaku dengan mengemukakan sifat-sifat Tuhan, yang merupakan contoh terbaik dalam hal berbuat baik. Kedua, untuk memperoleh visi yang jelas tentang prinsip-prinsip "perintah langit" yang diharuskan dalam kehidupan manusia, dimana seorang pelaku bisnis Muslim harus senantiasa menyadarinya di segala waktu dan dalam segala urusan. Untuk lebih jelasnya mari kita simak sebagian deari firman Allah di bawah ini:

"Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang inengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Se¬jahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik (Asma ul-husna). Ber¬tasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Hasyr : 22 -24).

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa- penguasa di muka bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat azdab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An’ aam: 165).

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang yang kafir itulah orang yang zhalim." (Al-Baqarah : 254).

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah per¬mainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadiid : 20).

Allah adalah nama Tuhan yang disebutkan lebih dari 2.500 kali di dalam Al-Qur’an. [1] Allah adalah Pencipta dan Wujud Yang Maha Tinggi (Supreme Being). [2] Dengan demikian, sangatlah logis, sebagaimana yang secara benar dinyatakan Toshihiku Izutsu, Allah menjadi kata yang demikian mendapat fokus dalam kosa kata Al-Qur’an. [3] Sebagai tambahan terhadap nama Allah ini, Al-Qur’an juga membicarakan tentang sifat-sifat Allah, yang biasa dikenal dengan sebutan Asma-ul Husna (nama-nama indah), yang jumlahnya sebanyak 99 nama. [4]

Al-Qur’an menerangkan pada kita semua, bahwa Allah adalah Pencipta Alam semesta yang maha luas, dimana manusia merupakan bagian yang sangat kecil di semesta tersebut, [5] meskipun demikian ia memiliki hal yang unik dan menempati posisi yang sangat istimewa, [6] dimana manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. [7] Dengan demikian, manusia diberi amanah dan tanggung jawab di dunia untuk mewujudkan kehendak Ilahi dalam bidang moral. [8]

Agar manusia mampu melaksanakan tanggung jawab ini secara baik, maka manusia membutuhkan pengetahuan tentang Allah secara akurat, tentang sifat-sifat-Nya, tentang prinsip-prinsip yang Dia gariskan untuk mengatur alam ini secara umum dan kehidupan manusia secara khusus. Semua pengetahuan yang sangat vital ini telah Al-Qur’ an sediakan. [9]

Apa yang tertera di dalam Al-Qur’ an tidaklah bertujuan hanya sekedar informasi namun lebih dari itu ia bertujuan untuk merubah cara pandang manusia dan karakter mereka. Saat membicarakan tentang aspek ini Fazlur Rahman menyatakan, "Al-Qur’ an itu bukan hanya sekedar sebuah Kitab Suci yang deskriptif, namun utamanya adalah sebuah Kitab Suci yang preskriptif. Baik isi risalah yang ada di dalamnya maupun kekuatan formatnya adalah didesain bukan hanya sebagai informasi bagi umat manusia, namun lebih dari itu ia adalah untuk mengubah karakter mereka. Dampak psikologis dan kandungan moral dari pesan-pesan Al-Qur’ an adalah yang memainkan peran utama". [10]

Dampak psikologis dan kandungan moral yang ada inilah yang mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita tentang pernyataan-pernyataan Al-Qur’an yang bersangkut paut dengan sifat-sifat Allah dan prinsip-prinsip yang mendasari tindakan-Nya.

Asma-ul Husna (Nama-nama Allah Yang Indah)

Dari 99 Asma ul Husna yang melukiskan sifat-sifat Allah, seperti yang telah disebutkan di muka, paling tidak 56 di antaranya memiliki relevansi dengan bisnis. [11] Dalam pandangan seorang Muslim sifat-sifat Allah itu adalah standard etik dalam perilakunya. Itulah sebabnya mengapa kaum Muslimin dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai implisit yang ada dalam karakter-karakter ataupun sifat-sifat Allah. [12]

Keimanan kepada Allah, kepada sifat-sifat dan inayah-Nya, tidak hanya mengontrol shalatnya sehari-hari, puasa, zakat dan hajinya, namun keimanan itu pulalah yang mengontrol perilaku bisnis seorang Muslim di pasar. [13]

Sifat-sifat Allah di bawah ini dipilih dengan dua alasan utama. Pertama, sifat-sifat itu sesuai dengan situasi manusia, dan jika dia mau, dia bisa meniru sifat itu dalam kadar yang sesuai dengan kemampuannya. Kedua, dengan mengerti sifat-sifat Allah itu secara sempurna dan komprehensif akan banyak membantu manusia untuk melakukan hal-hal yang baik dan menghindarkannya dari perbuatan-perbuatan tercela dalam bisnis. Asma-ul Husna yang diseleksi adalah sebagai berikut:

Al-Haqq = Yang Maha Benar
Al Adl = Yang Maha Adil
Al-Mugsith = Yang Maha Adil
Al- Barr = Yang Maha Melimpahkan Kebaikan
As-Salaam = Yang Maha Sejahtera
Al-Hadi = Yang Maha Memberi Petunjuk
Ar-Rasyiid = Yang Maha Memberi Petunjuk
Al-Wakiil = Yang Maha Pelindung
Al-Hakiim = Yang Maha Bijaksana
Al-Khabiir = Yang Maha Mengetahui
Al Aliim = Yang Maha Mengetahui
Al-L at hi if = Yang Maha Lembut
As-Samii’ = Yang Maha Mendengar
Al-Bashiir = Yang Maha Melihat
Asy-Syahiid = Yang Maha Menyaksikan
Ar-Raqiib = Yang Maha Dekat
Al-Waajid = Yang Maha Kaya, Pencipta dan Mengadakan
Al-Mu’min = Yang Mengaruniakan Keamanan
Al-Muhaimin = Yang Maha Memelihara
Al-Hafizh = Yang Maha Menjaga
Al-Qawiy = Yang Maha Kuat
Al-Matiin = Yang Maha Kokoh
Ar-Rahmaan = Yang Maha Pengasih
Al-Ghaffaar = Yang Maha Pengampun
Al-Ghafuur = Yang Maha Pengampun
Al-‘Afw = Yang Maha Pemaaf
At-Tawwaab = Yang Maha Pemberi Taubat
Al-Haliim = Yang Maha Penyantun
As-Shabuur = Yang Maha Sabar
Ar-Rauuf = Yang Maha Pengasih
Al-Kariim = Yang Maha Mulia
Asy-Syakuur = Yang Maha Pembalas Jasa
Al-Qudduus = Yang Maha Suci
Al-Waduud = Yang Maha Kasih
Al-Wali = Yang Maha Pelindung
al-Mulk = Maha Raja Diraja
Al-Mugaddim = Yang Mengawalkan
Al-Mu’akkhir = Yang Mengakhirkan
Al-Mu’thi = Yang Maha Pemberi
Al-Maani’ = Yang Maha Pencegah
Al-Qabidh = Yang Maha Mengekang
Al-Basith = Yang Maha Melapangkan
Al-Mugiit = Yang Maha Pemberi
Al-Ghani = Yang Maha Kaya
Al-Mughni = Yang Mengkayakan
Ar-Razzaaq = Yang Maha Pemberi Rizki
Al-Fattaah = Yang Maha Pemberi Keputusan
An-Nafi’ = Yang Memberi Manfaat
Al-Wahhaab = Yang Maha Pemberi
Al-Mujiib = Yang Maha Menjawab permohonan
Al-Hasiib = Yang Maha Awas
Al-Mush = Yang Maha Penghitung
Al-Jami’ = Yang Maha Mengumpulkan
Al-Hakam = Yang Maha Adil

