Menjaga Izzah Diri

Manusia adalah makhluk social. Oleh karenanya secara fitrah kita butuh berinteraksi dengan orang lain. Rasanya sulit bagi kita untuk benar-benar menyendiri atau mengisolasi diri dari hidup bermasyarakat. Kita butuh bergaul, butuh memiliki teman. Maka tak heran acara ngumpul-ngumpul banyak digemari. Tidak salah memang. Terlebih dengan aktivitas harian yang membuat tubuh penat, belum lagi ditambah rasa jenuh, setidaknya berkumpul dengan teman-teman, bersenda gurau dapat sedikit mengendorkan urat syaraf.

Yang menjadi masalah adalah, berbeda dengan sabar yang tidak ada batasnya, bersenda gurau itu ada batasnya. Tapi, kita sering bercanda secara berlebihan. Rasulullahpun bercanda, tapi beliau jarang sekali melakukannya. Jikapun dilakukan, beliau tidak pernah berdusta ataupun berlebihan dalam candanya. Bercanda tidak dilarang, selama tujuannya benar yaitu sekedar menyegarkan suasana agar kepenatan atau rasa bosan bisa hilang. Tapi jangan sampai melampui batas.

Memang tiada yang lebih sukar untuk dijaga diantara begitu banyak nikmat Allah daripada memelihara lidah. Oleh karenanya sering kita jumpai orang yang mampu menjalankan ajaran agama, dermawan, rajin ibadah tapi sering mengucapkan kata-kata yang tidak manfaat, bercanda-canda dengan ungkapan yang jorok.

Terkadang sayapun tidak mengerti, apa yang membuat pembicaraan atau canda-canda bernuansa S.. begitu digemari. Yang lebih mengherankan adalah canda-canda seperti itu dilontarkan oleh orang-orang yang notabene faham agama dan menjalankan ajaran agama, orang yang dihormati di lingkungannya dan orang yang rajin ibadahnya. Tidakkah terbesit keinginan untuk menjaga izzah diri? Tidak bermaksud muna (istilah untuk mereka yang dianggap sok alim), tapi, tidakkah kita merasa risih mendengar hal-hal seperti itu?

Walaupun tetap tidak pantas, dapat dimaklumi, mereka yang memang hobi berhaha hihi, orang yang tidak menyandang embel apa-apa dalam kehidupan social, bercanda-canda kelewat batas dengan ungkapan yang seronok. Setidaknya itu tidak menurunkan wibawa mereka, tapi, untuk mereka yang menjadi panutan? Untuk mereka yang dipandang terhormat? Tidakkah itu menurunkan kemuliaan?

Rasanya hampir seluruh umat muslim tahu bahwa Rasulullah pernah bersabda,” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Rasulullah menyeru, kepada orang yang beriman kepada Allah untuk berbicara hanya yang baik-baik saja. Karena Allah Maha Baik dan hanya menyukai yang baik-baik. Dan Rasulullah juga menyeru kepada mereka yang beriman kepada adanya hari akhir. Artinya ucapan-ucapan yang kita lontarkan memiliki dampak di kehidupan kita kelak di akhirat. Kalau kita yakin dengan adanya hari akhir, maka bicaralah hanya yang baik-baik saja.

Selain itu, pesan singkat Rasulullah ini, akan memberi kemulian, kehormatan dan kewibawaan bagi yang menerapkannya. Bayangkanlah, jika kita bertemu dengan orang yang santun dalam bicara, terkendali dalam segala ucapan, pastinya kita merasa sungkan sekaligus hormat. Bandingkan dengan orang yang senang mengumbar omongan, pun kalau bicara tidak manfaat, apa perasaan kita?

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan ucapannya kotor.” (HR. Bukhari)
Pertanyaannya, mukminkah kita?

…..

Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat tinggalnya denganku pada hari kiamat kelak adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat tinggalnya denganku pada hari kiamat kelak adalah orang yang banyak mulut, bermulut usil dan bermulut besar.” (HR Tirmidzi)

Banyak mulut artinya orang yang suka berbicara tanpa faedah, mulut usil artinya orang yang suka menyakiti orang lain dengan omongannya dan mulut besar adalah orang yang sombong.
Tidakkah kita rindu akan surga? Tidakkah kita rindu untuk bersanding dekat dengan Rasulullah?

Karenanya, hiduplah bermoral, terhormat dan mulia di bawah bendera islam. Kita jaga kesucian agama kita dengan menonjolkan imej yang baik dengan menjaga muruah kita sebagai muslim. Menjaga perilaku, menjaga ucapan. Ketidakmampuan kita menjaga citra diri yang baik, indikasi kelemahan moral, dan kelemahan moral merupakan indikasi kelemahan iman.

Sebagi penutup, semoga firman Allah dibawah ini, menjadi pemicu kita untuk berbenah diri. Allah berfirman,”Yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 17-18)

Wallahu’alam.
Ummiali.wordpress.com