Krisis Politik di Irak Makin Tajam, Antar Kelompok Saling Curiga

Irak makin tenggelam dalam krisis politik di dalam negerinya sendiri, setelah para petinggi politik di negeri itu menunda sidang parlemen yang ditunggu-tunggu untuk menyelesaikan pertikaian masalah posisi perdana menteri yang sampai saat ini menemui jalan buntu.

Empat bulan setelah pemilu untuk memilih anggota parlemen tetap setelah kejatuhan Saddam Husain, para pemimpin Irak tidak bisa mencari titik temu dari pertikaian untuk menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri dan menjabat posisi-posisi strategis di parlemen.

Kelompok Sunni dan Kurdi menolak jika perdana menteri dipilih dari kalangan syiah, yaitu perdana menteri demisioner Ibrahim Jaafari. Rumor yang beredar, syiah melakukan gerakan politik untuk menentang kelompok Sunni menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan.

Kelompok minoritas Kurdi dan Sunni menuding Jaafari gagal untuk mengatasi makin meluasnya kekerasan sektarian yang menyebabkan ratusan rakyat Irak tewas setelah kasi pengeboman masjid Syiah di Samara pada Februari lalu.

Sebaliknya, kelompok-kelompok Syiah mencurigai kelompok Sunni bersikap mendua. Di satu sisi berperan di politik tapi di sisi lain tetap sebagai pemberontak yang menjadikan warga syiah sebagai target pengemboman dan penembakan.

Kelompok Sunni National Concord Front, yang mendapatkan 44 kursi di parlemen, mengajukan nama Tariq Al-Hasyimi, ketua Partai Islam Irak yang populer di Irak, sebagai calon juru bicara parlemen.

Faksi-faksi politik di Irak berharap, jika sidan parlemen jadi dilaksanakan Senin (17/4) kemarin, mereka sudah bisa menetapkan konsensus pada hari Minggu depan. Namun pertikaian sesama faksi menyebabkan sidang tertunda. Padahal sidang itu seharusnya menjadi pertemuan pertama seluruh anggota parlemen Irak yang berjumlah 275 orang sejak terpilih dalam pemilu bulan Desember 2005 lalu. (ln/arabworldnews)