Sifat-sifat Allah Secara Umum

Karena Allah berada di luar batas persepsi manusia, [14] maka pengetahuan kita tentang Allah itu sangat terbatas dan dibatasi dengan deskripsi yang ada di dalam Al-Qur’an. Tatkala kita melakukan studi terhadap Nama-nama Indah Allah (Asma-ul Husna) dalam hubungannya dengan karakteristik-Nya yang lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, maka kita akan mendapatkan gambaran hal-hal sebagai berikut: bahwasanya Allah adalah Sang Maha Pencipta dan Dialah satu-satunya yang memberi kehidupan dan kematian; [15] bahwasanya Dia adalah Pemberi rezki yang menanggung rizki hamba-hambaNya; [16] bahwasanya Dia adalah Maha Benar, [17] cinta kebenaran dan benci kebohongan; [18] bahwa Dia Maha Jujur dan senang kejujuran, benci kecurangan tipu daya dan mengingkari amanah; [19] bahwa Dia tidak bisa ditipu dan dicurangi; [20] bahwasanya Dia itu adalah Maha Adil, cinta keadilan dan benci segala bentuk kezhaliman; [21] bahwa Dia adalah dzat Yang Maha Lembut, [22] yang mengampuni taubat dan permohonan maaf; [23] bahwa Dia lebih senang pada nasehat-nasehat yang baik; [24] bahwasanya Allah memenuhi janji-janji-Nya, [25] Dia benci segala bentuk pengingkaran janji dan sumpah; [26] Dia menghargai dan akan mengganjar semua perbuatan baik; [27] Dia selalu berjalan dengan Sunnah-Nya; [28] dan Dia tidak aka pernah menyimpang dari Sunnah-Nya. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia sendirilah yang menjadi saksi terhadap semua janji, kontrak dan semua urusan yang dilakukan oleh manusia; [29] Dia akan membangkitkan manusia kembali dan akan menghitung amal-amal mereka; [30] bahwasanya timbangan (mizan) dan ukuran (qadar) adalah institusiNya; [31] Dia akan menimbang semua pekerjaan yang kecil maupun yang besar; [32] Dia akan mengadakan perhitungan itu dengan akurat dan detail terhadap amal setiap individu; [33] Dia adalah dzat Yang Maha Cepat dalam perhitungan; [34] dan Dia adalah Hakim Terakhir Yang Maha Adil; [35] Dia adalah pemegang kekuasaan mutlak apakah Dia akan menghukum ataupun mengampuni orang-orang yang melakukan perbuatan dosa. [36]

(bersambung)

Referensi:

