free hit counters
 

KH. Cholil Ridwan: Kenapa Tidak Tunggu Bush “Jatuh” Dulu….

Magdalena – Minggu, 19 November 2006 14:09 WIB

Ketua MUI yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Husnayain KH A. Cholil Ridwan, Lc. usai Acara Tabligh Akbar Tolak Bush, di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Jum’at (17/11) mengatakan, tidak penting Bush datang, kalau dia memang tulus mau memberi tidak usah datang, justru ini akan menimbulkan perpecahan, bahkan kredibilitas SBY selaku presiden juga kan turun karena ini. Seperti saat ini tokoh-tokoh umat Islam bersama umat Islam lain sudah melayangkan mosi tidak percaya, bagi SBY ini jelas merugikan.

Ia menyatakan, jika ingin bekerja sama dengan AS, sebaiknya menunggu Bush "lengser" dulu. Berikut wawancara eramuslim dengan KH. A Cholil Ridwan.

Melihat berbagai penolakan kedatangan Bush, seharusnya sikap umat Islam harus begaimana, sebab di satu sisi reputasi Bush yang sudah begitu buruk di mata Islam, namun di sisi lain Islam juga harus memperlihatkan sikap yang ramah?

Jadi begini, seharusnya bisa dibedakan, agenda pemerintahan AS dengan Bush-nya, karena Bush adalah orang yang sekarang menjadi Presiden dan mungkin dua tahun lagi sudah tidak. Kenapa kalau pemerintah Indonesia ingin bersahabat dengan pemerintahan dan rakyat AS, dengan agenda-agenda yang dianggap bermanfaat, tidak menunggu jatuhnya Bush. Presiden yang baru saja yang diundang ke Indonesia, toh dulu saja Bill Clinton datang, tidak ada penolakan, bahkan dia masuk ke Masjid Istiqlal ke kantor MUI.

Sekarang kan Presiden Bush sedang dalam kondisi ditolak di banyak negara, dibenci, dan dihujat sebagai penjahat, karena tentaranya sudah menyerang Irak, sehingga menghabiskan sampai 665 ribu nyawa. Hal ini dilakukannya karena Irak dianggap memiliki senjata pemusnah massal dan alasan ini tidak pernah terbukti.

Artinya, seandainya pemimpin AS sudah bukan Bush lagi, umat Islam berarti bisa terima kerjasama?

Itu tergantung maslahat dan mudharatnya, keuntungan dan kerugiannya. Kalau dalam kesepakatan kita tetap merugi, itu seperti Pak Amin Rais bilang perampokan, kalau saya bilang itu penjajahan mode gaya baru secara ekonomi, meminjam uang lalu orang terikat, terdikte dan kebebasan politik terpasung. Saat ini yang jadi masalahnya Bush-nya, bukan presiden Amerikanya.

Presiden RI dan Bush akan bertemu dan membahas justru akan menekankan soft power, yang salah satunya program pendidikan, bagaimana anda memandang ini, apakah akan muncul intervensi baru AS terhadap pendidikan di Indonesia, khususnya untuk pendidikan Islam?

Ya tentu jelas dong, dulu saja waktu baru tahun pertama Bush mengumumkan perang terhadap terorisme dia-kan menuduh pesantren ini sebagai sarang teroris, bahkan dia juga pernah menyumbangkan 144 dollar untuk dibagi-bagikan ke pesantren-pesantren. Memang secara langsung tidak mengintervensi, tapi dengan menerima sumbangan secara tidak langsung sudah mengintervensi. Orang bisa terima sekian juta, pasti mereka akan beranggapan Bush itu baik. Padahal Bush tidak menginginkan pesantren itu tidak mempunyai kurikulum jihad.

Padahal jihad yang dianggapnya itu, adalah termasuk ibadah dan fiqih. Bagaimana orang lain non muslim bisa mengatur kurikulum pendidikan Islam. Hal itu telah dilakukannya di Al-Azhar Mesir, Saudi Arabia dan Indonesia. Jelas ini intervensi kenapa dia harus pakai menyumbang pesantren yang Kyainya tidak jelas.

Bagaimana kalau pemerintah memang tetap bersikeras bahwa dalam pertemuan ini membawa kepentingan negara?

Sebetulnya tidak mesti ke Amerika Serikat dan Bush datang, kalau memang ia ingin menguntungkan rakyat kenapa harus dengan kunjungan Bush. Sebab tidak penting Bush datang, kalau dia memang tulus mau memberi tidak usah datang, justru ini akan menimbulkan perpecahan, bahkan kredibilitas SBY selaku presiden juga kan turun karena ini. Seperti saat ini tokoh-tokoh umat Islam bersama umat Islam lain sudah melayangkan mosi tidak percaya, bagi SBY ini jelas merugikan.

Yang akan dilakukan Bush di sini karena ia menjalankan politiknya saja, karena takut akan sainganya seperti India, Cina, dan Rusia. Menjadi pertanyaan besar, orang yang nyata-nyata memusuhi umat Islam kok diterima sebagai tamu terhormat oleh negara yang mayoritas Islam. Apa gunanya uang trilyunan kalau toh nantinya kita ditangkapi, dibunuhi, dimasuki Guantanamo, disiksa dan sebagainya.

Sebenarnya tidak akan menguntungkan pendidikan, hanya dari sisi fasilitas saja, seperti komputer itu bisa kita beli. Nabi Muhammad SAW pernah mencontohkan, beliau pernah dibantu umat yang musrik tapi kemudian dikhianati, beliau pun berjanji bahwa mulai saat ini tidak akan lagi minta tolong dengan orang musyrik itu.



Bagaimana sikap MUI dalam merespon kedatangan Bush, sepertinya ada yang tetap setuju?

Seperti yang saya katakan tadi, satu hari sebelum ada pernyataan salah satu Ketua MUI Umar Shihab yang menyatakan setuju, secara resmi semua Ketua dan Sekjen sudah mengeluarkan pernyataan bahwa MUI sangat keberatan dengan kedatangan Bush ke Indonesia, karena lebih banyak menimbulkan mudharat dan sebagainya. Jadi pernyataan yang disampaikan oleh salah satu ketua di Istana setelah bertemu dengan Presiden adalah penyataan pribadi dari yang bersangkutan, walaupun dia mempunyai jabatan sebagai ketua MUI. MUI secara kelembagaan menolak, cuma bahasanya menggunakan sangat keberatan, itu artinya menolak, dan itu diputuskan dalam rapat pimpinan MUI pusat sebanyak 2 kali dan terakhir 15 November, dalam rapat itu ketua MUI keempatnya dan sekretarisnya, bersama ormas-ormas Islam turut hadir. Pada kesempatan itu pun beliau ikut juga, bahkan dia pernah memimpin rapat, dan ketika sudah ada kesepakatan, saya tulis nota, agar hasil ini tidak dirubah-rubah lagi.

Sebenarnya yang saya katakan ini yang legal, MUI tidak menolak kedatangan Bush hanya pendapat pribadi, memang hal yang wajar ketika sudah datang ke Istana orang jadi kehilangan arah, di situ iman bisa berubah menjadi amin. Yang jelas MUI sangat menolak dan keberatan dengan kedatangan Bush.

Dengan adanya demonstrasi di lapangan apakah MUI akan medukungnya?

MUI dalam hal ini bukan Ormas, kita tidak mendukung tapi kita cuma berharap demo itu tidak dilakukan secara anarkis dan melanggar hukum. Kalau Indonesia demokrasi, silahkan demo kenapa harus melarang orang itu kan hak mereka. (novel)

Bincang-Bincang Terbaru