free hit counters
 

Anjing dan Kucing (1)

Al Furqan – Jumat, 24 Oktober 2014 14:00 WIB

dogandcatKenapa binatang? Harusnya saya juga bertanya balik bila pertanyaan ini ditujukan kepada saya karena menyediakan bab khusus yang membahas makhluk ALLAH ini. Sederhana saja, seorang mukmin seharusnya mampu mengenal Tanda-Tanda-Nya pada setiap ciptaan-Nya, termasuk binatang. Berapa banyak surat dalam Al Quran yang dinamai dengan nama binatang dan hal yang berkaitan dengan binatang.

Bukankah ALLAH sendiri tidak malu untuk membuat perumpamaan dengan hewan kecil seperti nyamuk sekalipun ? Surat apakah yang paling panjang dalam Al Quran bila bukan surat yang juga dinamakan dengan nama binatang ? Di manakah perkataan, „Apakah di samping ALLAH ada ilah?“ diulang-ulang, bila bukan pada Surat Semut, sehingga kadang membuat hati ini begitu sedih mengingat perilaku diri sehingga Dia Yang Maha Ahad pun harus menegaskan kembali apa yang sudah jelas, yaitu betapa hanya Dia Ilah Yang Satu.

Semy adalah teman setia Frau Weiergraeber. Frau Weiergraeber mengatakan bahwa anjing kecil berwarna putih dan lumayan berbulu ini termasuk Ras Malteser, dari Malta. Umurnya sudah lima tahun. Semy inilah yang paling banyak menemani Frau Weiergraeber mengisi hari tuanya. Saya kadang suka merasa lucu bila melihat Frau Weiergraeber mengobrol, bermain, dan memarahi Semy ini. Tetapi aneh, Semy seolah mengerti.

Bila saudaraku pernah membaca tulisan Ust. Daud Rasyid di Eramuslim mengenai tanda-tanda kehancuran peradaban barat yang salah satu tandanya adalah ketika kebanyakan dari mereka berteman dengan hewan, khususnya anjing, karena sudah sulitnya menemukan teman dari manusia, maka apa yang ada dalam tulisan itu begitulah yang saya lihat di Jerman ini.

Awal saya datang ke Jerman, melihat mereka sering bepergian dengan anjing, saya melihatnya sebagai bentuk kasih sayang mereka terhadap binatang. Tetapi seiring waktu memperhatikan kebiasaan orang Jerman, saya kemudian menyadari bahwa kasih sayang mereka terhadap binatang dikarenakan mereka sudah sulit menemukan kasih sayang itu dari manusia. Ya, itulah alasannya.

Suatu saat saya pernah menonton program TV bersama Frau Weiergraeber, temanya mengenai pertemanan orang Jerman dengan anjing. Ketika melihatnya perasaan saya bercampur antara sedih dan keyakinan yang bertambah yakin. Sedih karena apa yang saya lihat seolah bukanlah manusia yang mengisi kesehariannya sebagaimana fitrahnya, dan keyakinan yang bertambah yakin karena bagaimana mau mengharapakan bangsa yang sedemikian untuk menjadi umat penyelamat di akhir zaman, menyelamatkan diri mereka sendiri pun mereka seolah sudah bingung caranya.

Anjing mereka dandani layaknya manusia, berbaju, berkaca mata, punya rumah, mainan, dan makanan yang khusus disajikan untuk mereka. Bagi mereka yang punya banyak harta, maka sikap mereka terhadap anjing teman mereka ini malah lebih menyedihkan lagi.

Tidur mereka bersama anjing. Tempat mandi anjing pun adalah tempat mandi mereka. Mulut anjing yang baru saja selesai menyantap makanan pun mereka cium sebagai bentuk pertemanan mereka dengan anjing. Mereka mengobrol dengan anjing seolah sedang mengobrol dengan manusia. Mereka berkasih sayang dengan anjing seolah menunjukkan beginilah mereka bisa berkasih sayang seandainya ada teman itu bagi mereka dari manusia.

Bahkan saya sempat melihat bagaimana seorang wanita Jerman pun menyusui anjing, seolah mereka sedang menyusui bayinya. Saudaraku, adakah ucapan di hati selain istighfar? Bagaimana ini bisa terjadi pada manusia? Frau Weiergraeber saja mengeluarkan komentar “verruckt[1]!“ ketika melihat tayangan ini.

Sungguh saya melihat wajah yang sepintas terlihat bahagia tetapi wajah mana yang sanggup menyembunyikan bila kehampaan itu sudah jelas dirasakannya dan tentu saja terpancar pada orang-orang yang melihatnya. Orang-orang yang berteman dengan anjing ini memang sekilas terlihat mereka bahagia dengan pertemanan mereka dengan sang binatang, tetapi saudaraku, saya sudah pernah menerima langsung kejujuran dari seorang Frau Weiergraeber yang sehari-hari berteman dengan anjing, tetapi saat saya harus berpisah dengannya, maka dengan mata yang berkaca-kaca, ia katakan bahwa ia tidak punya teman, anak-anaknya sendiri lebih sering melupakannya, dan apakah itu tidak menunjukkan secara nyata betapa anjing hanyalah jawabannya atas masalahnya? (Bersambung)

Catatan :

[1] Gila!

Kisah Terbaru

blog comments powered by Disqus