Asma-ul Husna dan Bisnis (2)

Prinsip-prinsip Bisnis dalam Al-Qur’an

Al-Qur’ an dengan sangat eksplisit mendeskripsikan prinsip-prinsip tertentu yang Allah perintahkan dan kejahatan yang sama sekali tidak Dia ijinkan. Hidup dan nasib manusia secara langsung dipengaruhi dan dikontrol oleh prinsip-prinsip tersebut. Dengan demikian, ekpose singkat tentang prinsip-prinsip itu bukan sesuatu yang hanya dibutuhkan, namun pada saat yang sama ia merupakan sesuatu yang esensial untuk diketengahkan dalam tulisan ini. Untuk tujuan yang mulia ini dan juga demi memberikan kejelasan, prinsip-prinsip tersebut akan didiskusikan dalam hubungannya yang relevan dengan kehidupan, (1). Di dunia dan (2) Di akhirat.

1. Di Dunia

Allah menciptakan alam semesta dan menciptakan manusia untuk menghuni, mengeksplorasi dan mendayagunakan potensi dunia ini. [37] Dia memberikan pada manusia hikmah dan kekuatan untuk memanfaatkan sumber-sumber alam. [38] Allah jadikan segala sesuatu berada dan takluk di bawah kekuatan manusia. [39] Dan Allah jadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. [40] Alasan mengapa manusia mendapat posisi yang demikian istimewa, telah Al-Qur’ an terangkan. Pada saat segala apa yang ada di dunia diharuskan untuk mengikuti hukum alam yang Allah ciptakan tanpa reserve, [41] manusia diberi kemampuan dan kemerdekaan untuk memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk. [42] Dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sekaligus bisa menentukan opsi (pilihan) di antara dua hal itu alas dasar pilihannya sendiri dan kemauan bebasnya. Karena kemauan bebas yang sangat istimewa [43] inilah Allah memberikan amanah dan tanggung jawab pada manusia untuk merealisasikan kehendak-Nya dalam bingkai moral. [44] Inilah, secara singkat raison d’etre tugas utama manusia di dunia.

Kehidupan dunia ini adalah sebuah ujian yang sangat krusial bagi manusia. Dia akan senantiasa dan terus menerus ada dalam ujian, untuk mampu melakukan penempatan kehendak bebasnya secara proporsional. [45] Realisasi dari kemauan Ilahi dalam hukum moral adalah amanah yang diambil secara sukarela ataupun terpaksa. [46] Sebagai tambahan pada rasio dan kapabilitas yang jernih dan tajam, Allah juga mengaruniakan kepada manusia satu etika moral yang komplet dan sempurna dalam bentuk Al-Qur’ an, [47] dimana di dalamnya parameter kebaikan dan keburukan bisa dilihat dengan jelas dan sangat transparan untuknya. [48] Manusia diperintahkan untuk berperilaku sesuai dengan etika moral, guideline (petunjuk) yang ada di dalam Al-Qur’ an. [49] Dia bukan hanya disuruh melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, [50] namun ia juga diperintahkan untuk menyuruh pada kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). [51] Setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan kadar kapasitasnya, sebab Allah tidak akan menyuruh manusia di luar batas kemampuan dan kapasitasnya tersebut. [52]

Allah menempatkan manusia di dunia ini dalam posisi yang berbeda-beda. Oleh karena itulah perilaku mutualistis (saling menguntungkan) dan kooperatif (kerjasama) menjadi sebuah keharusan mutlak. [53] Namun demikian, itu tidak berarti bahwasanya posisi-posisi itu adalah sesuatu yang permanen dan juga sebagai indikasi adanya status final seseorang. Semua itu adalah sekedar variasi kesempatan yang disediakan dalam batas waktu yang terbatas, dalam rangka agar manusia mengaktualkan diri dan menunjukkan nilai dirinya. [54] Posisi final setiap individu manusia akan ditentukan nanti pada Hari Kiamat, berdasarkan rekam jejak kumulatif yang dia lakukan di dunia ini . Di sinilah terletak signifikan dan pentingnya kehidupan manusia yang terbatas di dunia ini. [55]

