FBI Dituding Jebak Muslim Trinidad dan Guyana Sebagai Pelaku Teroris

Awal pekan kemarin, aparat hukum AS mengklaim berhasil menggagalkan rencana peledakan jalur pipa tangki bahan bakar di bandara internasional John F. Kennedy, New York City dan menangkap tiga orang tersangka. Namun, muncul pernyataan bahwa ketiga tersangka itu sengaja dijebak dan dijadikan tersangka oleh FBI.

Pernyataan itu dilontarkan oleh komunitas Syiah di Trinidad Tobago dan Guyana, dua negara tempat para tersangka berasal. Dalam pernyataannya, mereka mengatakan bahwa seorang informan FBI sengaja menjebak ketiga tersangka tersebut lewat tuduhan perbuatan kriminal.

"Informan itu mengunjungi saudara-saudara kami (tersangka) dengan tujuan sengaja menjebak mereka dalam kegiatan yang sama sekali tidak mereka ketahui, tidak pernah mereka setujui dan tidak pernah mereka lakukan, " kata Huda- anak perempuan dari salah seorang tersangka-dalam pernyataan tersebut seperti dikutip AFP.

Huda mengatakan, informan FBI itu mengenalkan diri sebagai anggota misi Islam Amerika. Menurutnya, informan itulah satu-satunya orang yang seharusnya layak dihukum dalam kegiatan tersebut.

Para tersangka yang ditangkap aparat hukum AS adalah, Karim Ibrahim (56 tahun, ayah Huda), Abdul Kadir-mantan anggota parlemen Guyana dan temannya, Abdul Nur. Serta Ruseel Defreitas, warga negara AS asal Guyana. Aparat hukum AS mengakui memanfaatkan seorang tersangka kasus narkoba dengan imbalan keringanan hukuman, jika ia berhasil menyusup ke dalam kelompok tersangka.

Nama-nama tersangka dikaitkan dengan kelompok Jamaat al-Muslimin, yang dituding terlibat dalam kudeta berdarah di Trinidad era tahun 1990-an. Namun para pakar di negara itu meragukannya.

Selwyn Ryan seorang pengamat di Trinidad dalam situsnya Caribbean360 menulis, sejak kudeta yang gagal, kelompok itu kerap dicatut namanya dalam sejumlah peristiwa kekacauan keamanan. Ia ragu, kelompok tersebut juga melakukan atau ikut serta dalam rencana serangan di AS.

Lebih lanjut Huda mengungkapkan bahwa ayahnya tidak kenal dengan Russel maupun Abdul Nur, sebelum kedua orang itu berkunjung ke rumahnya di Trinidad sekitar tiga minggu yang lalu. Ia menganggap tuduhan yang dikenakan pada ayahnya bermotifkan politik bukan karena alasan keamanan.

"Kami yakin, mereka yang bertanggungjawab atas penangkapan itu, melakukannya untuk tujuan lain dan bukan untuk melindungi rakyat serta kepentingan AS, " tukas Huda.

Ia meyakini penangkapan tersebut ada hubungannya dengan akan digelarnya pemilihan presiden, untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi Partai Republik kembali ke tampuk kekuasaan dalam pemilu bulan November 2008.

Huda menegaskan bahwa sebagai Muslim mereka menentang pertumpahan darah terhadap warga sipil tak berdosa. "Untuk saudara-saudaraku sesama Muslim, saya bersumpah demi Allah dan demi Rasulullah bahwa kami tidak merencanakan aksi terorisme apapun terhadap AS, " tukas Huda.

"Tidak satupun dari saudara-saudara kami yang ditangkap ini dan tidak satupun dari komunitas kami yang percaya bahwa mereka melakukan kegiatan seperti yang dituduhkan dalam keterangan yang disiarkan ke publik maupun tuduhan yang dilontarkan Departemen Kehakiman, " sambungnya.

Menurut data CIA Facts Book, warga Muslim di Trinidad meliputi 5, 8 persen dari satu juta populasi di negara itu. Sedangkan di Guyana, jumlah warga Muslim sekitar 10 persen dari 769. 095 jumlah penduduknya. (ln/iol)