Malangnya Nasib Si "Kapal Gurun Pasir" di Australia
.jpg)
"Jangan bunuh unta-unta kalian. Berikan saja pada kami" , begitulah kalimat yang tertulis dalam pesan yang disebarluaskan masyarakat Arab Saudi lewat situs-situs internet. Pesan itu ditujukan pada pemerintah Australia yang belum lama ini mengumumkan akan melakukan "pembunuhan" massal 6.000 unta liar yang ada di Australia.
Eksekusi itu rencananya akan dilaksanakan pekan depan di sebuah kota kecil di utara Negeri Kanguru itu. Pemerintah Australia mengambil keputusan itu karena unta-unta tersebut dianggap mengganggu sumber makanan domba dan sapi yang menjadi hewan ternak utama di Australia. Dengan kehadiran unta-unta itu, hewan-hewan ternak harus bersaing mendapatkan makanan.
Selain itu, unta-unta itu dilaporkan sering masuk ke pemukiman-pemukiman penduduk untuk mencari air dan menginjak-injak tanaman mereka, bahkan ada yang sampai masuk ke kamar mandi dan merusak pipa-pipa air sehingga membuat warga ketakutan.
Setelah mendengar pengumuman pemerintah Australia yang akan mengeksekusi ribuan unta di negeri itu, masyarakat Saudi langsung membuat kampanye massal lewat dunia maya untuk menyelamatkan unta-unta yang ada di Australia dari ancaman eksekusi. Dalam kampanye tersebut, warga Saudi menyerukan orang-orang kaya penyayang unta di Saudi untuk membawa onta-onta Australia ke Saudi.
Unta merupakan hewan favorit masyarakat bukan hanya di Saudi dan negara-negara Teluk tapi juga masyarakat di sebagian wilayah Afrika dan Asia. Bagi masyarakat Saudi, unta adalah hewan yang sangat disayang dan dihormati. Oleh sebab itu mereka menggalang dukungan lewat internet untuk menyelamatkan unta-unta yang ada di Australia. Dalam kampanyenya, masyarakat Saudi mengutip ayat ke-17 dari Surat Al-Ghasiyah yang menyerukan Muslim untuk merenungkan bahwa hewan unta adalah simbol keajaiban dari ciptaan Allah Swt. Dalam ayat itu disebutkan,"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?". Unta dikenal dengan julukan "kapal gurun pasir" karena hewan ini mampu bertahan hidup selama berhari-hari tanpa makanan dan air.
Unta bukan hewan asli benua Australia, unta dibawa ke Australia dari Afghanistan pada era tahun 1840-an yang digunakan sebagai kendaraan untuk perjalanan ke daerah-daerah pedalaman. Saat ini, terdapat lebih dari satu juta unta di Australia dan diperkirakan jumlahnya akan meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun.
Kampanye menyelamatkan unta yang dilakukan masyarakat Saudi mendapat respon dari beberapa peternak unta yang menyatakan kesediaannya untuk menerima unta-unta dari Australia. "Saya sudah punya lebih dari 80 unta tapi saya bersedia menerima unta-unta dari Australia sebanyak mungkin," kata Salim Al-Hajjaji, seorang peternak unta di Saudi.
"Umur saya sekarang 50 tahun tapi jiwa saya terpaut dengan hewan unta seperti ketika saya masih anak-anak," kata Salim yang sejak kecil mengaku sudah terbiasa dengan unta.
Peternak unta lainnya, Khalifa Al-Bigaili berharap para pengusaha di kawasan Teluk mau membawa unta-unta yang ada di Australia dan memeliharanya di peternakan untuk diambil susunya. "Kami bisa membeli unta-unta itu dengan harga murah atau mendapatkannya secara gratis dari orang-orang Australia yang tidak menginginkan unta-unta tersebut," ujar Al-Bigaili. (ln/arabnews)
Lainnya (Arsip)
- Di Balik Bantuan Pangan Internasional Di Dunia Ketiga
Rabu, 20/01/2010 09:11 WIB - Walaupun Sengsara, Rakyat Gaza Tak Melupakan Haiti
Rabu, 20/01/2010 09:11 WIB - Facebook Hapus Account Milik Syaikh 'Awad Al-Qarni
Rabu, 20/01/2010 08:48 WIB - Upaya Mauritania "Tundukkan" Al-Qaidah
Rabu, 20/01/2010 08:12 WIB - Mengapa Banjir Besar Masih Menggenangi Saudi?
Rabu, 20/01/2010 05:48 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