Di dunia ini mungkin saja manusia tidak memperoleh semua hasil dari apa yang dia kerjakan, walaupun dalam beberapa hal bisa ia peroleh, sebab Allah tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat untuk mencapai segalanya. Maka, perlu kiranya dicatat di sini, bahwasanya segala usaha manusia pasti akan mendapat balasan, jika tidak di dunia ini, pasti ia akan mendapat balasan di akhirat. [56] Oleh karena itulah manusia diperintahkan untuk bekerja keras dan melanjutkan perjuangan di jalan yang lurus tanpa kenal lelah dan jangan sampai resah dengan hasil yang ingin dicapai dengan segera. [57] Hasil yang akan dia capai akan sangat proporsional sesuai dengan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan. [58] Maka jika ada kerusakan dan pengrusakan di dunia itu semua merupakan akibat dari perbuatan jahat manusia. [59] Jika seseorang yang melakukan kesalahan itu bertobat dan mengakui dosa-dosanya, Allah akan menerima tobat mereka, dan akan mengampuni semua dosa-dosanya. Allah juga akan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. [60]

Kehidupan di dunia ini, sangat singkat, pendek dan remeh jika dibandingkan dengan kehidupan yang abadi di Akhirat. [61] Oleh karena itu AlQur’ an sering kali menyebut kehidupan dunia ini hanya sebagai fatamorgana. [62] Masa hidup manusia di dunia ini telah pula Allah tentukan sebelumnya. [63] Allah telah menetapkan bahwa seluruh jiwa akan mencicipi kematian dan dia akan berpisah dengan dunia yang fana ini. [64] Sesungguhnya dunia yang kini kita berada akan berakhir pada saat yang telah ditentukan dan hanya Allah yang tahu. [65] Kehidupan yang abadi di akhirat akan dimulai saat dunia yang fana ini berakhir. Dua konsep tentang dunia kini dan Hari Akhir adalah dua konsep dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan yang tak mungkin bisa dibayangkan wujud salah satu di antaranya tanpa adanya yang lain. [66]

Walaupun kehidupan manusia di dunia sangatlah pendek, namun kehidupan ini sangatlah berarti sebab pada saat di dunia inilah manusia dituntut untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi hari akhirat. [67] Kehidupan di dunia ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan pada manusia untuk berusaha mempersiapkan diri untuk membajak dan menanam "benih" (amal), baik untuk kesejahteraan hidup di dunia ini maupun untuk kesejahteraan hidup di akhirat. [68] Sedangkan hari akhirat adalah semata-mata merupakan masa memetik hasil kerja yang telah dilakukan dan dia tanam di dunia. [69] Semua tindakan manusia di dunia ini selalu dimonitor dan direkam serta disimpan di dalam buku amal (Book of Deeds, Kitab Amal), yang buku tersebut akan diberikan kepada manusia di Hari Pengadilan. [70] Tak ada yang terlewat dari ilmu Allah [71] karena Dia Maha Tahu dan yang selalu hadir di tengah-tengah manusia yang sedang berbisik-bisik dua orang atau lebih. [72]

Walaupun secara fakta apa yang dimiliki manusia, termasuk di dalamnya badan dan jiwanya adalah pemberian Allah, [73] namun demikian, Allah membuat dealing (jual beli) dengan manusia. Dengan membeli jiwa dan harta mereka dan menjanjikan pada mereka surga. [74]

Seorang Mukmin menerima jual beli ini dan menyerahkan jiwa serta semua hak miliknya kepada Allah; artinya ia mempergunakan semuanya itu untuk merealisasikan kehendak Allah. Yang dengan demikian dia yakin bahwa hasil yang akan dicapai adalah surga Allah. Dengan kata lain, kebahagiaan di Hari Kemudian seluruhnya sangat tergantung pada tindakan yang benar dari seseorang selama berada di dunia. [75]

