Mahmud Ahmadinejad: Iran Tak Akan Akui Israel

Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad menyatakan bahwa Iran tidak akan mengakui rejim Zionis Israel, karena rejim itu berbasis pada ‘penjajahan dan rasisme. ‘

Dalam tanya jawab lewat video konferensi dengan para anggota Washington Press Club, Ahmadinejad menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah mengakui sebuah rejim yang terus menerus menyerang wilayah tetangganya.

Pada kesempatan itu, Presiden Iran yang sedang berada di New York dalam rangka menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB, kembali ditanyai pandangannya tentang Holocaust.

"Jika Holocaust benar-benar terjadi, mengapa para peneliti tidak diizinkan untuk meneliti peristiwa ini? Mengapa para sejarawan di Eropa yang membicarakan peristiwa ini ditangkapi, " jawab Ahmadinejad.

"Kita asumsikan Holocaust ini benar-benar terjadi. Jika peristiwanya terjadi di Eropa, mengapa bangsa Palestina yang harus membayar tragedi itu dengan nyawa dan tanah air mereka, " sambungnya.

Ahmadinejad juga menyinggung tentang keinginannya untuk berkunjung ke Ground Zero sebagai rasa simpatinya bagi para korban tragedi serangan 11 September 2001. Namun media massa yang dikontrol pemerintah AS, kata Ahmadinejad, telah membuat propaganda untuk menyembunyikan kebenaran dari rakyat AS.

"Mengapa mereka tidak menginginkan rakyat tahu kebenaran itu, " Ahmadinejad mempertanyakan.

Iran, tukas Ahmadinejad, menyatakan menentang cara yang dilakukan AS untuk menguasai dunia, yang telah menyeret dunia pada perang dan pertumpahan darah. Iran meyakini bahwa masyarakat dunia sebenarnya bisa hidup dalam semangat persaudaraan, perdamaian dan keadilan.

Ahmadinejad juga menegaskan bahwa negaranya tidak mau melihat masa lalu, di mana AS telah mengkhianati Iran selama hampir 28 tahun, termasuk mendukung Saddam Hussein ketika Irak menyerang Iran.

Sementara itu dalam keterangan persnya di New York, Ahmadinejad mengkritik media Barat karena telah mendistorsi komentarnya bahwa Iran akan mengisi kevakuman kekuatan di Timur Tengah.

Ia menggarisbawahi bahwa negara-negara kawasan seperti Irak, Iran dan Arab Saudi mampu mengisi kevakuman jika tentara-tentara asing tidak lagi bercokol di Timur Tengah. Iran, tukas Ahmadinejad, mendukung pemulihan perdamaian dan kedamaian di Irak. Apalagi Iran dan Irak memiliki banyak kesamaan.

"Banyak orang Iran yang lahir di Irak. Begitu juga dengan orang Irak, banyak yang lahir di Iran. Kami adalah dua bangsa yang saling memiliki keterkaitan, " tegasnya.

Presiden Iran membantah tuduhan AS bahwa Iran telah menyelundupkan senjata ke Irak. "Jika pasukan AS menemukan senjata milik Iran di Irak, kami berikan senjata itu buat pasukan AS, " ujar Ahmadinejad.

Ia malah menasehati AS agar tidak melontarkan tuduhan semacam itu untuk dua alasan. Yang pertama dan terpenting, kata Ahmadinejad, dengan mengkambinghitamkan Iran atas krisis di Irak, itu artinya tentara AS sedang merusak citranya sendiri. Kedua, tuduhan AS terhadap Iran, menunjukkan bahwa para politisi AS tidak mampu membuat keputusan yang tepat dalam masalah Irak.

Dalam keterangan persnya, Ahmadinejad juga menyesalkan negara-negara di dunia yang mengkhawatirkan program nuklir Iran.

"Program nuklir kami di bawah supervisi IAEA, dan kami tidak butuh peperangan, " tegasnya. (ln/presstv)