Kalangan Neo-Konservatif di AS Inginkan Segera Serang Iran

Setelah "sukses" membujuk AS melancarkan perang ke Irak, kalangan neo-konservatif di luar dan di dalam lingkungan pemerintahan Presiden George W. Bush mendorong agar Presiden AS itu menyerang Iran sebelum mengakhiri masa jabatannya yang tinggal 15 bulan lagi.

Sunday Times edisi Minggu (30/9) mengutip pernyataan Norman Podhoretz yang mengatakan, "Saya mendesak Bush untuk mengambil tindakan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran dan menjelaskan mengapa sepertinya tidak ada alternatif. "

Podhoretz yang dikenal sebagai ‘godfather’ nya kalangan neo-konservatif melanjutkan, "Saya memberikan dua skenario, skenario terburuk-membom Iran-dan skenario konsekuensi terburuk jika membiarkan Iran memiliki bom nuklir. "

Podhoretz mengungkapkan, ketia ia mengatakan bahwa Bush sudah "menyia-nyiakan waktu" dengan melakukan diplomasi terkait nuklir Iran, Bush dan penasehatnya Karl Rove hanya tertawa.

"Ini mengagetkan saya, " kata Podhoretz. "Jika mereka benar-benar meyakini bahwa ada kesempatan untuk negosiasi dan sanksi itu akan berhasil, mereka selayaknya tidak tertawa, " sambungnya.

Podhoretz yang saat ini sedang giat ikut berkampanye untuk kandidat Presiden dari Partai Republik Rudolph Giuliani mengingatkan Bush tentang "tanggung jawabnya yang besar untuk mencegah terulangnya tragedi holocaust" jika suatu saat nuklir Iran menghancurkan Israel.

Ia mengaku yakin bahwa Bush akan menyerang Iran sebelum masa keperesidenannya berakhir. Pandangan-pandangan Podhoretz itu ditulis dalam buku terbarunya World War IV: The Long Struggle Against Islamofascism.

Sementara itu, Sunday Telegraph melansir berita bahwa sejumlah pegawai sekretariat AS di PBB sedang mengumpulkan arsip-arsip tentang dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Iran, yang akan digunakan sebagai pembenaran untuk menyerang Iran.

"Mereka sudah diinstruksikan untuk mengumpulkan arsip-arsip penting, " kata Steven Clemons dari New America Foundation mengutip pernyataan seorang diplomat yang namanya tidak mau disebutkan.

Menurut Clemons, Wakil Presiden Dick Cheney adalah tokoh utama yang mendorong agar AS menyerang Iran. Baru-baru ini, Clemons mengungkap pertemuan seorang pegawai kantor wakil presiden dengan kalangan neo-konservatif dari lembaga American Enterprise. Dalam pertemuan tersebut, pegawai kantor Cheney itu mengungkapkan betapa frustasinya Cheney karena Bush menyetujui strategi diplomatik dalam masalah Iran.

Edisi terakhir majalah Newsweek juga mengungkapkan bahwa mantan penasehat Cheney bidang Timur Tengah David Wurmser telah mengatakan pada kalangan neo-konservatif bahwa Cheney sudah mempertimbangkan untuk meminta Israel melakukan serangan misil terbatas ke lokasi nuklir Iran di Natanz.

Menurut Wurmser, Cheney memanfaatkan Israel untuk memprovokasi Iran, yang nantinya bisa dijadikan alasan bagi AS untuk menyerang Iran. (ln/iol)