Hassan Nasrallah Tak Ingin Ada Perang Babak Kedua

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah menyatakan tidak yakin Israel kini sedang mempersiapkan serangan keduanya ke Libanon. Ia bahkan menyatakan bahwa Israel sudah melakukan ‘kontak’ dengan Hizbullah untuk bernegosiasi dan bertukar tahanan.

"Jika Israel menginginkan perang babak kedua, mereka seharusnya sudah memperkuat posisi mereka di selatan Libanon, dan tidak mundur dari sana," ujarnya dalam wawancara dengan televisi Libanon.

"Warga mereka yang mengungsi sudah kembali dan mereka mulai membangun kembali wilayah utara. Orang yang melakukan tindakan itu, tidak menunjukkan akan berperang. Kami tidak akan mengarah perang babak kedua," sambung Nasrallah.

Dalam wawancara itu, Nasrallah mengatakan Israel sudah menyatakan mau bernegosiasi dan bertukar tahanan. "Kontak-kontak sudah dilakukan baru-baru ini untuk negosiasi," kata Nasrallah.

Menurutnya, Hizbullah sudah menunjuk juru bicara parlemen Libanon, Nabih Berri untuk bernegosiasi. Italia dan PBB, tambah Nasrallah, juga menyatakan kesediaannya untuk membantu memediasi negosiasi itu. Namun Nasrallah tidak menjelaskan secara spesifik apa kapasitas Italia-apakah akan mewakili negaranya sendiri atau menjadi mediator bagi Israel.

Surat kabar Israel, Haaretz dalam laporannya juga menyebutkan tentang kesediaan Israel untuk bernegosiasi dengan Hizbullah. Tapi berbeda dengan pernyataan Nasrallah, seorang pejabat pemerintah Israel hari Minggu (27/8) menyatakan, negosiasi itu tidak akan membahas masalah pertukaran tahanan.

Sementara Italia, melalui Menlu-nya Massimo D’Alema pada Kamis (24/8) menyatakan bahwa pihaknya tidak tahu menahu soal adanya pembicaraan ‘rahasia’ tentang pembebasan tiga serdadu Israel yang ditawan Hizbullah.

Namun, Kepala komite pertahanan di parlemen Italia, Sergio De Gregorio mengaku bahwa Iran yang mendukung Hizbullah, menginginkan keterlibatan Italia. Ia mengatakan, Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani secara pribadi sudah bicara padanya bahwa Iran akan meminta Hizbullah untuk bernegosiasi dengan Italia.

De Gregorio menyatakan bahwa para serdadu Israel yang ditawan Hizbullah masih hidup, namun De Gregorio menolak untuk menjelaskan kondisi serdadu itu. Ia berharap negosiasi antara itu sudah dimulai minggu ini.

Tak Ingin Berperang

Dalam wawancara dengan televisi nasional Libanon, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga menyatakan, dirinya tidak akan memerintahkan menawan serdadu Israel karena ia tahu hal itu akan memicu timbulnya perang.

"Kami tidak pernah berpikir, bahkan satu persenpun, bahwa penawanan ini akan memicu perang. Anda bertanya, jika saya tahu pada 11 Juli… bahwa operasi itu akan memicu perang, apakah saya akan melakukannya? Saya katakan tidak, sama sekali tidak," tegas Nasrallah.

Ia juga menjamin, pasukan penjaga perdamaian PBB yang akan dikirim ke Libanon selatan tidak akan menghadapi masalah, sepanjang misinya bukan untuk melucuti persenjataan Hizbullah.

"Kami tidak punya masalah dengan Unifil (Pasukan sementara PBB di Libanon ) sepanjang misi mereka tidak bertujuan untuk melucuti Hizbullah," tandas Nasrallah.

Ia menambahkan, dirinya siap bertemu dengan Sekjen PBB Kofi Annan dan sudah melakukan kontak untuk upaya itu. Namun tidak ada keputusan karena alasan keamanan.

Sekjen PBB Kofi Annan dalam kunjungannya ke Beirut, melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Libanon mengenai rencana pengerahan 15 ribu pasukan penjaga perdamaian PBB ke Libanon selatan dan masalah keamanan lainnya. (ln/aljz)