2. Di Akhirat

Al-Qur’an menegaskan secara jelas dan tegas bahwa kehidupan manusia di dunia ini tidaklah berakhir dengan kematian. [76] Kematian hanyalah sebuah pintu gerbang pada sebuah kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan di dunia, yakni kehidupan alam akhirat, [77] yang menurut pandangan Al-Qur’an adalah sebuah kepastian dan tidak mungkin bisa dielakkkan. [78] Kehidupan di akhirat itu berbeda dengan kehidupan di dunia karena Allah telah mencantumkan prinsip-prinsip tertentu untuk mencapai itu. Beberapa keunikan di hari akhirat adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan di akhirat, tidak seperti kehidupan di dunia yang terbatas. Kehidupan akhirat tidak terbatas dan bersifat abadi. Keabadian (khulud) inilah yang merupakan satu hal yang sangat membedakan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. [79]
  2. Manusia tidak akan diberi satu cuil pun kesempatan untuk rektifikasi kesalahan-kesalahannya dan tidak pula diijinkan untuk menambah satu kebaikan apapun ke dalam buku neraca amalnya. [80] Di hari kiamat manusia hanya akan menerima ganjaran dan balasan sesuai dengan apa yang dia lakukan sebelumnya. [81] Oleh sebab itulah Al-Qur’an memperingatkan manusia agar mempersiapkan segalanya untuk menghadapi hari akhir itu selama berada di duni. [82]
  3. Penyesalan dan taubat bagaimanapun ikhlasnya itu dilakukan oleh seseorang pada hari Akhir, tidak akan lagi membawa faedah. [83]
  4. Di sana tidak ada lagi yang namanya bargaining (tawar menawar), tidak juga broker (perantara), tidak pula persahabatan dan tidak akan ada bantuan dari yang lain. Apa yang disebut bantuan terhadap segala macam bencana dan kemalangan yang ada di dunia ini, tidak lagi berlaku di akhirat. [84]
  5. Prinsip tanggung jawab personal akan diterapkan tanpa ada eksepsi (pengecualian) sama sekali. [85] Tak seorang pun mampu memberikan tebusan atau pengganti. Cara demikian tidak lagi bisa dan tidak akan diterima. [86]
  6. Prosedur prosekusi (penuntutan) akan terdiri dari hitungan amal, timbangan perbuatan dan pengecekan semua rekor saksi-saksi dari tindakantindakan setiap orang. [87] Pada saat itu tidak akan ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengelak dan lari serta menyatakan pernyataan palsu serta bukti yang bohong. [88] Dan yang paling mengejutkan bagi para pelaku kejahatan saat itu ialah bahwasanya organ-organ tubuhnya akan memberikan kesaksian atas apa yang pernah mereka lakukan di dunia. [89]
  7. Pengadilan akhir atas orang dan individu akan Allah umumkan. [90] Pengadilan itu akan merupakan pengadilan yang seadil-adilnya yang didasarkan atas hitungan yang akurat dan sempurna serta bukti-bukti yang tidak mungkin untuk ditolak. [91]
  8. Setiap perilaku, baik ataupun buruk, akan dihitung, yang atas dasar perhitungan itulah manusia akan mendapat ‘bayaran’ secara penuh tanpa sedikit pun dikurangi. [92] Saat itu tidak akan ada seorang manusia pun yang akan didzalimi. [93] Dan tak ada amal perbuatan seorang pun yang akan diingkari bahkan dikurangi. [94]
  9. Mereka yang dinilai sebagai orang yang lurus akan Allah berikan tempat tinggal abadi di dalam surga. [95] Sebaliknya orang-orang yang dianggap bersalah dan pendosa, mereka akan dipaksa untuk masuk ke dalam neraka. [96]

Kesimpulan

Pertama : Al-Qur’an menghadirkan Allah sebagai contoh utama kepada manusia dalam segala perilaku mereka. Setiap Muslim diperintahkan untuk meniru sifat-sifat Allah dalam kehidupan mereka, termasuk di dalamnya, perilaku bisnis mereka.

Kedua : Al-Qur’an secara jelas menggambarkan sifat-sifat Allah dan semua prinsip-prinsip yang Allah perintahkan. Semua ini tidak bisa tidak akan mempengaruhi pikiran dan perilaku seorang Muslim, dan menggiring mereka melakukan yang terbaik dan yang sesuai dengan sifat-sifat Allah itu. Manusia-manusia yang seperti ini akan sangat tidak terlalu membutuhkan kekuatan ataupun otoritas luar untuk selalu merasa diawasi tingkah lakunya (karena ia sadar bahwasanya Allah akan selalu tahu, mengawasi dan tidak lalai terhadap tingkah dan perilakunya, yang biasa dikenal dengan konsep muragabatullahi, pent).

