• Kamis, 22 Ramadhaan 1431/ 2 September 2010
 
 

Google dan Bisnis "Mata-Mata"nya dengan Intelijen AS

Perkembangan teknologi ponsel dan situs-situs video di dunia memungkinkan penggunanya untuk mengunggah ribuan klip rekaman video ke internet setiap harinya. Perkembangan ini ternyata mendapat perhatian khusus dari badan intelejen AS. Badan-badan intelejen Negeri Paman Sam itu kini sedang berupaya memantau apa yang mereka sebut sebagai "open source intelijen", informasi-informasi yang disampaikan secara terbuka oleh publik, atau disamarkan dalam acara-acara televisi, radio, rekaman video yang diunggah ke internet, artikel-artikel di koran atau tulisan-tulisan di blog pribadi.

Untuk memantau "sumber informasi intelijen" itu, AS membentuk lembaga lntelligence Advanced Research Projects Activity (IARPA) dan lembaga ini menggulirkan proyek ALADDIN ( Automated Low-Level Analysis and Description of Diverse Intelligence Video) untuk mengamati dan menganalisa klip-klip video yang diunggah ke dunia maya, yang dianggap bisa dijadikan informasi intelijen yang penting.

Komunitas intelijen di AS sebenarnya sudah melakukan kegiatan serupa sejak tahun 2008 , yang dilakukan oleh kantor Director of National Intelligence's Open Source Center. Pimpinan kantor itu pernah mengatakan bahwa YouTube--situs dimana penggunanya bisa mengunggah berbagai rekaman video--memberikan sejumlah informasi unik, terbuka dan jujur yang sangat bermanfaat bagi kepentingan kerja intelijen.

CIA juga menggandeng Google untuk mendukung perusahaan "Recorded Future" untuk memantau situs-situs internet dari detik ke detik dan menggunakan informasi-informasi yang mereka dapatkan untuk membuat prakiraan apa yang akan terjadi. Dari situs internet dan situs jejaring sosial, mereka juga memdokumentasikan orang-orang yang dianggap berguna dan bisa dimanfaatkan oleh para agen intelejen AS.

"Recorded Futures" bertugas mengumpulkan puluhan ribu data dan informasi yang diambil dari situs-situs internet, blog dan akun Twitter untuk mendapatkan informasi tentang hubungan antara pengguna dan pemilik situs atau akun jejaring sosial, dengan organisasi-organisasi, aksi -aksi dan peristiwa-peristiwa tertentu, baik yang sedang terjadi atau yang mungkin akan terjadi. Perusahaan itu mengklaim memiliki mesin pencari analitik yang bisa mengungkap "hubungan-hubungan" yang tidak kasat mata terkait dokumen-dokumen yang membicarakan tentang peristiwa dan entitas yang sama atau saling berhubungan.

Sebagai contoh, terjadi suatu peristiwa yang mengundang perbincangan di dunia maya tentang siapa yang terlibat dan di mana peristiwa itu terjadi. "Recorded Future" mampu menggali informasi siapa saja orang-orang di internet yang terlibat dalam perbincangan itu.

"Yang canggih dari proyek ini, dalam banyak kasus, Anda bisa memprediksi kecenderungan yang akan terjadi," Christopher Ahlberg, kata CEO perusahaan tersebut. Ahlberg adalah mantan tentara Swedia yang juga memiliki gelar Ph.D. di bidang ilmu komputer.

Menanggapi fenomena ini, para pakar mengatakan bahwa investasi CIA di perusahaan tersebut menjadi indikasi bahwa agen-agen intelijen kini berusaha memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang untuk membantu kerja intelijennya.

Bukan sekali ini Google menjalin kerjasama bisnis dengan badan-badan intelihen di AS. Tahun 2004, Google perusahaan Keyhole, perusahaan pemetaan yang didukung oleh perusahaan In-Q-Tel. Lewat In-Q-Tel, lembaga-lembaga intelijen AS menanamkan investasinya ke sejumlah perusahaan yang membantu badan-bdan intelijen itu agar lebih baik dalam mengumpulkan informasi. Keyhole, sekarang menjadi Google Earth yang dimanfaatkan oleh unit intelijen militer.

Google memang belum mengumumkan secara resmi kerjasamanya dengan CIA, tapi perusahaan mesin pencari itu menuai kritik dari banyak kalangan karena kedekatannya dengan pemerintah AS. Semua orang tahu bahwa Google menyimpan informasi yang melimpah tentang semua aspek kehidupan manusia di dunia maya. Sejauh ini, para pengguna Google percaya saja pada mesin pencari itu, apalagi dengan janji bahwa Google menyalahgunakan informasi para penggunanya.

Tapi fakta bahwa Google menjalin kerjasama bisnis dengan komunitas intelijen AS membuat kepercayaan itu meluntur. Ryan Calo, dari Pusat Kajian Internet dan Masyarakat di Sekolah Hukum Stanford mengungkapkan keprihatinannya tentang kedekatan Google dengan badan-badan intelijen AS. "Informasi-informasi itu akan digunakan untuk menjaring para tersangka teroris. Apakah Google cukup mumpuni untuk memberikan informasi yang akurat soal siapa yang benar-benar teroris?" ujarnya. (ln/arabnews)

Jumat, 30/07/2010 12:56 WIB | email | print | share
 
 
 
 

Dunia Lainnya

Dunia
membuka hati dan pikiran kita
 
   
 
 

PELUANG

 
 
 

Realistiskah Target Konversi Bank BUMN Menjadi Syariah?
Realistiskah target untuk mengkonversi salah satu bank BUMN menjadi bank syariah? Menjaab pertanyaan tersebut A. Riawan Amin selaku Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbi...

BI Dorong UUS Percepat Spin Off
Upaya Bank Indonesia (BI) unttuk mendorong penetrasi pasar perbankan syariah Indonesia  dengan menganjurkan kepada Unit Usaha Syariah (UUS) untuk mempercepat spin off menjadi...

3 BPD Syariah Terbaik 2010 Versi Majalah Investor
Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Pembangunan Daerah (BPD) memperoleh penghargaan sebagai UUS Terbaik 2010 dari Majalah Investor. Ketiga BPD Syariah tersebut adalah UUS BPD Aceh d...

Prof Thoby Mutis : Bank Syariah Lebih Banyak Kembangkan Musyarakah Fund!
Prof Thoby Mutis merupakan sosok yang tak bisa dilepaskan dari Universitas Trisakti. Saat ini Prof Thoby Mutis merupakan Rektor Universitas Swasta Ternama di Indonesia. Dibawa...

 
 
 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Anak Pemarah

Saya wanita bekerja dengan 4 anak yg masih kecil-kecil paling besar kelas lima SD, saya membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi suami karena suami jauh. Karena saya sendiri kadang-kadang dalam mendidik anak saya terlau emosional.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Pengungsi Sinabung, Logistik Masih Minim

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa hari ini cenderung menurun. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi, seperti meletusnya gunung ini Minggu (29/8) dini hari yang di luar prediksi para ahli.