Siapa Muslimah Pengganti Florence Nightingale dan Mother Theresa?

Saya sudah baca bukunya, akh menurut saya kisah Florence Nightingale yang terkenal sebagai perawat di zaman Revolusi Perancis biasa-biasa saja.

Namun, kalau dilihat bagaimana pengorbanannya yang bertahun-tahun merawat korban perang sebagai perawat dirumah sakit, memang membuat dirinya wajar dipanggil tokoh kemanusiaan. Apalagi bila kita melihat sulitnya menemukan perawat yang berdedikasi dan mau menolong serta merawat orang yang terluka dizaman sekarang ini.

Wajah judes dan lelah seringkali malah ternampak dari para perawat kita yang berlalu hilir mudik. Namun tidak menoleh sedikitpun kepada para pasien lumpuh, renta, kotor dan luka parah dimana-mana yang dengan wajah meringis menahan sakit dan dzikir serta tangisan berkepanjangan dari sanak keluarganya, yang memohon-mohon belas kasihan sang suster untuk mendahulukan pertolongan bagi pasien.

Mungkin hati mereka sudah kebal melihat orang sakit di Indonesia ini setiap hari dengan jumlah yang beragam dan isak tangis yang bunyinya serupa. Dengan anggun seakan-akan penguasa ketiga rumah sakit, sang suster seringkali menyarankan sanak keluarga pasien untuk melengkapi administrasi telebih dahulu.

Bila kita melihat name tag nama si suster, nama yang Islami dan indah terlihat di baju seragamnya seperti Aminah, Solichah, Jamila, walaupun sebagian ada juga yang bernama Wati, Dewi atau Santi, namun sebagian besar suster itu pastilah beragama muslim, dengan prilaku yang serigkali terlihat tidak Islami.

Wajarlah bila Florence Nightingale yang beragama Kristian menjadi simbol kebaikan perawat-perawat Kristian terhadap korban perang yang terluka. Sebagian besar pria yang terkena luka parah dan memerlukan perawatan siang malam ditengah kesakitan yang sangat, membuat Florence Nightingale begitu dikenal sebagai sosok kemanusiaan dalam segi keperawatan.

Perawat yang bekerja keras menolong sesama manusia tanpa pamrih, itulah sosok wanita Kristian yang namanya dikenal sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Selain itu ditambah lagi tokoh renta berwajah tirus dan digambarkan walau jalannya membungkuk namun kain kerudung separuh yang menutupi kepalanya membuat Bunda Theresia, lagi-lagi tokoh wanita Khatolik (non muslim lagi) menjadi sosok idola dan tokoh cinta kasih yang menolong sesama manusia susah. Dengan pengabdiannya yang begitu luar biasa, bahkan sampai ajalnya tiba, dikabarkan dia masih memberikan pelayanaan kepada sesama manusia, baik yang dikenal maupun tidak.

Hmm, mungkin sebagian kita akan berdalih dengan mengatakan, akhhh.. itu sih karena media massa yang menyebarkan dan membuat image agar tokoh wanita Kristian dan Katolik begitu nampak hebat, dan media sekarang kan memang dikuasai oleh Yahudi dan Nasrani. Dengan bantuan ayat,

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS. Al Baqarah [2] : 120]

semakin membuat pemikiran kita bahwa kehebatan tokoh wanita Kristian dan katolik itu memang rekayasa Yahudi dan Nasrani.

Namun ingat lho, tak akan kebakaran kalau tak ada api yang membakar, dan ada api pun tak akan mudah membakar bila tak ada sebab dan usaha dari si pembakar (baik sengaja maupun tidak).

Maka alangkah naifnya kita bila hanya menuduh media terlalu membesarkan tanpa kita sebagai muslimah terus berusaha untuk menggantikan tokoh wanita-wanita Kristian tersebut untuk menjadi muslimah yang mampu memberi inspirasi dan dikenal umat.

Dengan tugas dan kerjanya anda para muslimah ditempat kerja masing-masing baik sebagai perawat, dokter, guru, jadilah tokoh-tokoh yang berjuang tanpa pamrih sehingga suatu saat akan timbul nama-nama kita yeng akan menggantikan nama Florence Nightingale dan Mother theresa dalam benak generasi kita yang akan datang.

Dan bangkitlah media dan wartawan muslim untuk menceritakan dengan gegap gempita perjuangan para suster muslimah yang melayani orang sakit tanpa melewati administrasi yang rumit, juga para guru muslimah yang menggoalkan UN dengan nilai tinggi bagi para anak didiknya tanpa uang tambahan, serta pendidik anak-anak jalanan dan kerja-kerja kemasrakatan lain yang membanggakan para muslimah kita.

Cukuplah kisah Florence Nightingale dan Mother theresa menjadi kisah masa lampau, yang akan digantikan kisahnya oleh kisah para muslimah di abad milenium. Bangkitlah Muslimah.. harapan itu masih ada.. berjuanglah, muslimah, tinggikan nama Islam yang jaya.