  1. Fazlur Rahman. Major Themes of the Quran (Chicago : Bibliotheca Islamica, 1980, 1).
  2. Allah menurut Al-Quraan, tulis Izutsu. " bukan hanya sebagai yang supreme (Yang Maha Ting¬gi), namun la benar-benar Wujud yang benar-benar pantas disebut "Yang Maha Wujud" dalam arti kata yang sebenarnya". Toshihiko, God and Man in the Koran (Yew York : Books for Libraries. 1980, 75).
  3. "Allah adalah kata yang mendapat fokus istimewa di dalam Al-Qur’an. yang melampaui sernua medan semantik yang lain, dan tentunya semua sistem. " Ibid : hal 75.
  4. Ahmad Sakr, Al-Khuthab (Makkah : The Muslim World League, 1977, 153).
  5. Al-Qur’an : 6 : 1,73; 10: 3; 14: 19; 17:99;29:44;55:3;96: 1-2.
  6. Al-Qur’an : 17: 70; 95: 4.
  7. Al-Qur’an : 2 : 30; 6 : 165; 57: 7.
  8. Al-Qur’an : 33: 72. Salah satu kualitas yang membedakan manusia adalah bahwasanya Allah meniupkan roh-Nya pada manusia (Al-Qur’an :32: 9; 15: 29). Artinya ialah manusia diberi pilihan untuk memilih antara yang baik dan yang jelek. dan Allah menciptakan dalam diri manusia kesabaran, cinta dan belas kasihan. Dalam diri manusia terkandung makna kebesaran Tuhan: karena manusia pada hakikatnya adalah sebuah mikrokosmos (Yusuf Ali, op.cit., 1130, no.3781.
  9. Al-Qur’an : 96 :5. Saat berbicara tentang Allah, Fazlur Rahman mengatakan : "Eksistensi Allah, dalam Al-Qur’an, dengan tegas dinyatakan: "Dia adalah Pencipta dan Pemelihara semesta dan manusia. Dan secara khusus Dia adalah Pemberi petunjuk pada manusia dan Dia pula yang akan mengadili, baik secara individu maupun secara kolektif dan Allah memberikan padanya rahmat dan keadilan-Nya." (Fazlur Rahman : op.cit., 1).
  10. Ibid : 22 -23.
  11. Untuk mengetahui secara lengkap tentang Asma-ul Husna, Iihat Ahmad Syakir, op.cit. 153 – 58.
  12. Perkataan “Takhallaqu bi akhlaqillah” (Berakhlaklah kamu sebagaimana Akhlak Allah) adalah perkataan yang sangat masyhur di kalangan para sufi.
  13. Maulana Maududi menyatakan, "Keimanan kepada Allah, kepada sifat-sifat-Nya dan kepada prinsip-prinsip yang ada di dalam Al-Qur’an adalah sebagai pondasi awal dari perilaku seorang Muslim. Keimanan bukan saja mengontrol shalat, puasa, zakat dan hajinya seorang Muslim, namun ia juga mampu mengontrol perilaku bisnis di tengah pasar. Sayyid Abul A’ la Maudu¬di, Mu’ayasyaati Islam. (Lahore : Islamic Publication, 1969, hal 163).
  14. Al-Qur’an : 6 : 103: 42: 11.
  15. Al-Qur’an : 30: 40. Al-Qur’an selalu memerintahkan kepada setiap Muslim untuk senantiasa secara konstan agar sadar akan esensi penciptaannya. Seorang Muslim yang kehilangan kesa¬daran akan anal penciptaannya, sesungguhnya prang tersebut tidak pantas lagi untuk menyan¬dang gelar sebagai Muslim dalam arti yang sesungguhnya. Dengan demikian kesadaran akan sangat berhubungan erat dengan masalah relasi hamba-Pencipta, yakni hubungan antara Allah dan manusia. (Izutsu, op.cit., 122).
  16. Al-Qur’an 6 : 151; 11 : 6; 30 : 40; 20: 123.
  17. Al-Qur’an : 6 : 115: 35 : 5; 51 : 5 – 6.
  18. Al-Qur’an : 19: 50; 39 : 32; 33 : 24; 9 : 119; 33 : 35.
  19. Al-Qur’an : 9 : 77: 3 : 9, 77. 161; 13 :31: 39: 20: 2 :9: 8 : 27.58; 22: 38; 4 : 107. Lihat juga Torrey, op.cit.. 18.
  20. AI-Qur’an : 2 : 9. Lihat juga Torrey. op.cit., 18.
  21. Al-Qur’an : 4 : 10, 40, 58: 5 : 9, 45; 6 : 115. 152, 160: 16 : 90; 21 : 47: 2 : 190, 279; 49 :9; 60 :8; 10: 54: 41: 46: 55 : 9: 57 : 25; 8 : 60; 3 : 108; 45 :
  22. Izutsu mendeskripsikan Allah sebagai : Tuhan keadilan yang tidak pernah melakukan kezhaliman pada siapa saja (Izutsu, op.cit.. 129).
  23. Al-Qur’an :5: 7; 6 : 152; 3 :30., Al-Qur’an : 9 : 104: 16 : 18: 35 :30.
  24. Al-Qur’an : 4 : 58.
  25. Al-Qur’an : 2:40; 9:11; 30:6; 31:33; 34: 3 – 4.
  26. Al-Qur’an : 5 : 92; 9:12; 16 : 91, 9:77; 8 :56; 6 : 152; 2 : 177; 2 : 27; 17 : 94; 23 : 8.
  27. Al-Qur’an : 2 : 268; 4 : 40: 8 : 28, 60; 9 : 120: 16 : 97; 21 : 105; 24:37, 38 dan 55; 28 :35; 30: 6; 47:5; 53: 40 -41: 55: 60.
  28. Al-Qur’an : 35 : 43.
  29. Al-Qur’an : 3 : 98; 4 : 33: 5 : 120; 10 : 61; 22 : 17: 58: 6 -7: 85 : 9. Lihat juga Fazlur Rah¬man, op.cit.. 37 – 38.
  30. Al-Qur’an ; 3 : 30: 58: 6: 39: 70: 69: 18 : 26. Lihat juga. Torrey, op.cit.. 129.
  31. Al-Qur’an : 42: 17; 55 : 7: 57: 25. Lihat, Torrey. op.cit.. 17.
  32. Al-Qur’an : 7 :8- 21 : 47; 7 : 8 – 9; 23: 102 -103: 101 : 6 – 8.
  33. Al-Qur’an : 72 : 28: 58 : 6: 18 : 49; 19 : 94: 36 : 12: 78 : 29. Mat Izutsu, op. cit. 129 dan Torrey, op.cit., 14- 15.
  34. Al-Qur’an : 6 : 62: 21 : 47: 2 :202; 3 : 19. 199: 13 : 41: 40 : 17. Juga lihat Torrey, op. cit., 11-12.
  35. Al-Qur’an :39: 3.7: 42 : 10: 60: 3, 10 dan 83 : 5 – 6.
  36. Al-Qur’an : 6 : 165: 10: 107: 47 : 38.