Mesir Janji Buka Perbatasan Rafah Tanpa Batas Waktu

Setelah tragedi Freedom Flotilla yang menjadi perhatian dunia, Mesir menyatakan akan membuka perbatasannya dengan Jalur Gaza dalam batas waktu yang tidak ditentukan.
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Hossam Zaki, Selasa (8/6). Namun otoritas perbatasan Mesir belum sepenuhnya memberikan keleluasaan pada warga Gaza yang ingin masuk ke wilayah Mesir.
Warga Gaza yang dibolehkan masuk ke Mesir hanya mereka yang sudah mendapatkan izin khusus, termasuk para mahasiswa, orang-orang yang membutuhkan perawatan medis dan warga Gaza yang telah mendapat izin dari aparat keamanan Mesir.
Sejak perbatasan dibuka seminggu yang lalu, ribuan warga Gaza berbondong-bondong melintasi perbatasan Rafah yang berada di kawasan Sinai. Mesir menyatakan perbatasan Rafah akan tetap dibuka sampai ada kebijakan lebih lanjut.
Perbatasan Rafah adalah satu-satunya pintu gerbang Gaza ke dunia luar yang menjadi harapan warga Gaza. Tapi pemerintah Mesir---yang berkawan dekat dengan Israel--menutup perbatasan itu bersamaan dengan blokade yang dilakukan rezim Zionis Israel atas Jalur Gaza. Akibat penutupan perbatasan Rafah krisis kemanusiaan di Gaza makin memburuk. Warga Gaza terpaksa menggali terowongan-terowongan untuk sekedar bisa mendapatkan kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Terowongan-terowongan itu pun, jika ketahuan, akan dihancurkan oleh aparat Mesir.
Semenatara, para pejabat Israel di Yerusalem mengklaim bahwa Mesirlah yang melobi Israel untuk memperketat blokade atas Gaza sebagai cara untuk menekan Hamas agar membebaskan prajurit Israel yang diculik Hamas pada tahun 2006 dan agar Hamas mau menyetujui persyaratan damai yang diajukan oleh otoritas Palestina.
Tapi dalam pernyataannya, Hossam Zaki mengatakan bahwa Mesir adalah negara yang menginginkan agar blokade Israel di Gaza segera diakhiri. "Kami tidak akan membiarkan Israel mengelak dari tanggung jawabnya," tukas Zaki.
Meskipun faktanya, selama menutup perbatasan Rafah, Mesir sama sekali tidak mengizinkan warga Palestina melewati perbatasan, termasuk para mahasiswa Gaza yang sudah mendapatkan surat izin khusus. Setelah dibuka pun Mesir hanya membolehkan bantuan kemanusiaan yang membawa kebutuhan sehari-hari dan tetap melarang bantuan berupa bahan bangunan, sesuai kebijakan Israel. (ln/hrtz)
Lainnya (Arsip)
- Yahudi Dalam Media Amerika
Rabu, 09/06/2010 16:11 WIB - Tersangkut Hamas, Pimpinan Islamic Center di AS Terancam Dideportasi
Rabu, 09/06/2010 15:23 WIB - Juni Hitam Untuk Tentara Amerika Di Afghanistan
Rabu, 09/06/2010 14:42 WIB - Mengapa Zuckerberg Tak Mau Menjual Facebook Senilai $ 1 Milliar?
Rabu, 09/06/2010 14:10 WIB - Partai Sayap Kanan Belanda Menang?
Rabu, 09/06/2010 13:25 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




