Juwita yang Tak Punya Anus

Muhammad Nuh – Jumat, 11 September 2009 10:53 WIB


Malang benar nasib Juwita (2 tahun). Proses kelahirannya yang dibantu paraji, memang normal tanpa masalah. Hanya saja, dua minggu setelah lahir, orang tuanya baru mengetahui kalau kondisi bocah itu tidak punya anus (ilmu kedokteran menyebutnya atresia ani).

Orang tua mana yang tidak sedih melihat buah hatinya setiap buang air besar (BAB) harus melalui saluran vagina. Yang lebih menyedihkan, Juwita ditinggal pergi begitu saja oleh ibunya. Sang ibu rupanya tidak terima dengan keadaan Juwita.

“Istri saya tiba-tiba minta cerai gara-gara Juwita sakit begitu. Saya makin pusing saja!” keluh Juli Saputra (30), ayah Juwita.

Juli tidak ingin menambah beban Juwita. Ia tak mau putri sewata wayangnya dibiarkan terus menderita sendirian. Juli meminta ibunya untuk merawat Juwita, sementara dirinya akan bekerja keras mencari duit untuk biaya pengobatan Juwita.

Saban hari Juli banting tulang. Namun, pendapatannya sebagai buruh bangunan selalu mentok Rp 30.000 perhari. Jangankan untuk mengantar Juwita ke dokter, untuk makan dan bayar kontrakan saja, Juli selalu kekurangan.

“Saya stres, setiap hari memikirkan nasib Juwita. Nggak tahu lagi saya harus bagaimana nyari duitnya,” nada bicara Juli terdengar putus asa.

Beban berat yang menggelayut membuat Juli jatuh sakit. Tiba-tiba saja kaki kirinya tak dapat digerakkan lagi. Juli lumpuh. Bisik-bisik di kalangan tetangga, Juli diduga terkena guna-guna. Namun, Juli tak cepat mempercayainya. Dalam beberapa hari, ia hanya bisa berbaring lemah di ranjang tidurnya. Lengkap sudah penderitaan Juli.

Suatu hari, seorang perempuan bernama Ipah (29) menengok Juli. Kawan lama Juli yang berstatus janda 2 anak itu merasa iba dengan penderitaan Juli dan Juwita. Diam-diam keprihatinan dan rasa simpatik Ipah berubah menjadi cinta. Singkat cerita, menikahlah Juli dengan Ipah.

Kehadiran dan kasih sayang Ipah terhadap Juwita membuat semangat hidup Juli bangkit. Ajaibnya, Juli bisa sembuh dari penyakit lumpuh yang membuatnya terkulai lama. Dengan curahan cinta yang luar biasa, Ipah selalu menemani hari-hari Juwita.

“Saya sudah menganggap Juwita darah daging sendiri. Saya bertekad menyembuhkan Juwita, dengan cara apapun,” cetus Ipah.

Ipah yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan buruh cuci lepas di komplek perumahan –tak jauh dari kontrakannya di Pamulang—, seringkali menangis jika melihat Juwita BAB.
“BAB-nya susah. —maaf—Kotorannya yang keluar kecil-kecil, kayak tahi burung. Juwita pasti menggigil.

Keringat dinginnya keluar. Mukanya berubah merah. Nangisnya nggak berhenti-berhenti, karena nahan sakit. Tangan saya dipegang kuat-kuat. Saya mesti sabar nungguin sampai selesai,” tutur Ipah cemas.

Berbekal uang seadanya, Ipah kemudian menggendong Juwita kepada seorang tabib. Namun, sang tabib justru menyarankan supaya Juwita dibawa ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa.

“Waktu itu saya sama sekali tidak tahu LKC itu apa. Setelah nanya sama orang-orang komplek, saya baru tahu,” kata Ipah.

Setiap ada uang dan kesempatan, Ipah sendirian pergi ke LKC untuk mendapatkan nomor anggota. Berkali-kali ia bolak balik dari kontrakannya ke LKC. Ia tak menyertakan suaminya yang belakangan sakit-sakitan lantaran memikirkan Juwita. Juwita pun ditinggal di kontrakan, bersama neneknya.

Ipah baru bisa bernapas lega begitu pihak LKC menyatakan siap menolong Juwita. Bayangan akan kesembuhan anak tirinya terasa dekat dipelupuk matanya. Semangat Ipah kian menggelora ketika Juwita mulai dibawa ke polibedah anak untuk diperiksa dan dicek darahnya di laboratorium.

“Saya sampai sujud syukur saat dokter mengatakan Juwita akan dioperasi,” ucap Ipah.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ipah resah dan nyaris stres mendengar Juwita akan dioperasi sampai tiga kali dengan anggaran biaya Rp. 20.000.000. Operasi pertama pemindahan usus ke perut. Operasi kedua pembentukan anus, dan operasi ketiga penyambungan usus.

“Duh…kebayang sakitnya bocah segitu dioperasi. Kalau boleh seh, mending saya aja yang dioperasi,” tukas Ipah memelas.

Sebulan lalu, operasi tahap pertama sudah dilakukan di Rumah Sakit Fatmawati. Ipah bersyukur, Juwita tak lagi BAB lewat vagina. Dokter sudah membuatkan kantung kolostomi, tempat keluarnya kotoran dari saluran perut. BAB-nya pun lancar, tak seperti sebelumnya.

“Sekarang tinggal kontrol dan rawat jalan seminggu sekali. Rencananya 3 bulan lagi operasi tahap kedua. Saya mohon doa dan dukungan semua pihak, karena saya yakin Juwita bisa sembuh,” mata Ipah berkaca-kaca. Zakat Emang Ajiib… (LHZ/Dompet Dhuafa)

Dhuafa Terbaru

blog comments powered by Disqus