free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (13)

Redaksi – Senin, 28 Ramadhan 1440 H / 3 Juni 2019 06:15 WIB

Di sekitar Kutaradja saja (sebutan Belanda untuk Banda Aceh), telah dibangun satu stelsel konsentrasi di atas sebidang tanah seluas 50 kilometer persegi dengan 16 pos penjagaan. Di tiap pos penjagaan dibatasi oleh lapangan kosong tanpa pohon dan rumah sejauh 1000 meter, semua pos-pos tersebut dihubungkan dengan saluran telepon ke Kutaradja.

Ini mirip dengan konsep daerah penyangga seperti yang dilakukan Zionis-Israel di tanah jajahan Palestina yang mulai dibangun tahun 2000-an. Bedanya, di Aceh Belanda membangun ini untuk menghindari penyergapan dan penyerangan tiba-tiba dari laskar Aceh, terutama malam hari, maka daerah penyangga di Palestina dibangun kaum Zionis untuk menghindari roket-roket buatan mujahidin Palestina seperti roket Al-Qassam dan sebagainya yang masih memiliki daya jangkau terbatas jatuh di pemukiman Yahudi. Alhamdulillah, dari hari ke hari daya jangkau roket-roket Mujahidin Palestina ini kian jauh hingga akhirnya mampu mencapai Knesset, jantung gerombolan Zionis-Yahudi.

Walau stelsel konsentrasi ini efektif, namun ia tidak bisa dipergunakan dalam waktu yang lama mengingat strategi ini memakan banyak tenaga dan material yang sesungguhnya sangat terbatas. Nilai-nilai politis dan ekonomisnya pun menjadi hilang.

Bukannya menekan angka kerugian, tapi pada akhirnya malah memberatkan. Setelah berperang cukup lama, akhirnya Belanda baru sadar bahwa Islam-lah yang selama ini menjadi sumber kekuatan rakyat Aceh. Untuk menghadapi dan menundukkan Muslim Aceh maka diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang Islam dan kondisi sosiologis rakyat Aceh sendiri.

Untuk keperluan itulah akhirnya pemerintah Belanda mengirim Christiaan Snouck Hurgronje ke Aceh pada tahun 1889[3]. Tugas utamanya, meneliti kekuatan dan kelemahan Muslim Aceh agar bisa ditundukkan oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Barat Ancam Turki Agar Tidak Bantu Aceh

Sebelum membahas soal Hurgronje, ada baiknya kita menengok upaya Kerajaan Aceh Darussalam melobi Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dalam menghadapi serangan Belanda. Kerajaan Aceh Darussalam, seperti yang telah disinggung di muka, telah mengakui Kekhalifahan Turki Utsmani sebagai khalifah dunia Islam. Sebab itu antara Aceh dengan Turki terkait suatu hubungan istimewa, bukan saja satu hubungan diplomatik, namun suatu hubungan layaknya satu saudara.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Umat Islam itu ibarat satu tubuh, bila satu bagian disakiti maka bagian lainnya pun akan turut merasakan.” Inilah hakikat dari ukhuwah Islamiyah.

Sebab itu, saat menghadapi armada Salib Portugis, balatentara Turki Utsmani dengan cepat membantu Aceh dan berhasil memukul mundur Portugis hingga negeri kolonial itu tidak mampu untuk menaklukkan Aceh sampai Belanda merebut Malaka dari tangannya. Bahkan Turki Utsmani mengizinkan kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki selagi berlayar di lautan agar aman dari gangguan para perompak dan armada perang negeri kafir. Turki Utsmani saat itu memang menjadi salah satu kekuatan dunia yang amat disegani.

Setelah berhasil memukul mundur armada Salib Belanda di bulan April 1873, Aceh sangat yakin Belanda pasti akan datang lagi dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang lebih kuat dan banyak. Selain mempersiapkan pertahanan yang kuat di dalam negeri, Kerajaan Aceh Darussalam juga mengutus salah seorang diplomat kawakannya bernama Habib Abdurrahman Az-Zahir ke Turki guna meminta bantuan.

Sosok Abdurrahman Az-Zahir memang nyaris sempurna. Media Turki melukiskannya sebagai, “Seorang yang dikaruniai intelektual yang menakjubkan, dan kemampuan membaca keadaan yang luar biasa.”[4] Sebagai seorang sayyid, dia memiliki hubungan darah dengan Syarif Mekkah dan sangat dihormati oleh Turki. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

——————

Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest



[1] London & China Telegraph, 3 Oktober 1873; The Times, 10 Oktober 1873; Harris kepada Granville, 27 Desember 1873, F.O.37/512; Kreemer I, hlm.15. Dikutip dari Reid, hal. 119.

[2] Surat Van de Putte kepada Padday, 5 Februari 1874.

[3] Lathiful Khuluq; Strategi Belanda Melumpuhkan Islam, Biografi C. Snouck Hurgronje; Pustaka Pelajar; Yogya, cet.1, 2002; hal.4.

[4] La Turquie, 11 Juni 1873. Di salin dalam surat Heldewier kepada Gericke, 14 Juni 1873, B. Z. Atjeh.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus