Istri Selalu Minta Cerai

Assalamualaikum wr. wb.

Ibu Anita yang saya hormati,
Saya telah menikah 2 tahun lamanya, belum dikarunia anak. Setiap saya berselisih dengan isteri saya… apa-pun masalahnya pada akhirnya dia selalu minta cerai. Apa yang harus saya lakukan, Bu? Padahal biasanya berselisih pun saya coba untuk menasehati isteri saya yang cenderung pemarah dan mendendam apabila ada yang menyakiti hatinya atau dia tersinggung oleh siapa pun. Terlebih dia pernah tersinggung oleh ibu saya, selama dia ingat dia pasti membahas itu dan bilang tak akan pernah melupakannya. Kadangkala dia selalu menyebut-nyebut kejelekan keluarga saya.

Saya amat merasa sedih apabila itu terjadi dan bila saya mencoba untuk menasehati dan meminta maaf untuk kesalahan apapun yang diperbuat oleh saya atau ibu saya, makin menjadi kemarahannya, dan selalu minta cerai. Apa yang harus saya lakukan, Bu? Terima kasih.

Assalammu’alaikum wr. wb.

Bapak MY yang penyabar,

Sedih rasanya, ya pak, jika segala konflik dalam rumah tangga selalu disikapi dengan hati yang panas dan permintaan cerai. Sebagai seorang suami tentulah dibutuhkan ekstra kesabaran untuk dapat bersikap bijak terhadap sikap isteri yang semacam itu. Nampaknya memang menjadi amanah Allah kepada bapak memiliki isteri yang sangat sensitif perasaannya sehingga amat mudah terluka hatinya.

Alhamdulillah, bahwa hak talaq diberikan kepada bapak sebagai seorang suami, sehingga berkali-kali isteri berkata cerai takkan berdampak kecuali bapak yang memutuskannya. Suasana hati isteri yang cepat naik darah memang akan menuntut kesabaran bapak untuk tidak selalu menanggapinya dengan serius. Mungkin kepribadian isteri yang sensitif membuat iapun menjadikan perasaan dan emosi yang mendominasinya, akibatnya kurang panjang dalam berpikir.

Bapak yang dirahmati Allah, Seorang wanita yang cenderung didominasi perasaan seringkali membutuhkan pendamping yang dapat menuntunnya berpikir jernih sehingga tidak mengambil keputusan yang emosional. Salah satu cara untuk menyikapi seseorang yang sedang dalam keadaan emosi adalah mencoba untuk mendengarkannya mengeluarkan dulu segala beban emosinya baru setelah itu kita dapat berbicara secara baik dengannya.

Hal tersebut tentu saja melelahkan, apalagi jika isteri menyampaikan emosinya dengan bahasa kasar dan menyakitkan. Oleh karenanya dalam keadaan tenang bapak dapat berdiskusi pada isteri tentang alternatif cara untuk membicarakan konflik tanpa harus saling berteriak dan mengumbar emosi. Untuk itu biasakan setiap hal yang menggelisahkan untuk dibicarakan sedikit-demi sedikit agar tidak membludak dan ledakannya lebih dahsyat dari gunung berapi.

Apalagi bagi seseorang yang pribadinya biasa menyimpan dulu banyak kekesalan dan ketika dikeluarkan menjadi tumpukan emosi yang meledak-ledak. Memiliki pasangan seperti ini memang tidak mudah, karenanya dibutuhkan kepala yang dingin dan hati yang dekat kepada Allah agar selalu dapat dituntun oleh-Nya dalam mengatasi emosi kita. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.