Mengapa Gencar Meminta Maaf Saat Ramadhan Baru Datang?

Bulan suci Ramadhan 1432 H sebentar lagi insya Allah akan kita masuki. Tentu banyak persiapan yang kita lakukan untuk menyambut bulan tersebut, seperti mempersiapkan daftar menu sahur dan berbuka khususnya bagi para ibu rumah tangga, sampai mempersiapkan fisik yang bugar dan juga tentunya telah jauh-jauh hari telah melakukan “Pemanasan amaliyah” agar lancar ketika beramal ibadah yang wajib maupun yang sunnah di bulan Ramadhan nanti.

Dalam persiapan yang saya sebutkan di atas, tentu sudah merupakan hal yang lumrah. Namun yang menjadi persoalan selanjutnya adalah adanya sebuah “persiapan” lain yang juga dilakukan bahkan terkesan menjadi wajib hukumnya setiap mau memasuki bulan Ramadhan, yakni saling meminta maaf terhadap kerabat ataupun rekan kerja, teman sepermainan, pun terjadi di kalangan aktivis dakwah.

Salahkah saling meminta maaf? Tentu tidak. Manusia memang adalah tempatnya berbuat khilaf, jadi sudah selayaknya saling meminta maaf.

Nabi SAW bersabda : “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a]

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

Namun yang menjadi persoalan adalah jika meminta maaf itu menjadi ritual setiap tahun satu kali yakni menjelang memasuki bulan Ramadhan.

Jika perbuatan itu menjadi ritual tahunan dan juga menjadi sebuah keyakinan dalam beramal maka tentu saja perbuatan itu harus dibarengi dengan dalil seputar amal, karena sebuah ibadah harus dikerjakan dengan tuntunan syariah Islam, jika tidak maka amalan itu akan tertolak. Sebagaimana rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal daripadanya, maka semua itu tertolak.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah)

Memang ada dalil (yang di duga dalil) yang juga sering di sertakan oleh orang-orang yang melakukan ritual meminta maaf sebelum ramadhan tersebut, yakni yang berbunyi :
Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.
Do’a Malaikat Jibril itu adalah:
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

  1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
  2. Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
  3. Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Namun yang menjadi persoalan adalah, mereka yang sering memforward hadist ini tidak pernah mengikutsertakan perawinya. Yang berarti menunjukan bahwa teks hadist di atas adalah hadist yang hanya sering di share setiap mau memasuki bulan Ramadhan, padahal sebuah hadist harus ada perawi yang disebutkan guna mengetahui sahih ataukah dhaif hadist itu atau bahkan terkategori hadist palsu.

Entah siapa orang yang menjadi Trendsetter sehingga sekarang telah berhasil memililki follower dengan ritual tahunan ini.

Memang ada hadist yang mirip dengan hadist di atas, namun isinya sangat berbeda, walaupun masih menjelaskan seputar ramadhan. Dan hadist ini memiliki perawi, tidak seperti hadist di atas.

Untuk lebih jelasnya, makna hadits tersebut bisa anda baca salinan dibawah ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah SAW pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin" Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?" Beliau bersabda. "Artinya : Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin…."

[Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin]. Disalin dari Sifat Puasa Nabi SAW, hal. 27-28, Pustaka Al-Haura.

Yang lebih lengkap lagi dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam

"Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata ‘Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin". [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma’uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka’ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

Dengan demikian, hadist diatas tidak ada hubungan dengan keharusan bermaafan sebelum puasa Ramadhan.

Sebagaimana yang saya katakan di atas, meminta maaf itu memang sebuah kewajiban, terlebih lagi jika kita memang memiliki kesalahan terhadap orang lain, namun bukan berati harus menjadi ritual tahunan ketika mau memasuki bulan Ramadhan. Mengapa tidak meminta maaf sebelum mau datang Ramadhan saja, apakah meminta maaf yang dilakukan ketika mau memasuki bulan Ramadhan bukan didasari niat yang ikhlas mau meminta maaf kepada orang yang kita memiliki salah dengannya? Karena hanya takut puasanya tidak diterima oleh Allah swt dengan berhujjah pada hadist yang tidak jelas sumbernya itu, bukan karena takut dengan dosa karena tidak dimaafkan?

Selain itu, kesalahan yang tidak sengaja atau tidak disadari tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,
“Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)

Sehingga, perbuatan meminta maaf kepada semua orang tanpa sebab bisa terjerumus pada ghuluw (berlebihan) dalam beragama.

Khatimah

Meminta maaf itu bisa dilakukan kapan dan dimana saja, jika merasa punya salah dan menyakiti hati orang lain maka bersegeralah kita meminta maaf, tidak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan, sehingga seolah ketika mau memasuki bulan Ramadhan barulah berlomba-lomba meminta maaf, padahal itu bukan ibadah yang Islam ajarkan. Sehingga mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun tidak dibenarkan dalam Islam dan bukan ajaran Islam.

Wallahu A’lam.

Adi Victoria
[email protected]

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan
Selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan 1432 H
Semoga semakin meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt
Semakin memperkokoh ghirah juang untuk tegaknya kehidupan Islam
Sehingga Izzah islam wal muslimin kembali terwujud. Amin