free hit counters
 

Kerajaan Palsu, Antara Sindiran Pada Penguasa dan Pengalihan Isu

Redaksi – Selasa, 8 Jumadil Akhir 1441 H / 4 Februari 2020 07:30 WIB

Sebagai contoh pendiri KAS Totok Santoso berusaha membangkitkan romantisme antara KAS dengan kerajaan Majapahit. “Keberadaan kami adalah menunaikan janji 500 tahun dari runtuhnya Kerajaan Majapahit tahun 1518. Wilujengan Keraton Agung Sejagat ini adalah untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Jawa.

“Pantas aja ratusan orang tersirep oleh KAS. Ternyata, Totok Santoso sebagai dalang penipuan menggunakan romantisme sejarah yang mistik-delusif sebagai landasan operandinya. Kerajaan Majapahit adalah nama yang membangkitkan memori masa lalu yang berkabut dan misterius bagi manusia Jawa. Sehingga, para korban merasa bahwa bergabung dalam KAS akan membuat mereka terlibat dalam mengembalikan memori itu.

Mengikuti slogan kampanye Trump 2016, Make Nuswantoro Great Again. Melihat hal ini, sejarah seperti terulang kembali. Pada tahun 1942, Nippon menipu rakyat Jawa menggunakan Jangka Jayabaya, supaya percaya bahwa Jepang adalah liberator, bukan penjajah. Di tahun 2020, rakyat Jawa kembali ditipu menggunakan nama Majapahit, supaya percaya bahwa Totok Santoso adalah penyelamat dunia, bukan penipu kelas kambing.



Untungnya, kekuatan media sosial berhasil menghentikan penipuan penipuan ini. Dua hari setelah konferensi pers tersebut, Sang Raja dan Ratu Sejagat diringkus polisi. Keduanya dijerat dengan pasal penipuan. Mendengar berita ini membuat banyak orang bernafas lega. Ternyata, ini baru pucuk dari gunung es kerajaan palsu di negeri ini.

Rupanya romantisme sejarah juga ikut dibangkitkan dalam kerajaan palsu Sunda Empire. Sama seperti KAS. Bedanya, jika romantisme sejarah KAS cenderung mistik-delusif, maka romantisme sejarah Sunda Empire adalah hasil cocoklogi. Masih ingat dengan UU Agraria (Agrarische Wet) 1870? Hukum pertanahan yang berlaku di Hindia Belanda itu dijadikan landasan legitimasi negara-negara yang berada di dalam Sunda Empire.

Mereka seperti penyewa teritori yang harus memperbaharui kedaulatannya setiap 75 tahun sekali. Mengapa 75 tahun? Sebab dalam UU itu, investor asing di Hindia Belanda dapat menyewa lahan untuk perkebunan sampai 75 tahun. Bayangkan, nation-states disamakan derajatnya dengan investor multinasional? Astaga. Siapapun yang membuat cocoklogi ini pikniknya kurang jauh.

Pantas saja Gubernur Ridwan Kamil mengatakan banyak orang stress. Ada-ada saja orang yang percaya akan kerajaan palsu. Sebuah mesin penipuan dengan romantisme sejarah yang ngawur dan ajakan yang penuh lelucon. Lelucon yang lama-lama tidak lucu dan berbahaya kalau terus bergaung di ruang publik. Menimbang pada kenyataanbahwa peristiwa serupa kerap terjadi sejak dahulu, tentu pertanyaannya mengapa selalu terdapat kelompok masyarakat yang hanyut di dalam cerita-cerita kerajaan tersebut?

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Laporan Khusus Terbaru