free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (9)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 04:30 WIB

Dasar watak kolonial yang tidak bisa dipercaya, maka demikianlah Belanda. Perjanjian dengan Aceh ini pun akhirnya dilanggarnya sendiri. Wilayah-wilayah di seberang Selat Malaka kembali diblokade, kali ini malah bertambah dengan memblokade wilayah-wilayah kerajaan Aceh Darusalam di pantai Barat Sumatera. Di wilayah Perak dan sekitarnya Belanda mengincar timah, maka di Barat Sumatera yang diincar adalah emas dan lada.

Ratu Safiah sebenarnya juga tidak percaya seratus persen dengan Belanda. Dalam masa “damai”, Ratu Safiah tetap membangun dan memperbaharui armada laut kerajaan. Walau armada laut kerajaan Aceh Darussalam tidak sekuat di masa Sultan Iskandar Muda, namun Aceh masih mampu untuk unjuk gigi dan tidak kehilangan harga dirinya dihadapan armada kafir Belanda. Beberapa peristiwa masih menunjukkan kekuatan armada laut Kerajaan Aceh Darussalam. Antara lain dalam peristiwa San Giovani Batisda dan San Bernardo di tahun 1649, peristiwa pembunuhan pegawai VOC di Perak, dan penangkapan pegawai VOC di Sumatera Barat tahun 1657.

Setelah memerintah lebih dari tigapuluh tahun, pada 23 Oktober 1675 Ratu Safiatuddin meninggal dunia. Rakyat Aceh merasa sangat kehilangan atas pemimpinnya yang cerdas, berahklak mulia, dan pemberani ini.



Heutsz

Dari Ratu Naqiatuddin Hingga Ratu Kamalat Syah

Sebelum upacara pemakaman Ratu Safiatuddin, Dewan Syuro Kerajaan Aceh Darussalam menobatkan Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin menggantikan Ratu Safiatuddin. Ratu Naqiatuddin merupakan salah satu dari tiga puteri Aceh yang disiapkan sejak lama oleh Ratu Safiatuddin untuk menggantikannya. Ketiganya telah lama ditempa dengan ilmu-ilmu ketatanegaraan, ilmu-ilmu agama, hingga bermacam-macam bahasa asing, hingga ketiganya juga merupakan puteri-puteri Aceh terbaik pada masanya. Ratu Naqiatuddin hanya memerintah dua tahun karena pada tahun 1678 sang ratu meninggal dunia. Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah pun menggantikan Ratu Naqiatuddin dan dinobatkan pada tanggal 23 Januari 1678.

Seperti para pendahulunya, Ratu Zakiatuddin juga sama sekali tidak memberi hati pada VOC Belanda. Setelah melewati pertempuran yang hebat, angkatan perang Aceh Darussalam berhasil merebut kembali daerah Bayang di Sumatera Barat. Di masa kekuasaan Ratu Zakiatuddin inilah, Kerajaan Aceh Darussalam tidak hanya menghadapi Belanda, tetapi juga rongrongan Inggris yang mendesak agar diperbolehkan mendirikan kantor dagang dan benteng di Banda Aceh. Tetapi semua rongrongan ini berhasil dilumpuhkan oleh Sang Ratu.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus