Perempuan dan Cincin di Jarinya (Bag.1)

Jangan bicarakan lagi soal menunggu. Maya sudah menunggu terlalu lama dan kepingan hati yang berharap itu sudah seringkali cemas. Wanita yang telah lama beranjak dari usia belia itu sudah melewati kepala tiga dan masih saja sendiri. Belakangan tampaknya sifat Maya pun mulai berubah. Senyum ceria dan celoteh panjang menjadi barang langka. Ia tampak makin serius dan itu membuat keningnya sering tampak berkerut. Sekujur wajah dan tubuhnya kini gelap, suram, tampak seperti diselimuti kabut pekat. Kecuali ketika kedua matanya menangkap sesuatu yang selalu membuatnya tampak berbinar-binar untuk sesaat. Ya, sesaat saja. Dan kemudian meredup kembali.

Pagi itu mungkin menjadi pagi teraneh yang pernah terjadi seumur hidup Maya. Ia berada dalam ruang interview sebuah perusahaan swasta dan berada di dalamnya tak lebih dari lima menit saja.

“Kamu berasal dari bank, pekerjaanmu sebelumnya …” si interviewer itu bahkan tidak berbasa-basi meminta Maya untuk memperkenalkan diri. Maya, bagaimanapun, bersiap menjawab dengan pantas dan meyakinkan.

“Dan tugas-tugasmu sebelumnya adalah sebagai sekretaris divisi … ya … ya, dengan gaji … sekian?” kalimat terakhir diucapkannya dengan nada terperanjat, sebelum mulut Maya terbuka untuk menjawab. Tidak ada pilihan. Maya mengangguk kecil dan berkata pelan, “Benar, Pak.” Sambil berharap si interviewer mendapat kesan baik dari resume tersebut lantas mempertimbangka posisi yang bagus untuknya di perusahaan itu.

“Berasal dari bank anu, posisi bagus, dan gaji kamu sudah tinggi sekali. Jadi, mau apa kamu mencari pekerjaan di sini?” tajam, dan sedikit sinis. Tak sadar, Maya nyengir.

“Saya yakin bisa menemukan pengalaman dan pelajaran …”

“… dari perusahan ini. Hah! Tidak bisa. Kamu buta, ya? Bank tempat kamu bekerja sudah memiliki segala yang kamu butuhkan. Reputasi bagus, jenjang karir sudah pasti, dan banyak lagi alasan yang tidak perlu saya sebutkan. Cukup. Kamu tidak diterima. Silakan bekerja kembali di sana. Interview selesai.”

Sebetulnya ceramah terakhir tadi tidak Maya butuhkan. Pengalaman bertahun-tahun, sempat pula menjadi kepala bagian keuangan di sebuah perusahaan kantor akuntan, gaji lebih dari cukup, di tempat manapun ia melamar nyaris selalu diterima. Posisi bagus, reputasi terjaga baik, salary lebih. Maya tidak butuh semua itu.

Tantangan baru. Itu dia. Tantangan baru yang akan terus membuat hari-harinya lebih menarik. Sebenarnya pengalaman barusan juga menarik. Belum pernah ia diperlakukan demikian di ruang interview.

Maya menghela napas kuat-kuat. Bus patas AC jurusan Blok M-Pulo Gadung yang dinaikinya membawa sepi yang kembali merayapi hatinya. Penumpang tidak banyak, sebagian besar terlelap dengan nyenyaknya. Maya duduk sendiri di bangku untuk dua orang. Di samping kanannya duduk dua orang wanita muda. Yang satu tertidur, yang satu lagi tampak asyik membaca.

Tak sadar ia perhatikan wanita yang kelihatannya baru berumur dua puluh lima tahunan itu. Tampaknya bukan wanita kantoran. Pakaian yang ia kenakan terlihat terlalu santai, walau tetap rapi. Wanita muda itu membalik halaman majalah yang dibacanya. Alis Maya terangkat. Tangan kanan wanita itu berkilau, jari manisnya. Hhh … Maya mendesah panjang. Ia lantas mengalihkan pandangan ke jendela.

***

“May, kamu mau beli yang ukuran kecil apa yang sedang? Kayaknya harganya nggak jauh beda, deh … mendingan … May! Maya!”

“Oh … eh … sori … apaan, Sis?” Maya mendapati Siska, sahabatnya, berkacak pinggang dengan wajah cemberut dan memegang dua botol pembersih muka di kedua tangannya.

“Mana? Mana dia?” Siska bertanya dengan nada marah. Kepalanya kini menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari-cari sesuatu.

“Mana apanya, Sis? Udah ah, sini, aku ambil yang sedang aja.” Maya merebut sebuah botol dari tangan kanan Siska dan beranjak pergi. Siska masih celingukan, sesaat setelahnya mengikuti.

“Kamu kenapa sih, May? Makin aneh aja belakangan ini.” Protes Siska, ketika mereka berdua tengah bersantai di sebuah restoran cepat saji, di Pasar Festival. Salah satu kebiasaan mereka berdua kala penat telah demikian memuncak akibat kesibukan menyelesaikan laporan kas, kertas-kertas kerja lainnya, dan sedikit omelan dari atasan yang menambah semarak hari. Hang out sepulang kerja, apalagi hiburan selain itu?

“Aneh gimana sih, Sis? Aku nggak kenapa-kenapa kok.”

“Nggak kenapa-kenapa gimana? Belakangan ini kamu sering bengong. Kalau kamu lagi bengong muka kamu jadi aneh. Kayak maling lagi lihat jemuran. Ada apa sih, May? Apa yang kamu pikirin?” Siska meninggalkan bruschetta yang sedang dilahapnya. Ia lebih tertarik untuk mengorek sahabatnya ini.

Mendengar nada mendesak dalam suara Siska, Maya sadar ia tak bisa berpura-pura bersikap cuek kemudian mengalihkan pembicaraan. Ia terdiam sejenak, memilin-milin spaghetti di piringnya. Lalu menatap Siska yang telah meletakkan pisau dan garpunya di meja.

“Nggak ada yang aku pikirin kok … bener, deh.” Sahutnya kalem.

“Ah! Nggak mungkin! Di kantor, kamu sering diam-diam ngeliatin Karina. Terus, setiap kali kamu liatin dia, mukamu jadi aneh. Waktu kita jalan-jalan minggu lalu, kamu tiba-tiba bengong waktu kita lewat toko mainan anak-anak. Dan tadi juga, di supermarket. Kamu kenapa sih, May? Apa yang kamu lihat sampai bengong begitu? Kayak lihat hantu aja!”

Maya menunduk. Siska menatapnya dalam-dalam. Ada simpati di matanya. Benaknya telah menduga-duga, dan ia cuma ingin mendapatkan penjelasan langsung dari sahabatnya itu.

“Mereka semua … memakai … cincin.” Sahut Maya. Siska membelalak.

“Cincin? Cincin apa? Aku nggak ngerti.”

“Hhh … iya. Cincin. Mereka semua. Wanita-wanita itu. Karin juga. Apalagi dia baru. Mereka semua pakai cincin di jari manis tangan kanan.” Jelas Maya sedikit enggan. Dan ia kembali menyantap spaghetti-nya yang mulai dingin.

Siska masih terperangah. Dahinya mulai mengerenyit, ia berpikir, mencoba memahami ucapan Maya. Wanita-wanita itu … Karin … tentu saja! Jadi, selama ini Maya memperhatikan mereka. Hanya mereka yang memakai cincin di jari manis tangan kanan … cincin kawin! (bersambung)

Penulis:

DH Devita

– Aktif di FLP Sengata, Kalimantan Timur

– Bukunya yang berjudul "Bercermin Pada Hatimu" terbitan Pro U Media, akan dicetak ulang