Pengetahuan tentang sifat-sifat Allah dan semua prinsip yang Dia perintahkan akan membentuk sebuah pendahuluan yang vital pada konsep-konsep yang unik tentang bisnis yang Al-Qur’an tawarkan.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

(Selesai)

Referensi:

  1. Al-Qur’an : 6 : 1, 73, 101; 10 : 3 ; 16 : 4; 16: 4; 25 : 54; 55 :3; 36 : 71; 2 : 29 dan pada surat 11 : 61 dengan firman-Nya : “ista’marakum fiiha”
  2. Al-Qur’an : 14: 32 – 33; 16: 12; 22: 65; 45: 13.
  3. Al-Qur’an : 45: 13; 22: 26; 7 : 54.
  4. Al-Qur’an:2: 30; 6: 165.
  5. Al-Qur’an : 7 : 54: 13 : 2 ; 22 : 18; 35 : 13; 2 : 216; 30 : 26 dan 3 : 83.
  6. Al-Qur’an : 76: 3; 90: 10; 17: 15; 2 : 185: 18 : 29.
  7. Al-Qur’an : 2 : 256; 7 : 146: 87:3; 76: 3; 27 : 92 dan 2 : 185.
  8. Al-Qur’an : 33: 72. Yusuf Ali menyatakan: "Manusia dengan demikian hendaknya meniru sifat—sifat Allah (walaupun dalam bentuk dan kadar yang sangat kecil), dalam hal Kehendak, Kesabaran, Kasih, Sayang yang membuat dia dekat pada Allah yang juga bisa dilakukan oleh setiap makhluk Allah." Yusuf Ali, op.cit., 1130, no. 3782.
  9. Al-Qur’an : 3 : 186: 6 : 165; 7 :163; 8 : 28; 18: 7: 21 : 35: 47: 31: 57: 25: 7 : 129.
  10. Al-Qur’an : 33 : 72. `hamala’ : yang berarti membawa, memikul (amanah tanggung jawab). Inilah makna yang biasa ditafsirkan oleh mayoritas mufassir".(Yusuf Ali, op.cit., 1130, no. 3780).
  11. Al-Qur’an : 2:2, 185; 17: 9. Al-Qur’an menyebut kode moral itu dengan hudan Ii al-naas (petunjuk bagi manusia). Menurut Fazlur Rahman. "Al-Qur’an adalah Kitab yang secara dasar ditujukan pada manusia"; "la mendesak manusia untuk melakukan keutamaan-keutamaan nilai dan rasa tanggung jawab moral yang kuat".
  12. Al-Qur’an : 2 : 256; 12: 111; 17:12; 6 : 114.
  13. Al-Qur’an : 6 : 106; 10: 109; 75: 18; 7 : 3; 39: 55.
  14. Al-Qur’an : 39: 55; 28:50; 42: 15; 2 : 208: 7: 3: 6 : 155.
  15. Al-Qur’an : 7 : 199; 3 : 104, 110. 114; 9 : 71: 43 : 32.
  16. Al-Qur’an : 2:233.286; 6 : 152; 23 :62.
  17. Al-Qur’an : 6 : 165; 17: 21; 21 : 35; 4 : 32: 16: 71: 43: 32.
  18. Al-Qur’an : 21 : 35; 18 : 7: 6 : 165: 3 : 186; 76 : 2: 67 : 2.
  19. Al-Qur’an : 6 : 132; 17 : 21; 18 : 7, 46: 29: 6. Namun rezki Allah, itu meliputi semua nikmat, tidak hanya diberikan pada orang-orang yang beriman dan berperilaku baik selama hidup nya di dunia. Rezki Allah itu terbuka untuk diperoleh oleh siapa saja, baik orang-orang yang beriman maupun orang yang tidak beriman (Lihat Al-Qur’an : 17 : 20).
  20. Al-Qur’an : 3 : 171; 7 : 170; 9 : 120: 11 : 11; 16 : 41; 29 : 58; 3 : 185; 3 : 57; 11 : 15. Allah akan membalas semua perbuatan manusia ini secara penuh, kadang kala di dunia ini, dan yang pasti semua hasil perbuatan itu akan didapat di Yaum al-Hisaab (Hari Perhitungan). Untuk mengetahui secara detail dan rinci, silahkan lihat, Torrey, op.cit. , 19.
  21. Al-Qur’an : 9 : 105; 23 : 51; 34 : 11. Untuk lebih jelasnya lihat bab 2 dalam buku ini tentang sikap Al-Qur’an terhadap kerja.
  22. Al-Qur’an : 17 : 18-20, 30; 40: 58; 3 : 195; 9 : 94.
  23. Al-Qur’an : 30 : 41. Allah tidak suka fasad (kerusakan). yaitu tindakan koruptif dalam segala bentuknya. Hal ini bisa kita lihat di dalam Al-Qur’an pada : 2 : 205 dan 5 : 67. Saat mengomentari ayat 41 surat Ar-Ruum ini. Khallaf menyatakan bahwasanya, "Allah tidak suka terhadap semua pekerjaan jahat (evil-doing), yaitu tindakan-tindakan koruptif. Sebab semua kerusakan di dunia ini adalah tidak lain karena akibat tindakan manusia sendiri. Tatkala manusia melenceng dari jalan yang benar, Allah akan memberikan balasan untuk "mencicipi" akibat dari perbuatannya yang menyimpang tersebut" (Lihat Khallaf, op. cit. , 35). Fazlur Rahman juga menekankan tentang pentingnya kerja. Merupakan sebuah prinsip dan aturan main Tuhan bahwasanya semua apa yang menimpa manusia adalah konsekuensi dari perbuatan yang dia lakukan sebelumnya. Tak ada yang diperoleh manusia kecuali dari hasil buah tangannya yang dia lakukan (Untuk lebih jelasnya lihat. Fazlur Rahman, op.cit., 108).
  24. Al-Qur’an : 5 : 42: 6:54; 19: 60; 20: 82; 25 :70: 28: 67: 2 : 160; 3 :89; 11 :52; 11 : 90.
  25. AI-Qur’an : 4 : 77: 6:32; 9 : 38, 13 : 26: 29: 64; 18:46; 57 : 20; 16 : 117.
  26. Al-Qur’an : 3 : 185: 6 : 32; 29 : 64: 35 : 5; 57 : 20.
  27. Al-Qur’an : 6 : 2, 60; 7 :34: 10:49: 11 :3; 71 : 4; 23 : 43; 63 : 11: 34 :30; 16: 61.
  28. Al-Qur’an : 3 : 145, 185, 4 : 78: 21:35; 33: 16; 62 : 6; 39 : 20.
  29. Al-Qur’an : 4 : 77; 55 : 26.
  30. Al-Qur’an : 18: 99; 36: 51: 39 : 68; 78: 18. Izutsu telah mengkomparasikan hubungan antara dunia dan akhirat dengan hubungan antara suami dan isteri. Dia menulis : " Seorang laki-laki bisa dinyatakan sebagai seorang suami jika dia memiliki isteri. Konsep tentang suami ini, secara implisit mengandung makna tentang konsep adanya isteri dan sebaliknya. Demikian jugalah dengan konsep tentang dunia telah mengantarkan pada konsep tentang Hari Akhir. Al-Qur’an demikian konsern dengan adanya korelasi ini, sehingga dengan demikian dia menyebutkan dua kata itu secara bersamaan. Atau Dia sebutkan dalarn sebuah "nafas" dan nuansa yang sama. Lihat misalnya pada surat 8 : 67 (Izutsu, op.cit., 85).
  31. Al-Qur’an : 28: 77; 59: 18; 78:40: 82: 5; 89: 24; 2 : 110, 245; 73 : 20: 3 : 30; 17: 21.
  32. Al-Qur’an: 23 : 99- 101.7: 53; 32: 12- 14; 35 : 37; 11 : 93; 39: 93; 29 : 58.
  33. Al-Qur’an : 3 : 30; 16 : 111; 39 : 70; 18 : 49. Esensi Akhirat adalah akan bergantung pada sejauh mana usaha yang telah dilakukan manusia ini di dunia. Dan setiap manusia akan memetik semua apa yang telah dia kerjakan di dunia. Oleh karenanya Al-Qur’an menekankan agar setiap manusia "send something for the morrow" (mengirimkan sesuatu untuk hari esok). Lihat Al—Qur’an : 59: 18; dan lihat juga Fazlur Rahman, op.cit., 108.
  34. Al-Qur’an : 43: 19, 80; 82: 11; 78: 29; 17: 14; 69: 19, 25; 21 : 4; 58: 1; 10: 61.
  35. Al-Qur’an : 6:73; 9 : 105; 13:9: 23 : 93; 35 : 38; 21 : 81; 17 : 25; 2 : 29, 137; 8:43.; 5 : 112. Saat berbicara tentang sistem yang ada di dalam Al-Qur’an Izutsu mengungkap bahwasanya seluruh kegiatan manusia, bahkan hitungan detik dan menit dan sesuatu yang tampaknya tidak begitu penting di mata manusia, akan selalu ada di bawah pengawasan ketat Allah. " (Izutsu: op.cit., 129).
  36. Al-Qur’an : 57: 4; 20: 46; 4 : 108; 58: 7.
  37. A1-Qur’an : 30: 40; 2 : 29; 36 : 42, 71; 17: 20: 38: 39. Segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah pemberian Allah, dimana dia dituntut untuk bisa bersyukur. Izutsu menyatakan ballwasanya. "kesadaran manusia akan ketergantungannya pada Tuhan adalah sebuah awal keimanan yang benar." (Lihat Izutsu : op.cit.. 129.
  38. Al-Qur’an : 9 : 111. Torrey menyebutkan bahwa ide tentang "jual beli" antara manusia dan Tuhan bukanlah hal yang asing bahkan di dalam ajaran kitab-kitab Yahudi dan Kristen. Walaupun dia dengan panjang lebar membahas ini, namun ada satu hal yang sangat menarik saat dia mengatakan tentang dealing Allah dengan manusia. Dia berkata "Hubungan antara Allah dan manusia memiliki watak komersial yang ketat. Allah adalah "Pedagang" yang ideal. Seluruh semesta berada di bawah perhitungan-Nya. Semua hal dihitung dan diukur. Buku (Al-Kitab) dan Timbangan (Al-Mizaan) adalah institusi-Nya. Dan Dia sendiri adalah sebagai dzat yang jujur dalam melakukan dealing. Kehidupan adalah sebuah bisnis, yang bisa untuk untung dan bisa pula rugi. Siapa saja yang melakukan kebaikan dan kejahatan, maka dia harus membayar ongkos perbuatannya itu, bahkan mungkin di dunia. Mungkin hutang dari tindakannya itu masih bisa diampuni, karena Allah bukanlah "Kreditur" yang keras. Kaum Muslimin memberikan "pinjaman" pada Allah, yang mereka bayarkan diawal untuk memperoleh Surga, dia menjual jiwanya pada-Nya, satu bargaining yang mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya orang-orang yang tidak beriman telah menggadaikan kebenaran Ilahi dengan harga yang murah, dan dia bangkrut. Setiap jiwa adalah jaminan terhadap hutang yang dia kontrakkan. Di Hari Kemudian Allah akan melakukan penghitungan terhadap setiap manusia. Aksi-aksi mereka di dunia akan dibacakan di dalam sebuah buku neraca, akan ditimbang di atas Mizan, setiap mereka akan dibayar sesuai dengan apa yang telah dikerjakan, tidak ada seorang pun yang akan dirugikan. Orang beriman dan tidak beriman akan mendapat ganjarannya. Kaum Muslimin (yang menerima banyak ganjaran atas semua amal kerjanya) akan menerima pahala yang demikian spesial. " Torrey, op.cit., 48.
  39. Al-Quraan : 22: 14, 23, 50, 56; 29: 66: 30: 40; 45: 26; 29: 57; 6 : 36; 7 : 57; 30: 50.
  40. Al-Qur’an : 19: 66 – 68; 16: 38; 2:28; 22: 66; 30: 40; 45: 26; 29:57: 6 : 36; 7:57;30: 50
  41. Al-Qur’an : 39: 68; 2 : 4; 4 : 77; 93: 4. Ajal di dalam welstanchung Quraani bukanlah titik terminal (pemberhentian) sesungguhnya dari wujud manusia. Ini hanyalah merupakan suatu ambang batas untuk menuju sebuah kehidupan yang sama sekali baru dan kekal (khulud).Lihat :Izutsu, op.cit., 130.
  42. Al-Qur’an : 2 : 245; 3 : 30, 77; 6 : 164; 39 : 7; 41 : 21; 58 : 6; 69 : 18 – 26; 83 : 5 – 6; 7 : 169: 11 : 19: 16: 60: 29: 64; 87: 17; 22: 7; 40: 59.
  43. Al-Qur’an : 44:56; 25 : 15; 4 : 14.77;2: 25; 43:71; 9 : 38; 72: 23; 50 : 34; 98: 6; 29: 64; 87 : 17.
  44. Al-Qur’an : 2 : 167; 26: 102; 39: 58; 32: 12-14;23: 99; 6 : 158
  45. Al-Qur’an : 20 : 15;40: 17-745: 22; 10: 52; 36: 54; 45: 28; 66: 7; 8:51;22: 10
  46. Al-Qur’an : 59 : 18: 78 : 40; 89 : 24; 2 : 110, 223; 73 : 20. Perbuatan baik yang dilakukan manusia di dunia ini Allah ambil sebagai bayaran awal (prabayar) untuk kehidupan Akhirat nanti. Dan manusia yang telah membayar di awal itu akan mendapatkan ganjaran dari Allah sesuai dengan apa yang dia bayarkan sebelumnya itu. Ini adalah laksana "hutang" yang diberikan pada Allah, yang nantinya akan Allah bayar. (Torrey, op.cit., 45)
  47. Al-Qur’an : 26 : 96 – 102, 39 : 54 -59; 3:90; 32 : 12 – 14; 35 : 37.
  48. Al-Qur’an : 2 : 123, 254-255; 74 : 48; 6 : 51, 70; 32 : 4: 40: 18; 30 : 13: 2 : 48.
  49. Al-Qur’an : 17 : 15; 39:7, 80 : 34-37; 2 : 48. 123, 134, 141, 281; 3 : 25.30; 10 : 30: 16 : 111; 82 : 19: 31 : 33. "Al-Qur’an secara berulang-ulang menyatakan bahwasanya setiap individu, laki-laki dan perempuan, bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan. Satu ajaran Al-Qur’an yang menolak penebusan dosa oleh orang lain (Lihat : Fazlur Rahman op.cit.. 19.
  50. 86. Al-Qur’an : 2 : 123: 17 : 15; 39 : 7; 2:254; 3 : 91: 70 : 10 – 15: 5 : 39: 57 : 15. Lihat juga, Torrey, op.cit., 17.
  51. Al-Qur’an : 99:4 -5: 21 : 47, 94; 7 : 8-9: 41 :20-21:36:65: 11 : 18: 40: 51: 4:41-42,= 10: 46: 5 : 120; 22: 17; 56: 143; 4 : 159; 16: 84 : 22:78: 28: 75; 2 : 202,284; 84:8: 6 : 62; 3 : 19; 13: 18, 40. 14: 41; 23: 117; 88:26; 4 :86.
  52. Al-Qur’an : 20:74; 36: 65; 39: 60; 67: 9: 74: 46; 55: 41.
  53. Al-Qur’an : 41 : 20 – 21; 36: 65. Lihat juga Fazlur Rahman, op. cit. , 110.
  54. Al-Qur’an : 22: 17, 56 – 57; 40: 48; 3 : 55; 2 : 113; 13: 41; 60: 10
  55. Al-Qur’an : 21 : 47; 657; 60: 10; 10: 109; 95 :8; 13 : 40; 40: 17; 4 : 86; 72: 28; 58: 6; 18: 49; 36: 12; 78: 29.
  56. Al-Qur’an : 3 :30; 6 : 160; 2 : 22-t: 3 : 25; 39: 70; 21 : 47, 94; 16: 111; 99: 8. Tentang konsep perbuatan sebagai satu-satunya barang dagangan di Akhirat, lihat Fazlur Rahman, op.cit., 109 dan Torrey, op.cit., 16-17.
  57. Al-Qur’an : 4 : 77; 6 : 160; 2 : 272, 179, 3 : 25; 21 : 47; 16: 111„ 39: 70. Lihat juga Torrey, op.cit., 32.
  58. Al-Qur’an : 21 :94; 99: 7 – 8; 11 : 109; 3 : 171; 7 : 170; 9 : 120; 18 :30; 3 :57; 4 : 173
  59. Al-Qur’an : 4 : 124; 19 : 60; 13 : 23; 16 : 31; 35 : 33; 7 : 49: 39 : 73; 50: 34; 4 : 57; 58 : 22: 2: 25; 3 : 136, 198.
  60. Al-Qur’an : 40 : 60.76; 16: 29; 39: 72; 4 : 14: 59:17; 2 : 39, 81, 217, 257; 3 : 116; 5 : 83 ; 13 : 5; 72 : 23. Izutsu mengatakan, "bahwasanya konsep tentang Surga dan Neraka yang ada di dalam Al-Qur’an secara langsung berhubungan dengan kehidupan manusia di atas dunia ini. Hal ini sangat berhubungan dengan nilai-nilai moral manusia. Manusia selama berada di dunia disarankan dengan sangat untuk selalu memilih jalan-jalan menuju Surga dan menjauhi jalan—jalan yang mengantarkan ke Neraka" (Lihat Izutsu, op.cit.. 89)